Teknologi

Bali Akan Punya Trem Listrik Berbasis Baterai di 2028, Begini Rutenya

×

Bali Akan Punya Trem Listrik Berbasis Baterai di 2028, Begini Rutenya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bali Diam-Diam Akan Punya Trem Baterai di 2028, Ini Rutenya

jurnalistik.co.id – Pemerintah Provinsi Bali bersama Pemerintah Kabupaten Badung dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menindaklanjuti pengembangan transportasi perkeretaapian di Pulau Dewata. Rencananya, akan dibangun trem listrik berbasis baterai yang menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan kawasan Canggu, Kabupaten Badung.

Moda trem dipilih karena dinilai lebih selaras dengan karakter Bali. Berbeda dengan MRT maupun LRT, trem yang dirancang menggunakan teknologi baterai, sehingga tidak memerlukan kabel listrik di sepanjang jalur.

Rute dan rancangan layanan

Trase awal yang disiapkan memiliki panjang sekitar 12 km, dengan koridor Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai–Canggu. Jalur dirancang menggunakan dua lintasan, termasuk area persilangan, untuk mendukung kelancaran operasional.

Dari sisi ukuran, trem juga direncanakan relatif kecil. Lebar trase diperkirakan sekitar tiga meter, sedangkan dimensi trem sedikit di atas dua meter atau bahkan lebih kecil dibandingkan bus.

Kebutuhan mendesak di koridor Bandara–Canggu

Pengembangan trem ditargetkan menjadi salah satu cara untuk meredam kepadatan lalu lintas di wilayah Badung. Kondisi tersebut paling terasa pada koridor Bandara–Canggu yang memiliki mobilitas sangat tinggi.

Dalam satu hari, diperkirakan sekitar 150 ribu orang melakukan pergerakan di kawasan tersebut. Aktivitas tersebut juga diiringi dengan jumlah kendaraan yang mencapai sekitar 80 ribu unit.

Atas dasar itu, trem diproyeksikan mampu meningkatkan konektivitas antarkawasan. Pada saat yang sama, moda ini diharapkan mengurangi ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi.

Target kapasitas dan waktu tempuh

Trem ditargetkan mendukung mobilitas masyarakat dan wisatawan sekaligus memperkuat hubungan kawasan pariwisata. Dalam kondisi maksimal, moda ini diproyeksikan mampu mengangkut sekitar 15 ribu hingga 20 ribu penumpang.

Waktu tempuh yang direncanakan sekitar 30 menit. Jeda keberangkatan antartrem dirancang sekitar 10 menit, sehingga saat beroperasi secara maksimal kapasitas angkutnya diperkirakan mencapai sekitar 60 ribu penumpang per hari.

Angka tersebut ditujukan untuk mengakomodasi sekitar 40% kepadatan mobilitas pada koridor Bandara–Canggu. Dengan demikian, sistem diharapkan dapat menekan volume kendaraan yang melintas di jalur tersebut.

Menjadi tindak lanjut kerja sama dan menjaga karakter Bali

Gubernur Bali Wayan Koster menyebut kerja sama ini merupakan tindak lanjut atas usulan Kementerian PPN/Bappenas dan Pemprov Bali untuk memperbaiki fasilitas serta sistem transportasi di Bali. Perbaikan tersebut, khususnya, diarahkan pada wilayah Kabupaten Badung yang menghadapi persoalan kepadatan lalu lintas.

Menurut Koster, konsep trem kini semakin konkret sebagai alternatif untuk mengatasi kemacetan di jalur Bandara–Canggu. Namun, pembangunan transportasi harus tetap memperhatikan karakteristik Bali.

“Pengembangan transportasi harus tetap memperhatikan keunikan Bali, menjaga keindahan Bali, mendukung pariwisata dan tidak mengganggu kehidupan masyarakat,” kata Koster dikutip dari website Pemprov Bali, Sabtu (26/9/2026).

Koster menegaskan, pembangunan trem perlu mempertimbangkan keberadaan hotel, akomodasi wisata, objek pariwisata, lingkungan, permukiman, serta kehidupan masyarakat yang berada di sepanjang trase. Kenyamanan wisatawan juga menjadi perhatian dalam pengembangan moda transportasi tersebut.

“Kenyamanan wisatawan harus tetap dijaga. Keberadaan trem justru diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bali,” ujar Koster.

Pelibatan pihak di koridor pembangunan

Pemerintah juga akan melibatkan desa adat serta berbagai pemangku kepentingan yang berada di sepanjang koridor pembangunan. Pelaku pariwisata, hotel, dan penyedia akomodasi wisata ikut dilibatkan dalam proses pengembangan.

Pelibatan tersebut dimaksudkan agar pembangunan trem tidak hanya berorientasi pada aspek infrastruktur. Upaya ini juga diarahkan agar kebutuhan sosial, ekonomi, lingkungan, dan kepentingan masyarakat dapat dipertimbangkan sejak tahap pengembangan.

Konsep trem dirancang dengan sejumlah karakteristik. Di antaranya ramah lingkungan, menggunakan teknologi baterai, memiliki tingkat kebisingan rendah, berukuran relatif kecil, serta dapat terintegrasi dengan sistem transportasi lainnya. Dalam konteks pengembangan teknologi, trem otonom bertenaga baterai juga digambarkan sebagai hasil kolaborasi PT INKA (Persero) dan Institut Teknologi Bandung.

Jadwal pembangunan

Berdasarkan rencana awal, groundbreaking pembangunan trem ditargetkan berlangsung pada Maret 2027. Trase pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2028.

Sementara itu, seluruh jalur hingga Canggu ditargetkan selesai dan beroperasi pada 2029. Dengan tahapan tersebut, rencana layanan trem diharapkan dapat berjalan bertahap sesuai kesiapan pembangunan.