Bisnis & Ekonomi

Rupiah Tertekan di Awal Perdagangan, Kemudian Bangkit

×

Rupiah Tertekan di Awal Perdagangan, Kemudian Bangkit

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Sempat Terpeleset, Rupiah Berhasil Bangkit - Market

jurnalistik.co.id – Rupiah memulai perdagangan awal September dengan melemah tipis, lalu berbalik arah dan menguat. Pergerakan itu terjadi di tengah menguatnya mata uang acuan global dan kembali naiknya harga minyak.

Pada awal sesi, rupiah tercatat turun 0,01% ke level Rp17.721 per US$. Kondisi ini muncul saat harga minyak bergerak lebih tinggi dan pelaku pasar menunggu rilis data ekonomi yang dinilai belum memberikan sinyal positif.

Di pasar komoditas, Brent menguat 0,66% ke US$91,09 per barel. Kenaikan tersebut sejalan dengan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz.

Sementara itu, penguatan juga terlihat pada indeks dolar AS yang naik ke 99,45. Di belakangnya ada ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan The Fed, yang membuat posisi di dolar tetap mendapat dukungan.

Sentimen hawkish dari The Fed turut mendorong kenaikan imbal hasil di pasar US Treasury, terutama untuk tenor panjang. Komentar hawkish Gubernur The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole menjadi salah satu pemicu respons tersebut.

Di pasar obligasi AS, yield US Treasury tenor 10 tahun naik 5,8 basis poin menjadi 4,77%. Untuk tenor 20 tahun, yield bergerak naik 6,7 basis poin ke level 5,27%.

Dengan kombinasi kenaikan minyak dan penguatan imbal hasil di AS, sejumlah mata uang di kawasan Asia ikut tertekan pada sesi pembuka. Mayoritas bergerak melemah, mencerminkan tekanan dari arus modal dan penyesuaian portofolio seiring menguatnya dolar.

Ringgit Malaysia memimpin pelemahan di antara mata uang regional, turun 0,26%. Setelah itu, won Korea Selatan melemah 0,15% dan pergerakan serupa juga tampak pada peso Filipina, baht Thailand, dolar Singapura, serta yuan offshore.

Tekanan juga terlihat pada yen Jepang, dolar Hong Kong, hingga yuan China. Di bagian lain kawasan, respons pasar tidak seragam karena perbedaan aliran modal turut membentuk arah pergerakan masing-masing mata uang.

Di tengah tren melemah tersebut, hanya dolar Taiwan yang mampu bertahan dengan menguat 0,21%. Penguatan itu disebut tertopang arus modal masuk ke pasar saham domestiknya, sehingga dolar Taiwan mendapat dukungan relatif dibanding mata uang Asia lain.

Meski rupiah sempat berada di awal pelemahan, arah pergerakan kemudian berubah. Rupiah akhirnya berhasil bangkit dan berbalik menguat setelah tekanan awal mereda.

Perubahan arah ini mencerminkan dinamika lanjutan di pasar valuta, ketika pelaku pasar menilai ulang dampak faktor eksternal sepanjang sesi. Di saat yang sama, kombinasi pergerakan dolar dan imbal hasil tetap menjadi latar utama yang memandu sentimen transaksi di kawasan.

Secara keseluruhan, pembukaan perdagangan awal September memperlihatkan rupiah bergerak dalam koridor yang dipengaruhi faktor global. Kenaikan minyak terkait ketegangan Timur Tengah, penguatan dolar AS, serta bias hawkish The Fed menjadi rangkaian pemicu yang menekan di awal, sebelum rupiah kemudian mengoreksi posisi dan kembali menguat.

Menjelang perdagangan berjalan, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh cara pelaku pasar memetakan arah kebijakan moneter AS. Ketika imbal hasil bergerak naik, dolar mendapat dorongan tambahan, sehingga mata uang berbasis Asia cenderung mengalami penyesuaian posisi. Dalam kerangka itu, perubahan harga minyak menjadi penguat sentimen yang sempat membuat rupiah lebih mudah tertekan di awal.

Namun seiring respons pasar mereda, arus yang mendorong mata uang regional tidak berjalan dalam satu arah yang sama. Kondisi ini terlihat dari dinamika lanjutan di mana rupiah akhirnya beralih dari pelemahan menuju penguatan. Pada saat yang sama, indeks dolar tetap menjadi rujukan utama, sementara kenaikan yield AS memberikan latar yang menentukan prioritas transaksi di kawasan hingga akhir sesi pembuka.