Bisnis & Ekonomi

Sentimen El Niño Memicu Pelepasan Saham ADRO: UBS dan BNI Jual Besar pada 2 September

×

Sentimen El Niño Memicu Pelepasan Saham ADRO: UBS dan BNI Jual Besar pada 2 September

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Tersengat Isu El Niño, Saham ADRO Dijual Banyak Broker - Market

jurnalistik.co.id – Perdagangan saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) pada Rabu, 2 September 2026, mencatat tekanan jual yang cukup menonjol dari sejumlah perusahaan sekuritas. Aksi pelepasan saham itu muncul di tengah sentimen yang dikaitkan dengan gangguan pengiriman batu bara akibat fenomena El Niño.

Di akhir sesi, ADRO ditutup pada level Rp2.650 per saham. Harga tersebut turun 4,68% dibanding posisi hari sebelumnya, menegaskan bahwa sentimen yang sama ikut membebani pergerakan emiten pada hari tersebut.

Menurut catatan transaksi pada hari perdagangan kemarin, sejumlah broker terus melepas saham ADRO secara masif. Aktivitas jual tersebut tercermin pada harga rata-rata penjualan dan besaran nilai transaksi bersih dari masing-masing pelaku yang disebutkan.

ADRO melorot seiring sentimen El Niño

Pelemahan ADRO pada 2 September 2026 terjadi dalam konteks sentimen gangguan distribusi batu bara. Dalam pemberitaan, gangguan itu dikaitkan dengan terimbasnya rantai pengiriman oleh fenomena El Niño.

Dengan penutupan di Rp2.650 per saham, pergerakan ADRO menunjukkan ambrol yang cukup terasa pada satu hari bursa. Penurunan tersebut juga sejalan dengan intensitas aksi jual yang terlihat dari transaksi para broker selama sesi berjalan.

Harga rata-rata jual yang tercatat dari transaksi sejumlah sekuritas memperlihatkan bahwa pelepasan saham dilakukan pada kisaran harga yang relatif dekat dengan level penutupan. Hal ini menggambarkan bahwa tekanan jual tidak hanya muncul sebagai sentimen, tetapi juga tercermin dalam keputusan transaksi harian.

UBS Sekuritas paling agresif melepas ADRO

Dari daftar broker yang paling banyak menjual saham ADRO pada perdagangan 2 September 2026, UBS Sekuritas (AK) menjadi yang paling getol. Harga rata-rata transaksi jual UBS tercatat berada di Rp2.666 per saham.

UBS juga mencatat net value atau transaksi bersih traders melalui UBS Sekuritas Indonesia sebesar lebih dari Rp56 miliar dalam satu hari perdagangan. Besaran tersebut menjadi indikator bahwa sebagian tekanan jual pada hari itu paling menonjol berasal dari aktivitas UBS.

Setelah UBS, BNI Sekuritas (IH) juga muncul sebagai salah satu broker dengan penjualan cukup besar. BNI Sekuritas mencatat net value transaksi bersih sebesar Rp17,87 miliar, dengan harga rata-rata jual di Rp2.675 per saham.

Perbedaan nilai net dan harga rata-rata di antara kedua broker tersebut menegaskan bahwa pelepasan saham ADRO pada hari itu tidak terjadi secara seragam, melainkan mengikuti dinamika transaksi masing-masing pihak selama sesi berlangsung.

Maybank, Macquarie, dan BRI Danareksa ikut melepas

Selain UBS dan BNI Sekuritas, sejumlah broker lain juga tercatat aktif melepas saham ADRO. Maybank Sekuritas berada pada daftar dengan net value transaksi bersih sebesar Rp15,1 miliar dan harga rata-rata jual Rp2.656 per saham.

Macquarie Sekuritas turut menyumbang nilai penjualan yang tercatat dalam data, dengan net value sebesar Rp14,77 miliar. Untuk harga rata-rata jual, Macquarie disebutkan melakukan transaksi pada kisaran Rp2.664 per saham.

Di posisi berikutnya, BRI Danareksa Sekuritas mencatat net value transaksi bersih sebesar Rp12,1 miliar. Harga rata-rata jual yang tercatat untuk broker ini adalah Rp2.647 per saham.

Secara keseluruhan, kelima broker yang disebutkan menunjukkan aktivitas pelepasan yang cukup dominan pada satu hari perdagangan. Rangkuman besaran net value dan harga rata-rata jual dari masing-masing broker membantu menggambarkan bahwa tekanan pada saham ADRO tidak hanya berasal dari satu pelaku, melainkan terlihat sebagai rangkaian aksi jual dari beberapa sekuritas.

Dengan ADRO yang ditutup turun 4,68% ke Rp2.650 per saham, intensitas transaksi jual dari broker-broker tersebut menjadi bagian penting dalam narasi pergerakan harga pada 2 September 2026. Sentimen yang dikaitkan dengan gangguan pengiriman batu bara akibat El Niño disebut sebagai latar yang ikut memengaruhi kondisi pasar pada hari itu.

Data transaksi bersih dan harga rata-rata jual yang tercantum dalam pemberitaan memperkuat bahwa aksi jual berlangsung pada sesi yang sama dan tercermin dalam hasil penutupan saham. Pada akhirnya, ADRO mencerminkan respons pasar yang ketat pada hari tersebut, seiring fokus perhatian pada sentimen gangguan pengiriman batu bara.