jurnalistik.co.id – Perseroan mode cepat bersiap menghadapi babak baru setelah beberapa tahun terakhir menyisakan banyak keraguan dari sisi regulasi, keberlanjutan, dan etika. Pada saat minat investor makin selektif, satu nama besar kembali diuji lewat jalur pencatatan saham.
Shein dijadwalkan memulai debutnya di bursa Hong Kong pada Selasa, setelah proses panjang menuju status perusahaan publik. Langkah ini mengikuti rangkaian upaya go public yang sebelumnya menemui hambatan di Amerika Serikat dan Inggris.
Perjalanan tersebut tidak lepas dari kontroversi yang berulang kali muncul ke permukaan. Kritik menyasar praktik ketenagakerjaan serta dampak lingkungan yang dinilai menjadi bagian dari tantangan model bisnis perusahaan.
Nilai Shein yang dulu sempat diperkirakan mendekati 100 miliar dolar AS kini disebut berada pada kisaran seperempat dari angka itu. Penilaian terbaru ini mencerminkan tekanan yang datang dari kompetisi yang makin ketat serta ketidakpastian terkait arus perdagangan global.
Menjelang pencatatan, perusahaan menetapkan harga saham di bawah batas atas rentang yang dipromosikan. Pada Senin, Shein mengumumkan penggalangan dana sebesar 13,6 miliar dolar Hong Kong (setara 1,7 miliar dolar AS; 1,3 miliar poundsterling), yang kemudian menghasilkan valuasi pasar sebesar 26,3 miliar dolar AS.
Shein kini menjadi pemain e-commerce mode yang beroperasi lintas negara. Perusahaan berdiri di China, namun berkantor pusat di Singapura, dengan jaringan belanja online yang melayani lebih dari 150 negara.
Dalam dokumen yang disiapkan sebelum pencatatan, Shein menyebut memiliki 281 juta pelanggan aktif. Perusahaan juga mencatat total lebih dari satu miliar pesanan dalam periode hingga akhir Maret 2026.
Uji pasar untuk industri mode cepat
Debut ini dipandang sebagai momen yang rumit bagi investor karena kinerja perusahaan sejenis mulai dipertanyakan. Louise Deglise-Favre dari GlobalData menilai suasan pasar sedang berubah, sementara skeptisisme terhadap prospek fast-fashion makin menguat.
Pencatatan di Hong Kong juga dilihat sebagai penjualan saham baru terbesar yang terjadi di kota tersebut hingga tahun ini. Deglise-Favre menyebut Shein sebagai e-commerce yang relatif āberdiri sendiriā, sehingga evaluasi investor dapat berangkat dari karakter bisnis perusahaan tanpa banyak pembauran dari segmen lain.
Di sisi pesaing, nama-nama seperti Asos dan Boohoo beberapa tahun terakhir mengalami tekanan. Mereka harus menghadapi sorotan regulasi sekaligus pertarungan yang ketat di pasar.
Menurut Deglise-Favre, investor ātelah belajar untuk bersikap skeptisā. Di tengah kekhawatiran soal keberlanjutan dan isu etika, penjualan saham Shein menjadi lebih kompleks untuk dinilai.
Upaya go public yang memantul dari penolakan
Jalur Shein menuju bursa juga terkait konteks geopolitik dan pengawasan regulasi bagi perusahaan asal China yang memiliki ambisi global. Pada masa awal, perusahaan bahkan sempat dipandang berpotensi menjadi salah satu debut saham terbesar dari perusahaan China.
Ketika pandemi Covid-19 melanda, bisnis Shein sempat melonjak karena pergeseran belanja ke ranah online. Tren āShein Haulsā, yakni video pelanggan yang mencoba berbagai produk, turut mendorong visibilitas perusahaan di internet.
Berita Terkait
Rencana penawaran umum perdana (IPO) di Amerika Serikatāyang merupakan pasar terbesar Sheinādinilai bisa memperluas profil global sekaligus membuka akses pembiayaan dari investor Barat. Namun, langkah tersebut menghadapi penolakan dari sejumlah anggota parlemen AS yang keberatan atas rencana pencatatan terkait kekhawatiran kerja paksa di pabrik.
Menanggapi tuduhan tersebut, Shein menyatakan memiliki kebijakan ātoleransi nolā terhadap kerja paksa. Perusahaan juga menghadapi tuduhan lain terkait peniruan gagasan dari perancang lain, dan Shein menyebut serius menanggapi klaim pelanggaran serta menghormati hak para desainer.
Shein juga pernah mempertimbangkan debut saham di London, tetapi mendapat penolakan serupa. BBC melaporkan telah menghubungi pihak Shein untuk tanggapan lanjutan.
Peralihan ke Hong Kong dan narasi yang dibangun
Pada tahun 2025, fokus Shein bergeser ke Hong Kong. Otoritas China kemudian menyetujui langkah tersebut pada bulan Juli.
Ashley Dudarenok, pendiri perusahaan riset pasar ChoZan, menyatakan bahwa perusahaan ākehabisan tempatā yang dapat menerima pencatatan. Menurutnya, Shein sempat mencoba memberi kesan lebih ātidak terlalu Chinaā dengan memindahkan kantor pusat ke Singapura sebelum mengajukan IPO, namun tidak memperoleh dukungan politik yang memadai di luar negeri maupun kepastian dari Beijing.
Deglise-Favre menambahkan bahwa bagi perusahaan China yang makin tertutup dari bursa di Barat, Hong Kong berkembang menjadi jalur yang relatif paling realistis untuk masuk ke pasar saham. Peralihan ini terjadi bersamaan dengan kemunculan publik yang jarang dari pendiri Shein, Xu Yangtian, pada Februari di sebuah konferensi bisnis utama di Guangdong.
Dalam kesempatan tersebut, Xu tampil di panggung untuk menegaskan kembali hubungan perusahaannya dengan Beijing. Ia juga berjanji akan melakukan investasi di industri pakaian China, sembari menyebut āpasokan/nutrisiā dari negara itu sebagai bagian yang ātidak terpisahkanā dari keberhasilan Shein.
Angin kencang di depan
Namun, rintangan yang dihadapi Shein saat ini berbeda dari kondisi ketika perusahaan pertama kali menimbang IPO. Tekanan berupa ketegangan perdagangan dan kekhawatiran regulasi mengubah lanskap bisnis.
Pada bulan Juli, perusahaan melaporkan rugi kuartalan sebesar 99 juta dolar AS, sejalan dengan melambatnya penjualan setelah AS mencabut pengecualian bea masuk untuk paket kecil. Pengecualian itu dikenal sebagai aturan de minimis, yang sebelumnya memungkinkan paket bernilai kurang dari 800 dolar AS masuk ke AS tanpa dikenai bea.
Uni Eropa juga menerapkan pajak 3 euro (setara 2,57 poundsterling; 3,50 dolar AS) untuk impor bernilai rendah. Shein menyebut perang di Iran turut menekan permintaan, menaikkan biaya, serta menyebabkan keterlambatan pengiriman di sejumlah pasar.
Tekanan serupa juga dirasakan kompetitor. Pada bulan Agustus, PDDāpemilik Temuāmelaporkan pendapatan kuartalan yang lebih rendah dari perkiraan. Selain itu, Shein disebut sedang diselidiki regulator AS dan Uni Eropa terkait praktik bisnisnya.
Meskipun menghadapi tantangan tersebut, beberapa analis masih melihat ruang pertumbuhan. Deglise-Favre menyatakan investor akan menilai seberapa jauh Shein mampu merespons isu-isu ini, termasuk kemungkinan memindahkan logistik keluar dari China untuk menghindari biaya impor AS dan UE.
Penurunan valuasi menunjukkan adanya kemunduran yang nyata, tetapi Shein tetap ditopang oleh ārantai pasokā yang kuat dan jangkauan global, kata Deglise-Favre. Dudarenok menambahkan bahwa konsumen masih membeli produk perusahaan, namun beban biaya telah menekan performa, sementara model bisnisnya tidak lagi menghasilkan profit seperti pada fase sebelumnya.
Sebagai perusahaan yang kelak resmi tercatat, Shein perlu membuktikan bahwa margin tetap bekerja di dunia dengan regulasi yang lebih ketat, tarif, dan biaya perolehan pelanggan yang makin mahal. Dengan ukuran dan sejarah yang besar, pasar pun akan menunggu jawaban apakah strategi harga dan skalanya masih cukup untuk menyalakan performa.












