Peristiwa

Gempa NTT M: Dua Ibu Melahirkan di Puskesmas Watubaing, Sikka, saat Gempa Susulan; 68 Orang Meninggal

×

Gempa NTT M: Dua Ibu Melahirkan di Puskesmas Watubaing, Sikka, saat Gempa Susulan; 68 Orang Meninggal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Gempa NTT M, Dua Ibu Melahirkan di Puskesmas Watubaing Sikka saat Gempa Susulan, 68 Orang Meninggal

jurnalistik.co.id – Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) pukul 05.58 WITA meninggalkan rangkaian dampak berkelanjutan hingga gempa susulan kembali terjadi. Peristiwa itu juga dilaporkan menewaskan 68 orang. Di Kabupaten Sikka, kepanikan muncul berulang kali karena guncangan susulan menimpa wilayah sekitar.

Sejak gempa utama terjadi, guncangan susulan terus terasa dan memaksa tenaga kesehatan bergerak cepat. Di Puskesmas Watubaing, para petugas mengevakuasi pasien, terutama kelompok rentan seperti ibu hamil, anak-anak, dan lansia, ke luar gedung demi keselamatan. Upaya penyelamatan dilakukan sambil menyiapkan penanganan medis bagi pasien yang masih membutuhkan layanan segera.

Drama kemanusiaan kembali muncul pada Senin (17/8/2026) ketika gempa susulan menerpa Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka. Pada saat yang sama, terdapat dua orang ibu hamil yang sedang berada dalam proses persalinan dan mendapat perawatan medis di Puskesmas Watubaing. Situasi tersebut membuat para nakes harus menyesuaikan langkah pertolongan secara cepat ketika guncangan kembali terjadi.

Salah satu ibu berhasil melahirkan di dalam ruangan puskesmas saat proses persalinan tengah berlangsung. Pada peristiwa itu, Herlina Bunga, ibu hamil asal Desa Lenandareta, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, menjalani proses persalinan dalam kondisi darurat dan melahirkan bayi perempuan yang diberi nama Agustin Gempita Aurora.

Namun ketika penanganan pascamelahirkan masih berlangsung, gempa susulan datang lagi sehingga pasien dan bayi harus segera dievakuasi ke luar gedung. Satu ibu hamil lainnya terpaksa bersalin di luar area puskesmas saat proses evakuasi berlangsung. Ia akhirnya bersalin di bawah pohon, tepat di area belakang Gedung Puskesmas Watubaing.

Kondisi lapangan saat itu turut menunjukkan keterbatasan fasilitas. Tidak adanya tenda darurat membuat para nakes menutup tempat tidur pasien menggunakan kain dan sarung milik pribadi. Meski harus menghadapi keterbatasan, kedua ibu beserta bayi mereka tetap dapat diselamatkan dan dinyatakan dalam kondisi sehat.

Meski proses persalinan dan penanganan dasar berjalan, tidak semua pasien bisa langsung kembali ke kondisi normal. Salah satu pasangan ibu dan anak terpaksa dirujuk ke RSUD TC Hillers Maumere untuk perawatan lanjutan. Kepala Puskesmas Watubaing, Maria Magdalena, menjelaskan kondisi pelayanan saat gempa susulan.

“Kami pelayanan di luar. Satu orang ibu melahirkan di luar ruangan,” kata Kepala Puskesmas Watubaing, Maria Magdalena, Senin (17/8/2026).

Hingga Senin sore, tercatat ada enam pasien, termasuk satu ibu hamil, yang membutuhkan perawatan medis di area terbuka luar Gedung Puskesmas Watubaing. Jumlah tersebut muncul karena minimnya ketersediaan tenda darurat di lokasi, sehingga petugas harus menempatkan pasien pada ruang terbuka selama pengamatan dan penanganan berlangsung.

Dampak juga terasa di Nagekeo Selain Kabupaten Sikka, dampak kerusakan parah juga melanda wilayah Kabupaten Nagekeo. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT per Senin (17/8/2026), sebanyak 2.056 warga Nagekeo dilaporkan mengungsi.

Gempa menyebabkan kerusakan ribuan unit rumah warga serta fasilitas pelayanan dasar. Salah satu kelompok terdampak berada di Dusun D, RT 15, Desa Pagamogo, Kecamatan Nangaroro. Warga menyampaikan bahwa kondisi permukiman mereka semakin tidak layak huni sehingga memilih bertahan di luar ruangan.

Yanuarius Roga, warga RT 15 Desa Pagamogo, mengungkapkan kondisi yang dialami keluarganya dan warga sekitar. Ia mengatakan rumah-rumah mengalami kerusakan sehingga tidak dapat ditempati secara aman, dan warga menggunakan terpal sebagai tempat berteduh.

“Hingga saat ini rumah-rumah warga di Dusun D RT 15 mengalami kerusakan dan tidak layak huni. Warga terpaksa mengungsi dan tinggal di luar rumah dengan menggunakan terpal sebagai tempat berteduh,” ungkap Yanuarius, Senin.

Yanuarius menambahkan bahwa keadaan warga saat ini sangat terisolir dan membutuhkan uluran bantuan darurat dari pemerintah maupun pihak terkait. Pernyataan itu menggambarkan bahwa selain proses penanganan medis di Sikka, kebutuhan dukungan lapangan di daerah pengungsian juga menjadi prioritas setelah gempa.