Bisnis & Ekonomi

Dolar Menguat, Rupiah dan Yen Tertekan; Won Turut Anjlok, Yuan China Tahan Laju AS

×

Dolar Menguat, Rupiah dan Yen Tertekan; Won Turut Anjlok, Yuan China Tahan Laju AS

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Dolar Mengamuk: Yen, Rupiah - Won Kebakaran, Cuma China Kalahkan AS

jurnalistik.co.id – Pekan ini, pergerakan mata uang Asia bergerak di bawah bayang-bayang penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (18/9/2026), beberapa mata uang masih ikut tertekan, meski tidak semuanya bergerak searah.

Rupiah, misalnya, sempat berbalik menguat tipis di akhir perdagangan. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah terapresiasi 0,03% dan ditutup di Rp17.730/US$ pada Jumat (18/9/2026).

Meski kembali masuk zona hijau, rupiah tetap mencatat pelemahan sepanjang pekan. Secara kumulatif, rupiah masih melemah 0,82% pada periode tersebut.

Mata uang Asia melemah, dolar menguat setelah The Fed naik suku bunga

Rata-rata mata uang Asia bergerak turun pada pekan ini, seiring lonjakan indeks dolar ke level 100 sejak Rabu. Penguatan dolar terjadi setelah bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), menaikkan suku bunga.

Pelemahan paling dalam dialami won Korea yang ambruk 3,19%. Setelahnya, yen juga ikut tersungkur hingga 2,11% pada pekan yang sama.

Pergerakan yen sempat terbilang tidak sejalan dengan ekspektasi karena Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 1,25% pada Jumat (18/9/2026). Kenaikan itu membuat suku bunga berada di level tertinggi sejak 1995.

Namun, yen justustru melemah karena pasar menilai keputusan BoJ kurang hawkish dibanding perkiraan. Di saat yang sama, kekhawatiran bahwa BoJ akan kesulitan mengejar laju pengetatan moneter The Fed turut menekan mata uang Jepang.

Selisih suku bunga yang masih lebar antara AS dan Jepang juga membuat strategi carry trade yen tetap menarik. Dalam skema ini, investor dapat meminjam dana dalam yen dengan biaya lebih murah, lalu menempatkannya ke aset berimbal hasil lebih tinggi di negara lain.

The Fed sendiri menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin pada Rabu (16/9/2026), yang menjadi kenaikan pertama sejak Juli 2023. Bank sentral AS juga membuka peluang kenaikan berikutnya tahun ini, dengan alasan inflasi masih tinggi serta harga minyak tetap mahal.

Yen juga berada di bawah tekanan setelah pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi mengambil pendekatan hati-hati terhadap pengetatan moneter. Kondisi ini menambah keraguan pasar terhadap arah kebijakan yang lebih agresif dalam waktu dekat.

Yuan China justru menguat, menahan laju dolar terhadap Asia

Sementara mayoritas mata uang Asia melemah, yuan China menjadi pengecualian. Pada perdagangan Jumat, yuan menembus level 6,69 per US$1.

Angka tersebut sekaligus menjadi yang terkuat sejak Juli 2022, atau lebih dari empat tahun. Penguatan ini melanjutkan tren yang sudah berjalan sejak awal tahun.

Sepanjang 2026, yuan tercatat menguat sekitar 4,2% terhadap dolar AS. Dengan kata lain, tekanan dolar tidak sepenuhnya diterjemahkan menjadi pelemahan yuan seperti yang terjadi pada mata uang lain.

Wang Qing, Kepala Analis Makro Golden Credit Rating, menyebut penguatan yuan didorong oleh dua faktor utama. Pertama, indeks dolar AS yang sempat melonjak setelah kenaikan suku bunga The Fed kemudian kembali melemah.

Kedua, kurs tengah yuan terus diarahkan ke level yang lebih kuat. Wang juga menilai pertumbuhan ekspor China yang solid serta kondisi ekonomi makro yang relatif stabil turut menjadi penopang fundamental yuan.

Wang memperkirakan yuan akan bergerak dalam kisaran 6,7 hingga 6,9 hingga akhir tahun. Estimasi tersebut mempertimbangkan dinamika arah pasar yang masih berlangsung.

Namun, pandangan berbeda datang dari Guan Tao, Kepala Ekonom Huafu Securities. Ia mengingatkan fluktuasi dua arah sebagai hal yang normal dan pasar sebaiknya tidak terlalu menafsirkan penguatan yuan secara berlebihan.

Dari sisi fundamental domestik, Guan menyebut kondisi perdagangan luar negeri China secara umum masih stabil. Ekspor terus tumbuh kuat dan ekonomi makro tetap berkembang secara relatif stabil.

Dalam perspektif yang lebih panjang, yuan onshore menguat lebih dari 4,1% terhadap dolar AS sejak awal tahun, sementara yuan offshore menguat sekitar 4%. Perbandingan keduanya menegaskan bahwa penguatan terjadi baik di kanal onshore maupun offshore.

Guan juga menegaskan kerangka kebijakan yang dapat mengurangi dampak lonjakan suku bunga The Fed terhadap yuan. Wang menjelaskan China telah membangun kerangka regulasi yang menggabungkan kebijakan makroprudensial dan pengawasan mikro atas arus modal lintas negara.

Menurut Wang, risiko volatilitas besar pada arus modal akibat perbedaan siklus kebijakan moneter China dan AS dapat dikendalikan secara efektif. Karena itu, pasar dinilai tidak perlu terlalu membesar-besarkan dampak kenaikan suku bunga The Fed terhadap yuan.

Wakil Gubernur People’s Bank of China (PBOC) Lu Lei juga menyampaikan bahwa China menerapkan sistem nilai tukar mengambang terkendali. China tetap memberi peran menentukan kepada pasar dalam pembentukan nilai tukar, sekaligus mencegah perilaku ikut-ikutan (herd behavior) dan penguatan ekspektasi pasar yang tidak rasional.

“China tidak membutuhkan dan tidak memiliki niat untuk memperoleh keuntungan kompetitif perdagangan melalui depresiasi mata uang,” ujar Lu.

Wang memperkirakan yuan akan mempertahankan tren stabil hingga menguat dalam jangka pendek setelah kenaikan suku bunga The Fed. Namun, pasar tetap perlu memperhatikan perkembangan ekspor China serta dampak penyesuaian kebijakan moneter negara-negara besar terhadap indeks dolar AS.

Ia juga memperkirakan yuan akan bergerak berlawanan arah dengan dolar AS dengan volatilitas yang relatif terbatas. Proyeksi tetap berada pada kisaran 6,7 hingga 6,9 hingga akhir tahun, dengan pola yang berpotensi mencerminkan kondisi “menguat terlebih dahulu, kemudian stabil.”

Penguatan yuan tidak selalu berarti dampak yang sepenuhnya positif

Guan Tao mengingatkan agar pasar menilai penguatan yuan secara rasional. Ia menyebut ada faktor yang dapat mendukung sekaligus menekan pergerakan yuan.

Meski faktor positif relatif dominan dalam jangka pendek, penguatan yuan juga dapat membawa efek pengetatan makroekonomi yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar. Dalam jangka panjang, ketidakpastian yang memengaruhi nilai tukar masih sangat besar.

“Penguatan dan pelemahan yuan masing-masing memiliki manfaat dan kerugian. Jangan memberikan penilaian berlebihan terhadap arah pergerakannya,” ujar Guan.