jurnalistik.co.id – Komunitas LGBTQ+ yang menua di Inggris mengaku semakin sulit mempertahankan identitasnya saat harus berhadapan dengan layanan perawatan dan dukungan sosial. Laporan Centre for Ageing Better menyoroti bahwa kelompok lansia LGBTQ+ berisiko mengalami kesehatan yang lebih buruk, keuangan yang lebih terbatas, dan isolasi sosial yang lebih tinggi dibanding populasi lansia pada umumnya.
Dalam laporan tersebut, tanpa dukungan yang bersifat spesifik, sebagian orang dikhawatirkan “back into the closet” ketika mengakses layanan perawatan. Bahkan, ketakutan terhadap homofobia disebut bisa membuat mereka menunda perawatan yang sebenarnya mereka butuhkan.
Adam Porter, manajer pengembangan perumahan dari organisasi amal LGBT Foundation, mengatakan ia kerap bertemu lansia yang mengalami situasi serupa. Menurutnya, ketika ada pengasuh yang berkunjung ke rumah, banyak orang memilih menyembunyikan bagian dari kehidupan pribadinya.
Porter mencontohkan praktik itu dengan menyebut orang bisa “hiding their wedding photos” atau “taking down a trans flag”. Dalam konteks ketika seseorang pindah ke lingkungan perawatan, ia menilai pesan yang tersampaikan menjadi lebih berat: “hiding who they are in their own home, for what could be the rest of their life.”
Ia juga mengaku “horrified” oleh beberapa kisah yang ia dengar saat bertemu dengan lansia LGBTQ+. Ada yang mengalami perlakuan ketika pengasuh menawarkan tindakan seperti “pray for them” terkait seksualitas mereka.
Rasa prihatin itu menjadi salah satu latar hadirnya Kindred House, skema perumahan sosial untuk kelompok usia di atas 55 tahun di Manchester. Porter menjelaskan proyek tersebut merupakan upaya pertama di jenisnya, dengan target mayoritas penghuni berasal dari komunitas LGBTQ+.
Sebagai “extra-care housing”, Kindred House memungkinkan penghuni hidup mandiri, namun tersedia tim perawatan 24/7 untuk mereka yang membutuhkan bantuan tambahan. Porter menambahkan bahwa seluruh staf juga akan menjalani pelatihan khusus soal inklusi LGBTQ+.
Menurut rencana, skema yang merupakan kerja sama dengan dewan setempat itu menyediakan 80 unit apartemen mandiri serta area komunal bagi komunitas sekitar. Porter berharap program ini bisa “trigger some conversations” tentang cara terbaik mendukung lansia LGBTQ+ menghadapi tantangan yang mereka hadapi.
Identitas yang mudah disalahpahami
Mindy Meleyal, perempuan berusia 75 tahun yang mengaku sebagai lesbian, mengatakan ia telah melewati berbagai tonggak besar gerakan hak-hak LGBT modern. Ia menyebut perjalanan itu dimulai dari “the start of decriminalisation in 1967” hingga “the first same-sex marriages in 2014”.
Namun, ia merasakan bagian penting dari identitasnya kerap terabaikan karena usianya. Mindy masuk dalam komunitas LGBTQ+ yang lebih tua di Inggris, dan ia menganggap banyak orang tidak melihat identitas itu dengan cara yang semestinya.
Selain menghadapi risiko yang terkait layanan perawatan, Mindy juga bercerita tentang bagaimana dirinya sering disalahartikan. Ia menjelaskan ia dan istrinya, Linda, telah bersama lebih dari 30 tahun, tetapi sering dikira saudara.
“She’s 18 inches taller than me, I’ve got a Yorkshire accent and she’s got a Northern Irish accent,” ujarnya. Ia menambahkan, “I think it’s pretty obvious we weren’t brought up in the same building.”
Mindy menilai sebagian masalah bermula dari anggapan bahwa ia seharusnya heteroseksual karena usia. “There are different tribes of people in every age group, but when you get older, people start clumping you together with other stereotypes,” katanya.
Ia juga menceritakan insiden ketika berada di rumah sakit setelah mengalami stroke. Dalam momen itu, seorang perawat merujuk Linda sebagai “Mindy’s husband”. Bagi Mindy, hal tersebut bukan hanya “insulting”, tetapi membuatnya mempertanyakan “what sort of training the staff might have had.”
Sarah Wilkinson, research and analysis manager di Centre for Ageing Better, menilai pengalaman semacam itu bisa memengaruhi dukungan yang diterima seseorang. Ia menyebut tantangan tambahan yang muncul setelah “a lifetime of homophobia and transphobia”, yakni “additional, and overlapping, challenge of ageism”.
Dalam laporan Spotlight on Ageing, disebutkan lansia LGBTQ+ lebih kecil kemungkinannya memiliki anak. Narasi itu juga dikaitkan dengan perubahan hukum: seseorang kelahiran 1950 akan berada pada usia 50-an ketika pasangan sesama jenis dapat secara legal mengadopsi.
Berita Terkait
- Rusia Akan Menguji Pakt NATO, Serangan Diperkirakan ‘Dalam Hitungan Bulan’; Buruh Disorot Rencana Pajak Jelang Budget
- Kuburan Massal Chemmani Dibuka Kembali di Sri Lanka, Keluarga Tuntut Jawaban Perang Saudara
- Saran pemerintah Inggris: makanan tahan lama apa yang sebaiknya disiapkan saat cuaca ekstrem
Laporan tersebut juga menyatakan lansia LGBTQ+ lebih berpeluang merenggang dari keluarga dibanding rekan heteroseksual mereka. Selain itu, data menunjukkan lebih dari separuh pria gay dan biseksual berusia 65 tahun ke atas tinggal sendirian, sementara pada pria heteroseksual angkanya kurang dari seperempat.
Untuk perempuan biseksual berusia 50 hingga 64 tahun, laporan menyebut mereka “twice as likely” dibanding rekan heteroseksual untuk hidup sendirian. Laporan juga menyinggung bahwa hanya separuh pria gay dan biseksual usia 50 tahun ke atas yang “definitely agree” mereka punya seseorang untuk membantu bila diperlukan, dengan selisih 14 poin persentase lebih rendah dibanding pria heteroseksual pada usia yang sama.
Keluarga pilihan sebagai penopang
Norman Goodman, yang kini berusia 75 tahun, mengaku keluar sebagai biseksual pada akhir usia 60-an setelah meninggalnya istrinya, Marilyn. Ia dan pasangannya tidak memiliki anak, dan Norman tidak tinggal dekat keluarga inti yang bisa membantu kebutuhan seperti kunjungan rumah sakit atau pekerjaan rumah.
Norman mengatakan sistem dukungannya datang dari pasangan, Tony, serta kelompok sahabat dan tetangga yang ia sebut “chosen family”. “I’m lucky, I’ve got great friends and great neighbours, and I know I can knock on somebody’s door day or night and I could get help,” katanya.
Meskipun masih bisa mengandalkan dukungan itu saat kondisinya relatif mandiri, Norman tetap merasa cemas ketika nanti membutuhkan perawatan yang lebih formal. Ia mengaku pernah mendengar cerita mengerikan tentang perlakuan terhadap orang gay di panti jompo.
“Hopefully I will maintain and look after myself the best I can, but I’ve heard horror stories of gay people in nursing homes being treated terribly,” ujarnya. Ia lalu menekankan pentingnya pelatihan: “I think nurses, doctors, carers should all be trained on how to look after LGBT people.”
Kekhawatiran tersebut menjadi alasan berbagai skema yang dirancang khusus, termasuk Kindred House. Di tempat lain di dunia, konsep serupa juga telah muncul di Spanyol, Swedia, Jerman, Amerika Serikat, dan Kanada, tetapi di Inggris jumlahnya masih sedikit.
Pada 2021, rumah pensiun LGBTQ+ pertama di Inggris, Tonic, dibuka di London dengan 19 apartemen untuk sewa privat maupun kepemilikan bersama. Program ini mendapat perhatian luas, dan belakangan disebut akan muncul dalam dokumenter Netflix yang menceritakan kisah salah satu penghuni awal, Chek Min-Ong.
Min, kini 77 tahun, tinggal bersama mendiang pasangannya, Tim, selama 43 tahun. Ia dan Tim pernah berdiskusi mengenai rencana masa depan ketika salah satu di antara mereka harus hidup sendirian, terutama setelah kondisi kesehatan Tim memburuk.
“Tim and I have always had this very open discussion, we wanted to know, when one of us is not here anymore, the other person will have a community and feel safe,” ujar Min. Ketika Tim meninggal lima bulan setelah pindah ke Tonic, Min mengatakan komunitas barunya berkumpul dan memberi dukungan.
Ia menyebut, “It is what [Tim and I] always wanted, that we’d never have to explain ourselves,” serta “We’d never have to face a question and feel guilty about not telling the full story, or having to lie.” Menurut Min, kondisi yang ia cari sederhana: “You’re just here, being yourself.”
Kebutuhan layanan yang diperkirakan melampaui pasokan
Baik Mindy maupun Norman dan Min menyambut skema seperti Kindred House dan Tonic. Namun, laporan Spotlight on Ageing mengingatkan bahwa karena populasi LGBTQ+ yang menua terus bertambah, kebutuhan layanan spesialis diperkirakan akan melampaui ketersediaan.
Antara 2019 hingga 2024, jumlah warga Inggris berusia di atas 50 tahun yang mengidentifikasi diri sebagai lesbian, gay, atau bisexual meningkat sekitar sepertiga—dari “roughly 340,000” menjadi “almost 460,000”. Pada periode yang sama, jumlah orang heteroseksual usia 50 tahun ke atas naik 4%.
Porter memperingatkan, tanpa penambahan skema seperti Kindred House, serta tanpa pelatihan dan peningkatan kesadaran di lingkungan perawatan lain, populasi yang menua mungkin akan kesulitan memperoleh dukungan yang tepat.
Bagi Mindy, yang menjadi bagian dari kelompok pengarah terkait rencana tersebut, keyakinan bahwa opsi akan bertambah di masa depan memberi rasa lega. Ia mengatakan penting agar seseorang bisa berkata, “You know what, I could live there because I know the staffing, the ethics, the rules, everything about the place has been put together from an LGBTQ+ focus.”
“That’s what we’ve been doing and it’s something I’m really proud of being a part of,” tuturnya.












