jurnalistik.co.id – Lima pesepeda dari Jakarta mengayuh sejauh 1.700 kilometer menuju Batang Toru, Sumatera Utara, sebagai bagian dari Ekspedisi Hutan Merdeka. Perjalanan itu mereka jalani untuk mengampanyekan perlindungan hutan dan habitat orangutan, dengan melibatkan lima nama pesepeda: Sihol, Amin, Fadlan, Fitri, dan Very.
Dalam perjalanan tersebut, tim menempuh rute panjang yang melewati berbagai bentang alam Indonesia. Salah satu tahap penting berlangsung ketika mereka masuk ke Sumatera Barat, yang menjadi provinsi kelima yang dilalui dalam ekspedisi ini.
Koordinator Satya Bumi, Restu Diantina, menyampaikan bahwa Sumatera Barat memberi pengalaman yang berbeda dibandingkan empat provinsi sebelumnya. Menurutnya, “Sumatera Barat memberikan kesan yang sangat berbeda dibandingkan empat provinsi lainnya.” Ucapan itu muncul setelah tim menyaksikan langsung karakter wilayah yang mereka lalui selama beberapa segmen perjalanan.
Jejak 1.700 Kilometer di Sumatera Barat
Restu mengatakan bahwa tim disuguhi suasana yang terasa menyegarkan begitu menginjak wilayah Sumatera Barat. Dari pengamatan selama perjalanan, mereka melihat terasering persawahan, hutan alam, serta udara yang terasa lebih sejuk. Paparan tersebut turut menguatkan pesan ekspedisi yang dibawa sejak awal, yakni perlunya mempertahankan kawasan Sumatera yang masih lestari.
Ekspedisi Hutan Merdeka diinisiasi oleh organisasi lingkungan Satya Bumi bersama Komunitas Sepeda Chemonk. Dengan mengayuh sepeda melintasi jarak yang jauh, para peserta ingin membuat kampanye perlindungan hutan tidak berhenti pada wacana, tetapi diterjemahkan menjadi pengalaman lapangan yang dapat dilihat, dirasakan, dan disampaikan kepada publik.
Di Sumatera Barat, tantangan perjalanan juga nyata terlihat. Para pesepeda harus melewati puluhan tikungan tajam serta jalur dengan elevasi sekitar 200 hingga 600 meter. Kondisi medan seperti ini menuntut stamina dan konsistensi, karena setiap perpindahan ketinggian berpengaruh pada ritme mengayuh sepanjang rute.
Selain bentuk jalurnya, cuaca juga menjadi faktor yang memengaruhi perjalanan. Restu menyebut bahwa ini merupakan kali pertama bagi tim menghadapi hujan selama menjalankan ekspedisi. Dengan kata lain, perubahan cuaca tidak hanya soal penampakan sesaat, tetapi memengaruhi ritme perjalanan dan cara tim menyesuaikan tenaga di lapangan.
Berita Terkait
Hujan turun ketika tim menempuh perjalanan dari Solok menuju Bukittinggi pada Jumat, 14 Agustus 2026. Saat itu, tim harus bergerak di tengah kondisi yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, termasuk penyesuaian terhadap permukaan jalan serta keamanan selama melintas.
Cuaca Ekstrem dan Ancaman Bencana Hidrometeorologi
Perjalanan lima pesepeda berlangsung ketika Sumatera Barat tengah menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi. Di tengah konteks fenomena El Nino serta prediksi cuaca panas ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia, BMKG Sumatera Barat justru menetapkan status waspada terhadap bencana hidrometeorologi.
Restu mengaitkan dinamika yang mereka alami di lapangan dengan peringatan resmi tersebut. Menurutnya, hujan dengan intensitas tinggi pernah memicu banjir di sejumlah wilayah Kota Padang pada awal Agustus 2026. Ia menekankan bahwa banjir pada beberapa titik merupakan wilayah baru yang sebelumnya tidak pernah mengalami banjir parah.
Baginya, kenyataan itu menjadi pengingat bahwa ancaman bencana masih perlu ditangani secara serius. “Beberapa titik banjir pada Agustus 2026 merupakan wilayah baru yang sebelumnya tidak pernah mengalami banjir parah,” ujarnya. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa dampak cuaca ekstrem tidak selalu mengikuti pola lama, dan perubahan kondisi lingkungan dapat memunculkan risiko yang lebih luas.
Konteks ini memberi lapisan makna tambahan bagi tujuan ekspedisi. Kampanye perlindungan hutan dan habitat orangutan tidak berdiri sendiri, melainkan beririsan dengan pemahaman tentang kondisi ekosistem dan kerentanan wilayah ketika cuaca ekstrem datang. Ketika hutan terjaga, harapannya adalah fungsi alami kawasan dapat tetap mendukung keseimbangan lingkungan yang lebih tahan terhadap perubahan cuaca.
Sepanjang perjalanan, tim menyatukan narasi kampanye dengan observasi langsung. Mereka melihat bahwa bentang alam yang masih terjaga, termasuk wilayah bervegetasi dan lanskap yang beragam, dapat menjadi bukti nyata pentingnya menjaga ekosistem. Pada saat yang sama, pengalaman menghadapi medan terjal serta perubahan cuaca menjadi gambaran bahwa perjalanan perlindungan lingkungan memerlukan ketekunan dan kesiapsigaan.
Saat ekspedisi terus berlanjut dari Jakarta menuju Batang Toru, Sumatera Barat tetap menjadi salah satu titik penting dalam rute 1.700 kilometer tersebut. Melalui pengayuhan jarak jauh, lima pesepeda membawa pesan yang mereka rangkum dari perjalanan: mempertahankan hutan yang lestari, karena ancaman bencana dan perubahan kondisi lingkungan bisa muncul kapan saja, termasuk di wilayah yang sebelumnya belum pernah mengalami dampak berat.












