Daerah

Ibu hamil di Croydon: “Saya tak punya air panas atau pemanas selama sebagian besar kehamilan”

×

Ibu hamil di Croydon: “Saya tak punya air panas atau pemanas selama sebagian besar kehamilan”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Croydon woman 'had no hot water or heating for most of pregnancy'

jurnalistik.co.id – Warga apartemen di Croydon, London selatan, menghadapi masa sulit setelah pasokan gas dimatikan sejak 4 Maret. Mereka menyebut pemadaman itu terkait “potensial kebocoran berbahaya”, namun dampaknya terasa luas: banyak penghuni terpaksa menjalani hari-hari tanpa pemanas maupun air panas, termasuk seorang ibu hamil.

Samantha Banner dan pasangannya mengaku harus menjalani sebagian besar kehamilan tanpa pemanas dan tanpa air panas. Untuk kebutuhan sehari-hari, mereka mengandalkan air yang dituang ke ember, diisi menggunakan air dari teko yang sebelumnya direbus, serta memakai camping shower untuk mandi, atau memilih bepergian ke tempat lain.

Pasangan ini berstatus leaseholder untuk sebuah flat di Admiral Court, Croydon. Mereka tinggal di kompleks hunian bertipe campuran, tempat warga lintas unit mengalami pemutusan suplai gas sejak 4 Maret. Menurut cerita mereka, masalah ini tidak kunjung selesai karena urusan tanggung jawab biaya perbaikan berbelit di antara freeholder, housing association, managing agents, dan pengembang.

Samantha mengatakan ia dan keluarganya terjebak pada lapisan birokrasi yang membuat mereka sulit mendapatkan jawaban yang tegas. Dengan pengembang awal yang kemudian masuk likuidasi, sengketa siapa yang harus menanggung biaya perbaikan membuat 65 flat di lokasi itu hidup dalam ketidakpastian, termasuk kemungkinan bahwa biaya penggantian pipa pada akhirnya bisa jatuh ke para penghuni.

Samantha mulai menyadari kehamilannya pada awal Januari. Ia menilai kondisi yang berlangsung berbulan-bulan membuat aktivitas harian menjadi “extremely difficult”. Dalam periode panjang itu, mereka bahkan tidak bisa mandi di rumah, dan baru kemudian menggunakan camping shower dengan “big bucket of water that we fill up with a kettle, and have a really quick shower”.

Gangguan di Admiral Court juga memengaruhi rencana hidup keluarga. Samantha menyebut mereka tengah menyiapkan pertukaran tempat tinggal dan perpindahan ke hunian yang lebih besar, tetapi pembeli akhirnya membatalkan transaksi. Pembatalan itu, menurut mereka, dipicu gabungan dari kenaikan biaya service charges dan masalah gas yang masih belum diberes.

Dalam keterangan yang ia sampaikan, Samantha menegaskan situasi tersebut seperti “absolute limbo”. Ia mengatakan, “We are in absolute limbo. We can’t put it back on the market because of the situation with the gas.” Samantha juga menyatakan masih belum ada batas waktu yang jelas kapan pasokan gas akan dipulihkan: “It’s going to be expensive, I get it, but no-one is claiming any liability on it. We’re just left waiting for them to make their decisions.”

Menurut Samantha, mereka bukan satu-satunya penghuni yang merasa kesulitan menjual rumah. Zainab Ottun, misalnya, adalah shared owner yang termasuk di antara penghuni awal yang pindah ke bangunan tersebut saat selesai pada 2019. Ia membeli 25% saham dari properti senilai £310,000 dengan harapan itu menjadi “a stepping stone” menuju rumah yang lebih besar.

Namun Zainab mengaku unitnya kini “it’s not sellable”. Ia menyebut selama bertahun-tahun sudah terjadi beberapa kebocoran gas. Pasokan berulang kali diputus lalu dipulihkan kembali dengan alasan ditemukan “weaknesses in the infrastructure”. Ketika gas dimatikan pada Maret, Zainab sedang menjalani pemulihan usai operasi Achilles, sehingga ia memakai kruk.

Dalam kondisi tanpa air panas, Zainab harus mencuci menggunakan ember. Ia menambahkan, “You don’t buy a new build expecting it to crumble right before your eyes as you’re living in it.” Bagi dirinya, gangguan berulang dan pemutusan suplai tersebut membuat kondisi hunian terasa tidak layak dijadikan tempat tinggal jangka panjang.

Akira Pascall, seorang perawat anak (paediatric nurse), juga tinggal di blok yang sama bersama pasangannya dan putra berusia tiga tahun dalam flat berstatus shared ownership. Ia menceritakan pada awalnya keluarga mereka merebus ketel untuk mengisi ember guna mencuci dan membersihkan peralatan makan. Seiring waktu, mereka kemudian berinvestasi pada camping shower.

Akira menggambarkan rutinitas setelah jam kerja yang panjang: “After long shifts you have to come home and fill up the shower. Work is stressful enough and you want to come home to a safe haven.” Ia juga menyebut tantangan mengurus anak kecil dalam situasi seperti ini, termasuk soal lamanya proses persiapan: “You can’t have people to stay. It takes so long to get ready. Three-year-olds are messy and you just want to stick them in the bath sometimes,”

Akira juga mengekspresikan kemarahan ketika muncul gagasan bahwa penghuni mungkin harus ikut menanggung biaya. Ia mengatakan, “This is meant to be affordable housing. If we had that much money to re-pipe a building we would build our own block of flats,” dan menilai beban biaya tersebut tidak sejalan dengan konsep hunian terjangkau.

Hingga Agustus 2026, lima bulan setelah gas dimatikan, sebuah laporan saksi ahli yang dipesan oleh freeholder Groundinvest 101 (Limited) dan managing agent Warwick Estates menyimpulkan bahwa instalasi pipa suplai gas “has not been installed in compliance” dengan standar yang ditetapkan oleh Institution of Gas Engineers and Managers (Igem).

Setelah laporan itu, freeholder disebut telah menghubungi sejumlah perusahaan yang mereka nyatakan “associated” dengan pengembang awal untuk upaya memulihkan biaya pekerjaan perbaikan. Gedung tersebut mulanya dikembangkan pada 2019 oleh perusahaan UK Land Assets, yang sejak itu telah dilikuidasi.

Managing agent Warwick Estates menyatakan bahwa pihaknya maupun freeholder tidak terlibat dalam pengembangan tersebut sampai “some time after ‘substandard construction work’ was originally carried out”. Mereka menyebut “our foremost concern” adalah penghuni, tetapi ada “significant obstacles… have led to delays in remediation”.

Warwick Estates juga mengacu pada ketentuan sewa yang menyatakan pipa gas menjadi tanggung jawab langsung para leaseholder masing-masing. Namun mereka menambahkan bahwa pihaknya dan freeholder memahami ini bukan perkara sederhana bila hanya menyuruh penghuni mengajukan klaim sendiri atau mengatur perbaikan sendiri. Mereka turut menegaskan bahwa cacat tersebut tidak tercakup oleh garansi bangunan.

Dalam keterangan berikutnya, Warwick Estates menyebut akan mencari saran ahli lebih lanjut mengenai potensi pemasangan pemanas listrik dan air panas untuk setiap flat. Mereka menyatakan berharap arahan tersebut beserta biaya dapat tersedia dalam beberapa minggu ke depan.

Perlindungan garansi pengembang jadi sorotan

Leaseholders charity, Leasehold Knowledge Partnership, menilai ada “too many” kasus serupa seperti ini. Organisasi tersebut menilai tindakan hukum terhadap pengembang sering kali sulit, bahkan bisa tidak mungkin dilakukan. Martin Boyd dari charity tersebut menyatakan setelah tragedi Grenfell, terlihat bahwa “the law is still stacked against the leaseholders who have a limited means of redress for building defects”.

Boyd menjelaskan salah satu kendalanya adalah leaseholder tidak memiliki “legal right to survey the building when they buy, so they have no means of knowing if a site has problems”. Ia menyebut charity tersebut menyerukan agar pemerintah memperkuat skema garansi pada pengembangan baru.

Dari pihak pemerintah, seorang juru bicara Kementerian Perumahan, Komunitas dan Pemerintah Daerah (Ministry of Housing, Communities and Local Government) menyatakan, “The situation at Admiral Court is completely unacceptable and we strongly urge those responsible to carry out vital building works urgently.” Ia menambahkan bahwa melalui Commonhold and Leasehold Reform Bill, pemerintah akan “going further to strengthen protections for leaseholders”, termasuk menjadikan commonhold sebagai default tenure untuk flat baru agar penghuni memiliki kepemilikan dan kendali penuh sejak awal.

Dukungan sementara dari Croydon Churches Housing Association

Sementara itu, juru bicara Croydon Churches Housing Association (CCHA), yang merupakan leaseholder untuk 22 apartemen di Admiral Court, mengatakan freeholder bertanggung jawab “responsible for identifying and implementing an effective long-term solution”. CCHA mengaku terus berkomunikasi dengan freeholder dan managing agent, serta mendesak tindakan mendesak sekaligus kejelasan waktu pemanas dan air panas dapat dipulihkan.

Dalam masa menunggu, CCHA mengatakan telah memindahkan sebagian penyewa ke akomodasi alternatif, menyediakan electric heaters untuk seluruh penghuni, serta menawarkan temporary electric showers. Untuk shared ownership leaseholders, mereka juga memberi voucher kebutuhan pokok, sementara CCHA menyatakan bersedia menanggung tambahan biaya listrik.

BBC kemudian menghubungi Grangeford Asset Management, yang mengelola freehold, serta perusahaan yang membangun flat, Cube Construction, untuk meminta komentar.