jurnalistik.co.id – Klepon Gianyar dari Bali memiliki ciri yang langsung terasa begitu satu gigitan masuk ke mulut. Perbedaan paling menonjol ada pada gula merahnya yang tidak disiapkan dengan cara diiris, melainkan dicairkan lebih dulu sebelum masuk ke adonan.
Ida Ayu Putu Laksmi Dewi (48) menjalankan resep itu dengan cara turun-temurun. Usaha klepon ini dirintis sejak 1980-an oleh mertuanya, almarhum Desak Ketut Rai, dan hingga kini cita rasa tersebut tetap dipertahankan.
Di banyak daerah, gula merah umumnya dipotong atau diiris, lalu kemudian dibaurkan ke isian adonan. Namun, pada klepon Gianyar yang dibuat Ida, gula merah dicairkan terlebih dahulu sehingga saat digigit muncul sensasi “crot” dari bagian dalam.
Ida menjelaskan perbedaan itu dengan bahasa yang sederhana. “Kalau di Jawa gulanya itu kan diiris. Nah, kalau di Bali itu kita cairkan dulu. Sehingga ketika orang makan, ada sensasi crot di dalamnya,” katanya saat ditemui Kompas.com di kawasan Summarecon Bekasi, Jumat (14/8/2026).
Selain teknik pencairan, stabilitas rasa juga dijaga lewat pemilihan bahan. Gula yang dipakai Ida didatangkan langsung dari Bali melalui pemasok langganan keluarga, agar karakter manisnya konsisten setiap kali produksi dilakukan.
Ida menekankan bahwa pilihan bahan tersebut membuat keseimbangan rasa tetap terjaga. “Jadi kita bisa mempertahankan rasa isian gulanya. Antara manis sama asinnya itu seimbang,” ujarnya.
Tekstur kulit klepon juga menjadi bagian yang tidak boleh sekadar “menggantung” pada isian. Menurut Ida, kulit yang membungkus klepon dibuat lembut sekaligus kenyal, hingga rasanya di lidah terasa seperti mochi.
Ketika dicicipi langsung, ukuran klepon buatan Ida memang terasa lebih kecil dibanding klepon yang lazim ditemui. Bentuknya pun sedikit berbeda, tetapi Ida mengatakan perbedaan ukuran tersebut tidak membuat kenikmatan berkurang.
Berita Terkait
Rasa manis yang awalnya terasa pelan berubah menjadi lebih tegas begitu bagian gula merah mencair dan pecah di mulut. Di saat yang sama, parutan kelapa yang membalut bagian luar memberikan rasa gurih sehingga klepon tidak terasa monoton.
Perpaduan manis dari isian dan gurih dari lapisan luar itu membuat klepon terasa lebih seimbang. Ida bahkan menilai satu koin saja sering kali terasa belum cukup hanya untuk sekadar mencicipi, karena sensasi tekstur dan rasa muncul berlapis.
Asal-usul usaha ini pun berangkat dari kebutuhan keluarga, bukan semata mengejar tren. Ida menceritakan, pada mulanya usaha klepon dijalankan sang mertua untuk membantu perekonomian keluarga.
Seiring waktu, klepon yang mereka buat mulai dikenal melalui berbagai perlombaan makanan tradisional di Kabupaten Gianyar. Keluarga Ida tercatat tiga kali mengikuti perlombaan, dan pada setiap kesempatan meraih juara pertama.
Prestasi tersebut kemudian membuka jalan yang lebih luas bagi usaha keluarga. Saat produk mereka tampil di berbagai ajang dan kegiatan, klepon Gianyar semakin dikenal karena karakter rasa yang khas—terutama pada gula merah cair yang membuat setiap gigitan terasa “pecah” dan langsung meninggalkan rasa manis yang terasa jelas.
Keunikan klepon Gianyar ini terasa bukan hanya saat gula merahnya “meledak” setelah gigitan, tetapi juga pada cara rasanya berkembang dari awal sampai akhir. Ketika kulit yang kenyal namun lembut digigit, sensasi gurih dari kelapa langsung menyatu dengan manis yang awalnya halus. Setelah itu, barulah karakter gula cair menjadi titik penekanan rasa, sehingga setiap potongan terasa memiliki ritme sendiri, tidak berhenti pada rasa manis semata.
Dalam praktiknya, Ida menjaga agar kualitas tidak berubah dari satu proses ke proses berikutnya. Ia menaruh perhatian pada bahan-bahan yang dipakai, termasuk gula merah yang didapat dari pemasok langganan keluarga di Bali. Dengan begitu, rasa manis dan asin pada isian dapat tetap berada pada posisi yang sama, membuat klepon yang keluar dari dapur mereka terasa konsisten dan mudah dikenali.
Dibalik tampilannya yang sederhana, usaha klepon ini tumbuh karena ketekunan keluarga dan pengalaman yang terus diasah. Ida menegaskan bahwa dulu mereka merintis dari dorongan membantu kebutuhan rumah tangga, lalu berkembang ketika produk mereka sering tampil dalam berbagai perlombaan makanan tradisional di Gianyar. Karena catatan juara pertama yang mereka raih sebanyak tiga kali, nama klepon Gianyar semakin luas dikenal, dan akhirnya banyak orang mengingatnya lewat perpaduan rasa “crot/pecah” dari gula cair serta tekstur kulit yang seperti mochi.












