jurnalistik.co.id – Pemerintah menetapkan target pembiayaan investasi tahun 2027 sebesar Rp203,9 triliun. Angka ini naik 5% dibanding proyeksi pembiayaan investasi pada 2026 yang berada di Rp194,2 triliun.
Penjelasan tersebut disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Rapat Kerja dengan Badan Anggaran DPR RI. Dalam paparan yang sama, Purbaya merinci komponen-komponen pembiayaan investasi yang membentuk total target Rp203,9 triliun.
Purbaya menyebut, bagian terbesar diarahkan untuk investasi kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Layanan Umum (BLU) senilai Rp38,3 triliun. Sementara itu, investasi untuk organisasi/Lembaga Keuangan Internasional (LKI)/Badan Usaha Internasional (BUI) ditetapkan sebesar Rp2,1 triliun.
Di luar dua pos tersebut, Purbaya juga menguraikan struktur investasi pemerintah. Ia menjelaskan proporsi investasi pemerintah non-permanen dan investasi lainnya, sekaligus memperhitungkan penerimaan kembali investasi yang ikut mengurangi kebutuhan pembiayaan.
“Investasi pemerintah non-permanen Rp34,7 triliun, dan investasi lainnya Rp132,8 triliun. Di sisi lain, terdapat penerimaan kembali investasi Rp3,8 triliun. Dengan demikian, total pembiayaan investasi tercatat Rp203,9 triliun,” sebut Purbaya dalam Rapat Kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, Kamis (27/8/2026).
Penggunaan pembiayaan untuk BUMN dan BLU
Pada rincian pemanfaatan, Purbaya menyampaikan bahwa pembiayaan BUMN dan BLU digunakan untuk beberapa kebutuhan strategis. Di antaranya adalah pembiayaan pendidikan melalui dana abadi.
Selain itu, pembiayaan untuk BUMN dan BLU juga diarahkan guna penanggulangan bencana. Pendanaan ini disebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menghadapi kebutuhan respons dan pemulihan ketika bencana terjadi.
Komponen berikutnya adalah pendanaan pengadaan tanah untuk Proyek Strategis Nasional (PSN). Menurut Purbaya, dukungan pembiayaan ini dimaksudkan untuk membantu tahapan pengadaan tanah yang menjadi prasyarat kelanjutan proyek-proyek PSN.
Berita Terkait
Purbaya juga menyinggung pendanaan untuk kerja sama pembangunan internasional. Dengan pos ini, pembiayaan diarahkan untuk mendukung keterlibatan pemerintah dalam skema kerja sama lintas negara sesuai agenda pembangunan yang ditetapkan.
Peran pembiayaan organisasi, LKI, dan BUI
Sementara itu, investasi organisasi/LKI/BUI dijelaskan memiliki orientasi yang terkait dengan agenda eksternal pemerintah. Purbaya menyebut pembiayaan pada pos ini digunakan untuk menjaga kepentingan nasional Indonesia di forum internasional.
Dalam penjelasannya, pos ini juga diarahkan untuk memenuhi kewajiban Indonesia sebagai anggota. Artinya, pembiayaan tidak hanya dipandang sebagai dukungan proyek, tetapi juga sebagai bagian dari komitmen kelembagaan yang melekat pada keanggotaan dan partisipasi Indonesia di forum internasional.
Dengan komposisi tersebut, total target Rp203,9 triliun diposisikan sebagai akumulasi beberapa jalur investasi. Dua pos utama—BUMN/BLU dan organisasi/LKI/BUI—diikuti oleh struktur investasi pemerintah non-permanen serta investasi lainnya, dengan penyeimbang berupa penerimaan kembali investasi.
Jika dilihat dari angka yang dipaparkan, investasi pemerintah non-permanen berada pada Rp34,7 triliun. Sementara itu, investasi lainnya tercatat sebesar Rp132,8 triliun, yang bersama penerimaan kembali investasi Rp3,8 triliun membentuk total pembiayaan investasi pada tingkat Rp203,9 triliun.
Rincian ini memperlihatkan bagaimana pemerintah mengelola kebutuhan pembiayaan investasi melalui pemetaan fungsi dan tujuan masing-masing komponen. Pada sisi dalam negeri, pembiayaan BUMN dan BLU ditautkan dengan kebutuhan pendidikan melalui dana abadi, penanggulangan bencana, pengadaan tanah untuk PSN, serta kerja sama pembangunan internasional.
Adapun pada sisi keterlibatan internasional, pembiayaan organisasi/LKI/BUI ditempatkan untuk menjaga kepentingan nasional dan memastikan pemenuhan kewajiban sebagai anggota. Dengan demikian, target pembiayaan investasi 2027 tidak hanya diarahkan pada aspek operasional domestik, tetapi juga pada dimensi hubungan dan komitmen di tingkat global.
Secara keseluruhan, target Rp203,9 triliun untuk 2027 menjadi kelanjutan dari proyeksi pembiayaan investasi 2026 yang sebesar Rp194,2 triliun, dengan kenaikan 5%. Dari sisi komposisi, pemerintah merinci alur pembiayaan agar nilai total tersebut terbentuk dari beberapa pos investasi yang memiliki fungsi masing-masing.












