jurnalistik.co.id – Dalam pertemanan, urusan menagih kembali uang kerap terasa seperti medan yang sensitif. Ada yang merasa cukup memberi pengingat sekali, namun ada pula yang memilih menahan diri sampai batas tertentu.
Situasinya biasanya sederhana: saat makan bersama, membayar taksi, atau membeli kopi untuk teman, uang yang “nanti dibayar lagi” kadang baru kembali setelah berhari-hari—atau bahkan tidak kembali sama sekali. Pertanyaan yang muncul kemudian: kapan waktunya meminta lagi, dan seberapa kecil nominal yang masih layak dikejar?
Henry Payne, 21 tahun, warga New York, mengaku pernah mengirim permintaan sebesar $8.50, tetapi ia menetapkan batas paling rendah yang masih bisa ia minta. Ia mengatakan, “I’ve sent a request for $8.50, but I wouldn’t go lower than $8.” Menurutnya, ia akan mengejar sekali saja, sebab “two requests is insane”.
Henry juga mengakui sikapnya bukan semata soal prinsip terhadap uang kecil, melainkan soal kenyamanan hubungan. Ia memilih “I would rather swallow the $8.50 than send another request.” Di sisi lain, Henry juga sadar ia kadang berada pada posisi sebaliknya dan bisa lupa membayar kembali. Ia menambahkan, “For everyone that I haven’t sent back money to, I just forgot, feel free to double request me.”
Batas nominal dan gaya menagih
Kaz Jahanbini, 19 tahun, mengatakan bahwa justru kebutuhan untuk meminta bayaran dari awal bisa terasa membuat frustrasi. Ia menjelaskan, “If someone bought me something, I’m immediately paying them back. So then I’m thinking for them, what’s the delay?” Kaz menyusun aturan agar hubungan pertemanan tetap terjaga: “keep your wallet close but your friends closer”.
Temannya, Nouria, menyetujui pendekatan tersebut. Sebagai mahasiswa, ia menilai setiap tambahan dolar “every extra dollar counts”, tetapi ia biasanya baru meminta uang kembali bila nominalnya lebih dari $10. Dengan kata lain, bagi Nouria, nominal kecil memang bisa berarti, namun batasnya tetap menentukan cara ia bertindak.
Sejumlah temuan riset terbaru ikut memberi gambaran. Studi yang disebut dalam laporan itu menyatakan 76% Gen Z yang pernah lebih dulu menanggung biaya grup—misalnya perjalanan atau acara—mengaku uangnya tidak dibayar sepenuhnya. Studi tersebut juga menyebut 55% responden mengatakan situasi itu menciptakan ketegangan atau berdampak negatif pada hubungan.
Di Inggris, ambang yang dipakai sebagian mahasiswa terlihat lebih tegas soal “berapa kecil yang masih layak ditagih”. Betsie Brooke-Taylor, 19 tahun, menyebut batasnya adalah “a fiver”. Ia juga menyinggung perbedaan budaya: “we are all broke, I think Americans are a bit more generous”.
Menurut Betsie, teknologi membuat penyelesaian utang kecil di AS cenderung lebih mudah. Ia mencontohkan aplikasi pembayaran seperti Venmo yang lazim digunakan dan bisa menyertakan fungsi pengingat bila seseorang belum membayar. Ia menambahkan, “Venmo lets users send and request money through an app which includes the function of sending a reminder if someone hasn’t paid you.” Ia juga menyebut skala pengguna Venmo di AS: “In the US, more than 95 million people have a Venmo account.”
Bagi Betsie, mekanisme di Inggris berbeda. Ia mengatakan, “In the UK you have to ask for the account number and sort code, and not everyone has that on hand.” Perbedaan cara itulah yang membuat pengalaman menagih nominal kecil terasa lebih praktis di satu tempat dibanding tempat lain.
Berita Terkait
Apakah harus konfrontatif?
Annika Violet, 19 tahun, menjelaskan bahwa jumlah yang ia minta kembali dari teman bisa dipengaruhi oleh pola timbal balik. Ia menyatakan, “I prefer to do something where I get them this time and they get me next time but if I’m consistently paying and you’re not, then I will request the $5.”
Annika justru merasa percakapan soal uang tidak terlalu canggung. Ia berkata, “I am so confrontational, I do not find it awkward. If you’re my friend, you would pay me back.” Di sisi lain, Hanako Stepper—temannya—mengaku merasa canggung saat harus meminta uang, walau ia berharap tidak merasakannya. Hanako mengatakan, “I’ve never chased anyone – I’m just sad if I don’t get paid back.”
Annika kemudian menawarkan saran yang menekankan keberanian. Ia menyarankan, “be brave and bold”. Bila orang lain bereaksi buruk, Annika menilai itu bisa menjadi tanda relasi yang kurang sehat, “If they are going to give you flak about it, maybe it’s a sign they are not a good friend.”
Berbeda dari pengalaman berbasis pertemanan langsung, Laura Pomfret sebagai pakar uang menggarisbawahi bahwa banyak orang merasa malu untuk meminta bayaran. Ia menilai, khususnya di Inggris, topik ini sering dianggap tidak nyaman. Pomfret mengatakan, “We’re often very British about asking for money back,” dan ia menyiratkan kekhawatiran dinilai sebagai “cheapskate”.
Namun, Pomfret juga mengingatkan agar orang tidak menegaskan diri bahwa utang kecil tak layak diminta. Ia menekankan gagasan bahwa bila seseorang menginginkan uang itu dibayar kembali, nominalnya seharusnya tidak menjadi alasan untuk menunda permintaan, “if you want the money paid back then the amount shouldn’t matter”.
Ia juga menyarankan strategi mengingat pengalaman bila teman yang sama berulang kali tidak membayar. Langkah yang ia maksud adalah mempertimbangkan kembali saat kesempatan membayar muncul lagi, bukan menunggu sampai situasi memburuk.
Beberapa orang yang diwawancarai juga menekankan bahwa yang paling menentukan bukan semata ukuran nominal, melainkan pola berulang ketika seseorang tidak menepati janji. Ella Feuille, 21 tahun, menyebut titik pikirannya mulai berubah pada kisaran $15. Ia mengatakan akan mempertimbangkan meminta uang kembali pada ambang tersebut.
Ella menjelaskan ia bisa meminta sekitar tiga kali sebelum menyerah, tetapi tidak selalu berarti ia langsung menghapus ingatan. Ia menambahkan, “I have friends who I know now it has to go on their card because they’re not going to pay me back.”
Temannya, Katrina Dimingot, memilih pendekatan yang berbeda: ia lebih suka cara di mana mereka tidak membayar balik secara spesifik setiap transaksi. Katrina berkata, “we don’t pay each other back, we just take it in turns to get things for each other.” Dengan pola ini, kebutuhan menagih nominal kecil berkurang karena sistemnya lebih bergilir.
Pada akhirnya, laporan ini menunjukkan bahwa batas nominal, rasa canggung, dan strategi menagih kembali bisa berbeda-beda—dari yang cukup mengingatkan sekali, sampai yang lebih memilih sistem pembayaran bergiliran. Yang jelas, ketika uang terlambat kembali, percakapan soal biaya itu sering kali menjadi ujian bagi kenyamanan dan kedekatan hubungan.












