Bisnis & Ekonomi

Victoria Beckham Holdings Catat Laba Operasional Pertama Setelah 18 Tahun, Rp? (£7,3 Juta di 2025)

×

Victoria Beckham Holdings Catat Laba Operasional Pertama Setelah 18 Tahun, Rp? (£7,3 Juta di 2025)

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Victoria Beckham's company makes its first profit after 18 years

jurnalistik.co.id – Victoria Beckham Holdings Ltd mencatat laba operasional pertamanya setelah 18 tahun berdiri, menandai titik balik bagi bisnis fashion dan kecantikan yang sejak lama mengalami kerugian.

Perusahaan yang dipimpin Victoria Beckham sebagai creative director tersebut membukukan operating profit sebesar £7,3 juta pada 2025, menurut akun yang dirilis.

“We have all worked hard for a long time for this moment of profitability and growth,” kata Lady Beckham kepada Financial Times. Ia juga menegaskan perusahaan telah terbuka soal masalah yang pernah dihadapi, lalu “telah pulih” dan kini tumbuh pada tempo yang dinilai wajar.

Lady Beckham menambahkan, “After 20 years, people don’t look at my brand as a celebrity brand any more.” Ia menyatakan pencapaian laba ini datang setelah proses panjang agar mereknya dipandang lebih serius di luar label figur publik.

Momentum dari industri fashion dan dorongan dari dokumenter Netflix

Catatan perusahaan menyebut, tahun lalu sebuah dokumenter Netflix mengangkat perjalanan Victoria Beckham saat membangun brand fesyen dan mengejar profitabilitas. Menurut akun, kemunculan serial tersebut turut membantu penjualan, dengan “momentum yang khusus kuat” pada produk denim dan jersey.

Dari sisi fesyen, perusahaan melaporkan “strong double-digit growth” secara keseluruhan pada 2025. Di saat bersamaan, bagian kecantikan yang diluncurkan pada 2019 juga mencatat kinerja yang dinilai sebagai salah satu yang terkuat hingga saat ini.

Menurut akun, performa tersebut dipimpin oleh popularitas Foundation Drops. Produk ini disebut memiliki waiting list sekitar 25.000 orang dan dinyatakan turut menggandakan ukuran segmen skincare dalam perusahaan.

Perjalanan saat harus melewati masa sulit

Dokumenter Netflix juga menampilkan Victoria Beckham berbicara mengenai upaya mengatasi keraguan agar diterima sebagai perancang busana dan wirausahawan. Dalam proses tersebut, perusahaan menghadapi kesulitan keuangan ketika catatannya “tens of millions in the red.”

Penyelamatan finansial datang dari suaminya, Sir David. Dalam program tersebut ia berkata, “For her to have to come to me and say, ‘Can I have some… We need some more money, the business needs more money’ – that was hard for both of us because I didn’t have the money to keep doing this.”

Lady Beckham kemudian menanggapi dengan menyatakan bahwa kepercayaan Sir David menjadi penopang keberlangsungan bisnisnya. Ia mengatakan, “If he hadn’t believed in me I wouldn’t still have a business now.”

Investasi, restrukturisasi, dan perbaikan efisiensi

Langkah permodalan juga disebut menjadi bagian dari proses perputaran. Victoria Beckham memperoleh investasi sebesar £30 juta setelah menjual 30% saham perusahaan kepada NEO Investment Partners pada 2017, yang kemudian menjalankan restrukturisasi.

Restrukturisasi itu termasuk upaya menekan pemborosan yang diakui Beckham sebagai sesuatu yang “mindblowing”. Contohnya, akun menyebut adanya kebiasaan “flying chairs from one side of the world to another” dan pengeluaran sekitar £70.000 per tahun untuk tanaman di kantor, seperti yang diungkap oleh David Belhassen dari NEO.

Dalam pernyataan pada Senin, Belhassen—yang menjabat sebagai chairman Victoria Beckham Holdings—menyampaikan bahwa perusahaan kini memiliki “dua mesin pertumbuhan yang saling melengkapi” di bidang fashion dan beauty. Ia juga menyebut adanya basis pelanggan yang makin internasional serta operating model yang terfokus membuat bisnis berada pada posisi kuat untuk fase berikutnya dari pertumbuhan yang menghasilkan laba.

CEO Sybille Darricarrère Lunel menilai pencapaian ini sebagai tonggak penting bagi perusahaan. “Achieving our first operating profit is a landmark moment for Victoria Beckham and reflects several years of disciplined execution and strategic investment,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa hasil ini dicapai “against a more challenging luxury market and macro backdrop,” sehingga menjadi milestone yang lebih signifikan bagi bisnis.

Dengan laba operasional untuk pertama kalinya sejak 2008, perusahaan kini menegaskan langkahnya memasuki fase pertumbuhan yang lebih berkelanjutan—sekaligus memberi sinyal bahwa pemulihan yang terjadi bertahun-tahun sebelumnya telah berbuah pada 2025.