Bisnis & Ekonomi

Survei Bloomberg: Ekonomi RI Kuartal IV-2026 Diproyeksikan Tumbuh 4,85%

×

Survei Bloomberg: Ekonomi RI Kuartal IV-2026 Diproyeksikan Tumbuh 4,85%

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Survei Bloomberg: Ekonomi RI Kuartal IV Diperkirakan Tumbuh 4,85% - Market

jurnalistik.co.id – Prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada akhir 2026 diperkirakan mengalami pelemahan tipis dibandingkan proyeksi sebelumnya. Dalam survei ekonomi terbaru Bloomberg, Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV-2026 diproyeksikan tumbuh 4,85% secara tahunan (yoy), turun dari estimasi periode sebelumnya sebesar 4,9%.

Penyesuaian ini memang tidak besar, hanya berbeda 0,05 poin persentase. Meski demikian, revisi tersebut muncul ketika kondisi ekonomi domestik mulai memasuki fase yang dinilai makin menantang.

Pembacaan survei menunjukkan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah belum sepenuhnya mereda. Di saat yang sama, ekspektasi inflasi dinilai meningkat, sehingga dinamika harga dan daya beli cenderung lebih sulit terkendali dibanding proyeksi sebelumnya.

Ruang untuk mengandalkan kebijakan moneter juga diperkirakan makin terbatas. Dengan kombinasi faktor tersebut, pertumbuhan pada paruh akhir 2026 diperkirakan melambat dibandingkan perkiraan sebelumnya, tanpa harus mengubah arah besar proyeksi tahunan.

Bloomberg juga mengindikasikan bahwa perlambatan berpotensi berlanjut hingga awal tahun berikutnya. Untuk kuartal I-2027, ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh 4,8%, lebih rendah dibanding estimasi sebelumnya yang berada di angka 4,9%.

Secara tahunan, pola revisi ini menggambarkan bahwa momentum pertumbuhan menghadapi tekanan lanjutan dalam beberapa kuartal mendatang. Namun, survei yang sama menyatakan bahwa perkembangan pada level pertumbuhan sepanjang 2026 masih berada pada kisaran yang relatif stabil.

Meski terjadi perlambatan secara kuartalan, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 belum mengalami perubahan pada kisaran sekitar 5,2% seperti yang tercantum dalam survei sebelumnya. Dengan kata lain, penurunan proyeksi untuk kuartal IV-2026 dan kuartal I-2027 tidak langsung menggeser angka pertumbuhan tahunan yang lebih luas.

Faktor tekanan yang disebut dalam survei

Dalam penjelasannya, survei Bloomberg menyoroti beberapa kondisi yang mempengaruhi lintasan ekonomi. Pertama, tekanan pada nilai tukar rupiah disebut belum sepenuhnya hilang, yang berimplikasi pada stabilitas biaya impor dan ekspektasi pasar terhadap inflasi.

Kedua, ekspektasi inflasi dinilai makin tinggi. Kenaikan ekspektasi ini dapat memperkuat sensitivitas harga-harga kebutuhan dan mendorong pelaku usaha serta rumah tangga untuk menyesuaikan perilaku konsumsi maupun perencanaan biaya.

Ketiga, survei juga menekankan bahwa ruang kebijakan moneter semakin terbatas. Kondisi tersebut membuat langkah penyesuaian kebijakan cenderung harus mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan menjaga stabilitas harga dan dampaknya terhadap aktivitas ekonomi.

Ketika faktor-faktor tersebut bertemu, pertumbuhan ekonomi pada periode akhir tahun diperkirakan tidak sepenuhnya kembali ke lintasan yang diproyeksikan sebelumnya. Revisi angka yang terjadi, meski tipis, mencerminkan penilaian kolektif terhadap tantangan yang berlangsung.

Secara keseluruhan, survei Bloomberg menghadirkan gambaran bahwa dinamika pertumbuhan Indonesia bergerak menuju fase yang lebih moderat dalam beberapa kuartal ke depan. Perubahan angka pada basis yoy untuk kuartal IV-2026 dan kuartal I-2027 menjadi penanda penting atas kecenderungan tersebut.

Narasi yang sama juga memberi penekanan bahwa proyeksi tahunan 2026 tetap terjaga pada kisaran sekitar 5,2%. Dengan demikian, meski terjadi penurunan di proyeksi kuartalan, arah pertumbuhan tahunan secara garis besar masih dianggap relatif konsisten dengan survei sebelumnya.

Di balik perbedaan yang tipis, revisi pada proyeksi kuartal akhir memberi sinyal bahwa responden survei sedang menata ulang asumsi untuk beberapa bulan ke depan. Penilaiannya cenderung menggambarkan penyesuaian bertahap, bukan perubahan besar pada arah pertumbuhan yang selama ini menjadi dasar proyeksi.

Hubungan antar faktor yang disorot survei juga tampak saling menguatkan. Ketika nilai tukar belum benar-benar kembali stabil, biaya yang terkait impor dan persepsi pasar terhadap pergerakan harga dapat ikut terjaga dalam level yang lebih waspada. Bersamaan dengan itu, ekspektasi inflasi yang meningkat membuat kalkulasi biaya dan keputusan konsumsi menjadi lebih sensitif, sementara ruang kebijakan moneter dinilai makin sempit untuk menyeimbangkan sasaran stabilitas dan dorongan aktivitas ekonomi.

Karena itu, perlambatan yang terlihat pada basis kuartalan lebih dipahami sebagai dinamika timing dalam beberapa periode berikutnya. Meskipun pertumbuhan yoy di kuartal IV-2026 dan kuartal I-2027 direvisi ke bawah, survei tetap menempatkan proyeksi pertumbuhan tahunan 2026 di kisaran sekitar 5,2%, sehingga gambaran besarnya dinilai tidak langsung bergeser.