Daerah

Belum Merasakan Kemerdekaan Air Bersih, Warga Distrik Tomu Teluk Bintuni di Tengah HUT RI ke-81

×

Belum Merasakan Kemerdekaan Air Bersih, Warga Distrik Tomu Teluk Bintuni di Tengah HUT RI ke-81

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Jeritan Warga Pesisir Teluk Bintuni, Belum Merasakan Kemerdekaan dari Air Bersih

jurnalistik.co.id – Di tengah perayaan HUT RI ke-81, persoalan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari justru belum menemukan jalan keluar di Distrik Tomu, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Warga di tujuh kampung masih berjuang mendapatkan air bersih yang layak.

Selama bertahun-tahun, masyarakat Distrik Tomu mengandalkan air hujan sebagai sumber utama untuk kebutuhan rumah tangga. Namun ketika musim kemarau panjang datang dan persediaan hujan menipis, warga terpaksa beralih ke air sungai yang keruh.

Ketujuh kampung yang mengalami kondisi tersebut adalah Kampung Tomu, Totitra, Ayot, Ekam, Adur, Rejo Sari, dan Wanagir. Wilayah ini berjarak sekitar 50 kilometer dari lokasi eksplorasi gas alam BP Tangguh.

Warga Kampung Tomu, Umar, menjelaskan kebiasaan yang sudah mengakar di komunitas mereka. “Hanya harap Air Hujan dan ini sudah bertahun tahun sejak orang tatua dulu,” kata Umar kepada Kompas.com, Selasa (18/8/2026).

Menurut Umar, pada masa kemarau panjang warga menunggu kondisi sungai sebelum mengambil air. Mereka mengambil air saat debit atau ketinggian aliran memungkinkan untuk digunakan dalam kebutuhan rumah tangga.

Umar juga menyebut variasi cara warga memanfaatkan air sungai yang tersedia. “Ada yang rebus baru minum ada juga menggunakan untuk keperluan rumah tangga lain seperti mencuci,” tutur Umar.

Bagi sebagian warga, air sungai tidak selalu dipakai hanya untuk satu keperluan. Ada yang menyaring atau merebus terlebih dahulu sebelum digunakan untuk konsumsi, sementara sebagian lainnya menggunakan langsung untuk aktivitas sehari-hari seperti mencuci.

Di balik rutinitas tersebut, kekhawatiran mengenai kualitas air tetap melekat. Warga harus menghadapi kenyataan bahwa saat hujan tidak lagi turun, pilihan yang ada semakin sempit dan kualitas air yang diambil tidak seideal ketika sumbernya berasal dari hujan.

Harapan pada dukungan yang tak kunjung berlanjut

Umar mengatakan persoalan air bersih pernah mendapat perhatian ketika kegiatan perusahaan gas mulai beroperasi di wilayah tersebut. Pada fase awal masuknya perusahaan gas, ia menyebut pernah ada tawaran bantuan berupa mesin untuk mengambil air dari sungai.

“Pernah ditawarkan oleh perusahan, mesin yang tarik air dari kali tapi itu waktu awal awal perusahan gas masuk,” ucap Umar. Ia menempatkan tawaran itu sebagai upaya yang sempat muncul, tetapi tidak menjadi solusi yang berkelanjutan.

Seiring berjalannya waktu, ketergantungan warga tetap kembali pada pola lama: menunggu hujan untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Ketika kemarau berlarut, proses pemenuhan air kembali mengandalkan sungai yang kondisi airnya berubah-ubah.

Situasi serupa juga disampaikan Jumat Kosepa, Sekretaris Kampung Adur sekaligus Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Distrik Tomu. Ia menilai, kebutuhan dasar warga justru belum terselesaikan meski perayaan kemerdekaan telah menjadi rutinitas tahunan.

“Sekian Tahun kita rayakan kemerdekaan tapi kami belum merasakan Kemerdekaan Dari Air bersih,” kata Jumat Kosepa. Ungkapan itu menggambarkan jarak antara semangat perayaan dan kenyataan pemenuhan layanan dasar.

Jumat Kosepa menekankan bahwa warga tidak hanya membutuhkan ketersediaan air sementara, tetapi juga sistem yang mampu menjamin kualitas serta kontinuitas. Menurutnya, solusi yang diinginkan adalah adanya tempat penampungan air serta jaringan pipa yang dapat menyalurkan air bersih ke rumah-rumah.

Namun, kebutuhan itu hingga kini belum terealisasi. Akibatnya, saat musim kemarau tiba, warga tetap berada pada kondisi yang sama: mencari air dari sumber yang kondisinya tidak selalu layak untuk dikonsumsi.

Di beberapa rumah, air yang tersedia menjadi bagian dari strategi bertahan hidup yang dipelajari dari generasi ke generasi. Proses mengambil, mengolah, hingga mengatur pemakaian air dilakukan agar kebutuhan sehari-hari tetap berjalan.

Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak benar-benar menghapus masalah pokok. Warga tetap merasakan ketidakpastian setiap kali hujan tidak segera datang, dan kualitas air sungai yang keruh membawa beban tambahan pada kesehatan dan kenyamanan hidup.

Dengan latar itulah, perayaan HUT RI ke-81 di Distrik Tomu tidak hanya dimaknai sebagai seremoni. Bagi warga, momen tersebut justru menjadi penanda bahwa harapan mereka atas kemerdekaan dari persoalan air bersih masih belum terwujud.

Selama kebutuhan dasar berupa air bersih belum terpenuhi secara stabil, keterbatasan akan terus memengaruhi aktivitas warga di tujuh kampung tersebut. Sementara itu, tuntutan akan penampungan air dan jaringan pipa terus disampaikan sebagai bentuk upaya agar masa kemarau tidak kembali menjadi periode paling sulit bagi pemenuhan air.

Di Distrik Tomu, kemerdekaan yang diharapkan bukan sekadar perayaan, melainkan akses terhadap air bersih yang dapat diandalkan. Jawaban atas kebutuhan itu dinantikan agar warga dapat menjalani hari-hari tanpa ketergantungan penuh pada musim hujan.