jurnalistik.co.id – Sebuah batangan cokelat 100% berbahan baku Inggris untuk pertama kalinya dalam hampir satu abad dibuat di Reading. Proyek itu memakai kakao dari Berkshire, sekaligus menandai tonggak baru dalam gagasan ketahanan pangan dan rantai pasok lokal.
Batangan tersebut dinamai Reading 100 Chocolate Bar untuk memperingati ulang tahun ke-100 Universitas Reading. Inisiatif ini dirancang sebagai perayaan sekaligus contoh bahwa produksi cokelat berbasis bahan yang ditanam di Inggris masih mungkin dilakukan, meski selama ini pasar sangat bergantung pada pasokan impor.
Perjalanan menuju batangan tersebut dikerjakan oleh Maha Khan, mahasiswa magister bidang keamanan pangan. Ia membuat cokelat dari tahap awal sampai menjadi produk jadi, menggunakan hasil panen kakao yang ditanam di Reading.
Dalam praktiknya, proses pembuatan dimulai dari panen kakao yang berasal dari Pusat Karantina Kakao Internasional milik Universitas Reading. Maha Khan kemudian memisahkan pulp, mengambil bijinya, melakukan fermentasi selama sekitar tujuh hingga 10 hari, lalu menjemur biji di bawah matahari agar mengering. Kondisi cuaca yang mendukung turut membantu tahap penjemuran.
Setelah pengeringan, pekerjaan berlanjut ke proses pengolahan di fasilitas kampus. Ia menyebut tahapan berikutnya mencakup pengeringan lanjutan, pemanggangan, hingga pengolahan di fasilitas lab untuk menyaring, menggiling, dan meracik cokelat sebelum akhirnya dicampur dengan susu dan gula.
Maha Khan juga menegaskan bahwa pembuatan batangan ini bukan semata percobaan rasa. Ia ingin menyoroti tantangan yang sedang dihadapi industri budidaya kakao.
“It is incredible that we can make 100% British chocolate – but in the context of climate change, pests and diseases, there are estimates that 30 to 40% is lost,” ujarnya. Dalam penjelasan lanjut, ia menambahkan, “And we’ve seen with these heatwaves, climate change, these problems and challenges are only going to get exacerbated.”
Ungkapan tersebut menempatkan proyek di tengah realitas bahwa pasar cokelat Inggris, yang nilainya mencapai ÂŁ10,4 miliar, tetap bergantung pada kakao impor. Tantangan iklim, hama, dan penyakit menjadi alasan mengapa produksi berbasis kakao lokal belum menjadi pilihan utama dalam skala industri.
Batangan Reading 100 Chocolate Bar sendiri dipandang sebagai tonggak sejarah karena klaimnya menempatkan proyek ini sebagai yang pertama sejenis sejak 1932. Pada tahun itu, Rowntrees menghadiahkan satu-satunya batangan cokelat yang ditanam di Inggris kepada Putri Elizabeth yang saat berusia enam tahun.
Berita Terkait
Bila proyek saat ini berupaya membangkitkan kembali jejak lama, fondasi teknisnya datang dari Pusat Karantina Kakao Internasional di Reading. Di sana, kakao ditanam dan dikelola dalam lingkungan yang dikondisikan, sebagai upaya mencegah penularan hama dan penyakit antarwilayah produksi kakao di dunia.
Pusat tersebut menyimpan lebih dari 300 jenis tanaman kakao. Kegiatan di fasilitas ini tidak hanya terkait pencegahan, tetapi juga memberi ruang bagi para ilmuwan untuk mempelajari tanaman-tanaman tersebut dalam pengaturan yang terkontrol.
Maha Khan menyebut pentingnya menonjolkan riset yang dilakukan di pusat karantina, karena menurutnya tidak banyak orang menyadari peran fasilitas tersebut. Ia mengatakan pusat karantina itu merupakan “primary hub of transfer for 97% of cocoa growing countries”, sekaligus menjelaskan bahwa proses karantina berlangsung selama dua tahun.
“So the coco is quarantined there for two years, and so from those plants that are growing I decided to make this chocolate bar,” katanya. Dengan kata lain, ide batangan tersebut lahir dari tanaman kakao yang telah menjalani masa karantina di pusat itu.
Dalam kesempatan yang sama, Maha Khan juga merinci bahwa proyek itu membutuhkan kerja yang intens. Ia menilai proses pembuatan batangan ini “It’s a lot of work,” menandai bahwa upaya semacam ini membutuhkan keterampilan dan waktu yang tidak singkat.
Sementara itu, Prof Carol Wagstaff, direktur AgriFood Futures di Universitas Reading, menilai industri cokelat Inggris bergantung pada rantai pasok yang bermula ribuan mil jauhnya. Menurutnya, rantai tersebut bergerak dari wilayah tropis di Afrika, Amerika Selatan, dan Asia.
Ia juga menekankan perlunya pasar global yang tangguh bagi para petani skala kecil yang menopang industri. Dalam pandangannya, para petani tersebut menghadapi risiko yang besar akibat perubahan iklim, dan kondisi yang sama dirasakan pula oleh pembuat cokelat serta pecinta cokelat di Inggris.
Wagstaff menambahkan pandangan bahwa produksi lokal memang sering masuk akal dari sisi kesehatan, ekonomi, dan lingkungan, tetapi bukan aturan yang berlaku universal. “While growing and buying local produce often makes sense for your health, and helps the economy and environment, it is not a universal rule,” katanya.
Ia juga menyatakan perdagangan pangan internasional dapat membawa manfaat ketika dipandang sebagai cara menjaga kestabilan ekonomi komunitas. “International trade in food can be a good thing, providing economic stability for communities whilst using natural energy resources for production, and we need to invest in research to keep threats at bay,” ujarnya.
Dengan adanya Reading 100 Chocolate Bar, gagasan soal bahan baku lokal dan ketahanan rantai pasok mendapat contoh nyata dari proses riset, karantina, dan pengolahan yang dilakukan di Reading. Proyek ini memperlihatkan bahwa sejarah batangan cokelat dari bahan Inggris dapat dirujuk kembali, namun tetap perlu diiringi upaya riset untuk menghadapi tantangan iklim, hama, dan penyakit.












