jurnalistik.co.id – Di Masjid Al Ihsan, Desa Tambakroto, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, kegiatan Jumat dan kajian pagi tidak hanya berhenti pada ibadah. Ada cara lain yang membuat aktivitas masjid ikut bergerak dari hasil sedekah rongsok yang dikumpulkan warga.
Senin (17/8/2026), di sudut kompleks masjid terlihat barang-barang bekas yang sebelumnya tampak tidak bernilai lagi. Mulai dari lemari es yang sudah berkarat, tumpukan kardus, hingga karung berisi berbagai jenis barang. Di balik penampakan itu, pengelolanya menjelaskan bahwa bekas tersebut dipilah dan hasilnya diarahkan untuk kebutuhan sosial serta pendidikan.
Gerakan ini dikenal sebagai Pasar Sodaqoh. Dari informasi yang disampaikan pengurus setempat, inisiatif tersebut turut membantu warga kurang mampu sekaligus menambah insentif guru. Dengan kata lain, rongsok tidak berhenti menjadi sampah, melainkan menjadi sumber dukungan untuk kebutuhan masyarakat di sekitar masjid.
Pujo Antoko (38), sekretaris Pengurus Ranting Muhammadiyah Tambakroto, menceritakan bahwa sebelum pola itu berjalan, dana kegiatan masjid lebih banyak bertumpu pada infak jemaah, terutama yang terkumpul dari shalat Jumat. Karena ketergantungan tersebut, ia dan tim mulai mempertimbangkan sumber pendapatan lain yang bisa dijalankan dengan lebih berkelanjutan.
“Awalnya kita berpikir, apa yang sekiranya bisa menjadi pemasukan untuk kegiatan masjid. Tapi, justru inisiatif itu terus maju berkemajuan,” ujar Pujo saat ditemui di serambi masjid.
Awalnya muncul gagasan untuk membangun sistem penampungan rongsok sebagai bentuk usaha. Namun pendekatan itu menuntut modal karena barang bekas harus dibeli terlebih dahulu sebelum dijual kembali. Dari pertimbangan tersebut, cara pandang kemudian bergeser menjadi konsep sedekah rongsok.
Pujo menjelaskan perubahan arah pemikiran itu dengan kalimat, “Bagaimana jika warga tidak menjual rongsok kepada masjid, tetapi menyedekahkannya ? Nah, dari sini mulai menyala-nyala idenya,”. Lewat perubahan tersebut, warga tidak diminta bertransaksi, melainkan mengalihkan barang yang tidak terpakai menjadi bentuk kepedulian.
Berita Terkait
Menurut keterangan Pujo, ide itu mulai dikenalkan dalam kajian Ahad pagi pada 2019. Saat program diperkenalkan, jamaah diberi pemahaman bahwa Masjid Al Ihsan bersedia menerima barang bekas sebagai sedekah. Jenis sumbangannya mencakup botol plastik, kardus, pakaian, sepatu, sandal, hingga barang rumah tangga yang sudah tidak digunakan.
“Jadi jemaah bisa memberikan sedekah dalam bentuk barang bekas, tidak harus dalam bentuk uang,” kata Pujo.
Setelah terkumpul, barang-barang kemudian dipilah. Sebagian dijual sebagai rongsok, sementara bagian lainnya masih dimanfaatkan. Dari proses tersebut, masjid mendapatkan nilai manfaat yang selanjutnya digunakan untuk berbagai kegiatan, termasuk upaya pendidikan, penambahan insentif guru, dan pembangunan sekolah.
Bagi penggerak Pasar Sodaqoh, inti cerita bukan pada jenis barang yang terkumpul, melainkan pada cara pandang yang dibangun sejak 2019: mengajak warga melihat bekas sebagai peluang kontribusi. Dengan alur yang berlangsung di lingkungan masjid, kegiatan ini memberi ruang bagi jamaah untuk ikut terlibat, sementara hasilnya diarahkan pada kebutuhan warga yang membutuhkan dukungan serta program pendidikan.
Dengan semakin dikenalnya mekanisme tersebut, sudut-sudut kompleks masjid yang semula dipenuhi barang tidak terpakai berubah menjadi simbol bahwa sedekah bisa datang dari benda-benda sederhana. Rongsokan yang tampak berakhir di tangan terakhir akhirnya bisa kembali memberi manfaat, termasuk bagi guru dan pendidikan di Pekalongan melalui Pasar Sodaqoh.
Pujo menegaskan bahwa perubahan itu tidak sekadar mengganti sumber pemasukan, melainkan membentuk alur yang lebih bisa dijalankan dari waktu ke waktu. Ketika masjid mulai merencanakan mekanisme sedekah rongsok, pengurus juga berusaha agar dukungan yang terkumpul tidak hanya bergantung pada momen tertentu seperti infak dari jamaah setelah shalat Jumat.
Dalam praktiknya, partisipasi jamaah diarahkan pada kebiasaan memberi barang yang sudah tidak dipakai, sesuai pemahaman yang pernah disampaikan dalam kajian Ahad pagi pada 2019. Koleksi kemudian masuk ke tahap pemilahan, sehingga barang tidak langsung berakhir sebagai rongsok bernilai jual, melainkan dipetakan sesuai kemungkinan pemanfaatannya.
Hasil pemilahan inilah yang kemudian disalurkan untuk berbagai kebutuhan di sekitar masjid, mulai dari upaya pendidikan hingga penambahan insentif guru dan rencana pembangunan sekolah. Dengan begitu, kegiatan di kompleks masjid tetap bergerak: benda-benda yang semula dianggap tak berguna bisa kembali menjadi bagian dari dukungan nyata bagi warga, tanpa mengubah inti kegiatan ibadah yang berlangsung di hari-hari rutin.












