jurnalistik.co.id – Jerhemy Owen, kreator TikTok, menggerakkan kampanye Wenanam sebagai ajakan agar masyarakat ikut menanam pohon sekaligus menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan. Program ini berjalan lewat ruang digital, tetapi muaranya diarahkan ke aktivitas nyata di lapangan.
Wenanam telah berkontribusi pada penanaman hingga 250.000 pohon, mulai dari Jawa Barat hingga Aceh. Owen menjelaskan, gerakan ini tidak hanya menarget pemulihan area yang mengalami kerusakan lingkungan, melainkan juga berupaya mengajak anak muda mengambil langkah sederhana namun konsisten.
Dalam acara Media Gathering “#Serunya17an: Karya Positif untuk Indonesia, Cara Kreator Muda Memanfaatkan TikTok untuk Menggerakkan Perubahan Nyata” di Jakarta pada Selasa (18/8/2026), foto kegiatan menampilkan Jerhemy Owen (kiri), Elsa Novia (tengah), dan Hendri Alejandro (kanan).
Owen menuturkan bahwa Wenanam lahir dari proses penyusunan gagasan yang panjang. “Jadi kita brainstorm, akhirnya kita mengeluarkan program monanam, di tahun lalu kita menanam 10.000 pohon, awal targetnya 5.000 pohon di Gober, di Lahan Kritis,” ujar Owen dalam acara tersebut.
Berdasarkan penjelasan Owen, program yang kemudian berkembang menjadi gerakan Wenanam berangkat dari upaya memberi bentuk terhadap kepedulian lingkungan yang ingin dibawa ke kehidupan sehari-hari. Ia juga menekankan bahwa pendekatan yang dipakai disusun agar lebih dekat dengan cara generasi muda berinteraksi.
Ia menyebut latar pendidikannya ikut memengaruhi arah kreasinya. Owen berangkat dari pendidikan ilmu lingkungan, termasuk menempuh S1 ilmu lingkungan di Belanda dan lulus pada Agustus 2024.
Gagasan Wenanam kemudian muncul setelah Owen berdiskusi dengan sejumlah kreator serta tim TikTok Global dan TikTok Indonesia pada kegiatan lingkungan di tahun 2024. Dari rangkaian diskusi itu, ia dan tim mencari cara agar perhatian terhadap lingkungan dapat diwujudkan lewat langkah yang terasa mudah dilakukan.
Owen menggambarkan adanya dorongan kuat dari anak muda untuk berkontribusi. “Yang saya lihat sebagai content creator juga mahasiswa lingkungan, yang saya lihat orang-orang di zaman sekarang, gen Z, generasi-generasi muda, itu sangat kuat, dan sangat ingin berkontribusinya terhadap lingkungan,” kata Owen.
Menurut Owen, keinginan tersebut sering kali belum bertemu dengan panduan tindakan yang konkret. Ia menilai banyak orang sebenarnya ingin lingkungan yang lebih bersih, tetapi masih kesulitan menjawab pertanyaan paling dasar: bagaimana memulai dan langkah apa yang harus dilakukan.
Berita Terkait
“Saya ingin lingkungan bersih, Indonesia bersih, ingin Jakarta bersih, tapi ada bagian yang mereka enggak dapet adalah, caranya gimana, langkahnya gimana,” ujarnya. Dari situlah, Owen menyusun mekanisme yang membuat tindakan berhubungan langsung dengan aktivitas digital yang sudah akrab bagi pengguna.
Wenanam dirancang dengan mekanisme sederhana, sehingga partisipasi masyarakat tidak bergantung pada urusan teknis yang rumit. Owen menegaskan, masyarakat tidak perlu melakukan donasi atau mengurus proses penanaman.
Dalam skema yang ia jelaskan, satu bentuk keterlibatan yang ditawarkan adalah berbagi konten penanaman di TikTok. Owen menyampaikan bahwa pengikutnya diminta membagikan video penanaman pohon.
Ia juga menyebut cara perhitungannya secara jelas. “Jadi mereka tidak perlu ribet-ribet donasi, mereka gak perlu ribet-ribet ngurusin penanaman pohon, mereka gak perlu ribet-ribet ngototin tangan, gak perlu ribet-ribet cari tempat penanaman, mereka tinggal share video di TikTok saya 15 kali, itu sama-sama adalah satu pohon,” tuturnya.
Dengan pendekatan ini, partisipasi dinilai tidak hanya berhenti pada perhatian pasif. Owen mendorong adanya perpindahan dari sekadar menonton atau menyukai konten menuju tindakan yang terukur, sekaligus tetap menjaga agar prosesnya dapat dilakukan banyak orang tanpa hambatan logistik.
Owen menyebut bahwa gerakan seperti Wenanam dapat menjadi jembatan antara niat dan tindakan, terutama bagi generasi muda yang ingin terlibat. Ia melihat potensi besar dari format video pendek dan budaya berbagi di platform, untuk membantu orang menemukan langkah yang bisa dilakukan.
Dari sisi target dan capaian, program yang dikaitkan dengan proses awal penanaman juga menunjukkan kesinambungan. Owen mencatat bahwa pada tahun sebelumnya penanaman telah mencapai 10.000 pohon, serta menyebut target awal 5.000 pohon yang diarahkan pada konteks “Gober” di “Lahan Kritis”.
Perkembangan Wenanam lalu diarahkan pada perluasan jangkauan hingga mencapai angka penanaman 250.000 pohon lintas wilayah, dari Jawa Barat hingga Aceh. Owen menilai, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa penggerakan perubahan lingkungan bisa dilakukan lewat kombinasi ide kreator dan mekanisme partisipasi yang mudah dijalankan.
Pada akhirnya, Wenanam menempatkan kampanye lingkungan sebagai gerakan kolaboratif, di mana partisipasi masyarakat dapat terjadi lewat tindakan sederhana yang tetap punya dampak nyata. Dengan menautkan aktivitas digital ke aksi penanaman, Owen berusaha membuat kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada wacana, tetapi bergerak menuju perbaikan yang terlihat.












