jurnalistik.co.id – Ekonom menilai target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan pemerintah mencapai 8% merupakan angka yang sangat ambisius. Menurut mereka, untuk mengejarnya diperlukan sumber pertumbuhan baru yang selama ini belum digarap secara serius.
Pernyataan itu disampaikan Esther Sri Astuti, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026 di Jakarta pada Kamis (3/9/2026). Ia menilai jarak antara target dan capaian historis masih lebar, sehingga upaya ekstra menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan.
Esther menyebut rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode 2021 hingga 2025 hanya berkisar 4,8%. Dengan demikian, terdapat kesenjangan yang nyata antara realitas yang terjadi dan target 8% yang ingin dicapai.
Butuh sumber pertumbuhan di luar pola lama
Dalam pidatonya, Esther menekankan bahwa target setinggi 8% tidak bisa ditempuh dengan cara konvensional. Ia menggarisbawahi perlunya dorongan tambahan melalui pendekatan dan sumber ekonomi yang selama ini belum menjadi fokus utama.
“Berarti ada gap (kesenjangan). Kalau kita bicara pertumbuhan ekonomi 8% tentu kita butuh extra effort dan cari sumber pertumbuhan ekonmi baru, tidak hanya konvensional,” kata Esther dalam acara tersebut.
Gagasan inti dari pernyataan itu adalah adanya kebutuhan untuk mengubah konfigurasi pendorong pertumbuhan. Jika hanya mengandalkan pola yang sudah ada, target yang lebih tinggi berisiko sulit terwujud secara konsisten.
Esther juga memperluas penjelasan bahwa tantangan ekonomi tidak sepenuhnya bersumber dari kondisi di dalam negeri. Ia menilai dinamika eksternal global turut memengaruhi ruang gerak kebijakan dan kinerja ekonomi nasional.
Ia mencontohkan situasi konflik geopolitik serta fragmentasi perdagangan sebagai faktor eksternal yang perlu diantisipasi. Kombinasi faktor eksternal dan internal, menurutnya, menuntut pemerintah menyiapkan strategi yang berlapis dan adaptif.
Berita Terkait
Fiskal dan penerimaan pajak, dua sisi yang perlu diselaraskan
Dari sisi fiskal, Esther menyampaikan pertumbuhan belanja negara mencapai 11%. Namun, pada saat yang sama, penerimaan perpajakan disebut hanya tumbuh 3%, sehingga terdapat perbedaan kecepatan antara belanja dan pemasukan.
Perbedaan tersebut menjadi sinyal bahwa dorongan belanja perlu diiringi oleh penguatan sisi penerimaan agar dukungan fiskal tetap berkelanjutan. Dengan struktur seperti itu, pemerintah perlu memastikan kebijakan belanja dan pemungutan pajak bergerak dalam arah yang selaras.
Keberlanjutan dukungan fiskal juga penting karena target pertumbuhan yang lebih tinggi mensyaratkan penguatan transmisi belanja ke aktivitas ekonomi. Jika penerimaan tidak mengimbangi, ruang untuk menjaga kesinambungan program dapat ikut terpengaruh.
Dalam kerangka pemikiran tersebut, Esther memandang strategi yang disiapkan pemerintah harus menjawab dua tantangan sekaligus. Tantangan pertama datang dari gap capaian historis menuju 8%.
Tantangan kedua muncul karena kondisi global yang tidak stabil, yang dapat mengganggu ritme perdagangan dan lingkungan investasi. Karena itu, respons kebijakan tidak cukup hanya berbasis asumsi optimistis terhadap kondisi ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan ketidakpastian eksternal.
Dengan kata lain, target 8% menuntut upaya ekstra untuk menemukan sumber pertumbuhan baru, sekaligus memastikan stabilitas kebijakan tetap terjaga. Pemerintah perlu merancang langkah yang mampu menutup jarak antara angka yang ditargetkan dan pertumbuhan yang selama ini tercapai.
Melalui penjelasan itu, Esther menegaskan bahwa mengejar pertumbuhan lebih tinggi membutuhkan energi tambahan yang tidak identik dengan kebijakan yang sudah biasa dilakukan. Ia menempatkan tambahan usaha, pencarian sumber pertumbuhan baru, dan kesiapan menghadapi faktor eksternal sebagai tiga elemen yang saling terkait.
Pada akhirnya, diskusi mengenai target 8% tidak berhenti pada angka dan target semata. Tantangannya terletak pada kemampuan strategi untuk menghasilkan percepatan pertumbuhan yang nyata, terukur, dan dapat bertahan di tengah dinamika ekonomi domestik serta tekanan global yang terus berubah.












