Bisnis & Ekonomi

Minyak, Gas, dan Biaya Pinjaman Melonjak di Tengah Ketegangan Timur Tengah

×

Minyak, Gas, dan Biaya Pinjaman Melonjak di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Oil, gas and borrowing costs surge as fears over Middle East escalate

jurnalistik.co.id – Harga minyak, gas, serta biaya pinjaman ikut melonjak seiring kekhawatiran bahwa ketegangan di Timur Tengah akan berlangsung lebih lama dari perkiraan. Tekanan dari konflik yang semakin menguat di kawasan Teluk juga memicu kenaikan ekspektasi inflasi dan mengguncang pasar keuangan.

Di sisi minyak, biaya bahan bakar mentah naik tajam dalam beberapa hari terakhir. Pada Rabu, harga minyak mentah menembus level di atas 100 dolar per barel, sebelum kemudian mencapai 105 dolar per barel pada Kamis.

Lonjakan ini berkaitan dengan dampak perang yang membuat jalur strategis menjadi “tertutup secara efektif”. Penutupan efektif Selat Hormuz mencegah pasokan minyak dan gas dari kawasan Teluk mengalir ke pasar global.

Kondisi tersebut tidak berhenti pada komoditas. Kekhawatiran atas inflasi yang bisa bergerak lebih cepat ikut mendorong imbal hasil obligasi di Inggris ke posisi tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.

Sejalan dengan itu, Presiden Trump menyampaikan pandangannya saat berbicara di konvensi Partai Republik di Texas pada Rabu. Ia mengatakan tidak meyakini pertempuran akan berakhir sebelum setelah pemilihan paruh waktu (mid-term elections) AS pada November.

Tekanan serupa juga terasa pada pasar gas. Harga gas alam justru semakin meningkat di pasar grosir, memperlihatkan bahwa beban biaya energi bukan hanya berada pada minyak, melainkan juga merembet ke komponen lain dalam rantai pasokan.

Di Inggris, harga gas melewati angka 200 pence per therm untuk pertama kalinya sejak akhir 2022. Pergerakan ini terjadi bersamaan dengan stok yang berada pada level jauh lebih rendah dibanding kondisi normal untuk waktu yang sama dalam setahun.

Rendahnya stok menambah urgensi untuk mengisi cadangan menjelang musim dingin. Kebutuhan tersebut ikut mendorong harga tetap tinggi, sementara konsumen menghadapi tantangan ketika periode mahal berlangsung lebih lama.

Pemerintah Inggris melalui Ofgem memiliki “price cap” yang menjaga lonjakan jangka pendek di pasar gas grosir. Namun, apabila harga tetap tinggi dalam waktu yang lebih panjang, rumah tangga tetap berpotensi menghadapi tagihan yang lebih mahal.

Batas harga yang berlaku sudah dijadwalkan naik sebesar 3,6% pada awal Oktober. Perubahan berikutnya direncanakan pada Januari, sehingga beban biaya berpotensi bergeser mengikuti penyesuaian kebijakan tersebut.

Kenaikan biaya energi kemudian kembali menguatkan kekhawatiran akan terjadinya lonjakan inflasi. Pada akhirnya, ekspektasi tersebut ikut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara.

Untuk Inggris, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun berada pada level tertinggi sejak 2007. Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor 20 dan 30 tahun menunjukkan level yang tidak terlihat sejak 1998.

Bagi pemerintah, gambaran ini mengarah pada biaya pinjaman yang lebih mahal, pada saat keuangan publik juga tengah berada di bawah tekanan. Dengan biaya pendanaan yang meningkat, ruang fiskal bisa semakin terbatas dalam menutup kebutuhan belanja dan pembiayaan.

Dampaknya tidak hanya berhenti di anggaran negara. Kenaikan biaya pinjaman juga dapat memberi efek langsung pada rumah tangga, karena memengaruhi suku bunga yang dibayarkan konsumen untuk sejumlah produk keuangan, termasuk KPR dengan skema bunga tetap (fixed-rate mortgages).

Secara keseluruhan, rangkaian kenaikan di minyak, gas, dan pasar obligasi menunjukkan bagaimana eskalasi ketegangan di Timur Tengah dengan cepat menular ke berbagai sektor. Jika konflik dinilai belum akan segera mereda, kekhawatiran pasar akan terus menjadi penentu arah harga dan biaya pendanaan ke depan.

Transmisi dampaknya terlihat dari rantai yang saling terhubung: ketika minyak dan gas terhambat karena penutupan efektif jalur Teluk, pelaku pasar cenderung menyesuaikan proyeksi inflasi dan risiko. Penyesuaian itu kemudian tercermin pada pergeseran imbal hasil obligasi sebagai sinyal biaya pendanaan yang makin mahal.

Di saat yang sama, kebijakan penahan harga gas di Inggris hanya menekan volatilitas jangka pendek. Karena batas harga dijadwalkan naik 3,6% pada awal Oktober dan penyesuaian berikutnya pada Januari, konsumen bisa tetap menghadapi tagihan yang lebih tinggi jika harga pasar tidak kembali turun, termasuk melalui tekanan suku bunga pada produk keuangan seperti KPR fixed-rate.