Daerah

Kemarau di Demak Mengeringkan Sungai Berretak, Ribuan Warga Desa Ngaluran Krisis Air Bersih

×

Kemarau di Demak Mengeringkan Sungai Berretak, Ribuan Warga Desa Ngaluran Krisis Air Bersih

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Potret Kemarau di Demak, Sungai Mengering Retak-retak dan Ribuan Warga Krisis Air Bersih

jurnalistik.co.id – Kemarau ekstrem yang melanda Kabupaten Demak, Jawa Tengah, membuat kondisi sumber air ikut menurun tajam. Di Desa Ngaluran, Kecamatan Karanganyar, kekeringan terlihat dari sungai yang melintas hingga tampak dasar sungainya retak-retak.

Warga setempat melaporkan bahwa sungai avour yang menjadi andalan aliran tidak lagi membawa air seperti biasanya. Pantauan di lokasi menunjukkan dasar sungai yang kering kini ditumbuhi rumput liar karena aliran sudah lama tidak mengalir.

Dalam satu bulan terakhir, tidak ada pasokan air di area sungai tersebut. Akibatnya, permukaan dasar sungai mengalami keretakan, menandai makin beratnya dampak kekeringan terhadap lingkungan sekitar.

Situasi ini berdampak langsung pada layanan air bersih dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas). Ketika bahan baku dari irigasi avour tidak lagi tersedia, sejumlah Pamsimas berhenti beroperasi.

Empat Pamsimas yang bergantung pada bahan baku dari irigasi avour disebut tidak lagi berjalan. Kondisi ini membuat ribuan warga harus menghadapi krisis air bersih di tengah keterbatasan sumber pengganti.

Turiyah (70), warga setempat, mengatakan ia sudah merasakan kesulitan air dalam empat bulan terakhir. Ia menghitung waktu kekeringan sejak pertengahan Mei 2026 atau bertepatan dengan bulan Besar dalam kalender Jawa.

“Sejak (bulan) Besar itu, Suro, Safar, Maulid, empat bulan, sudah tidak ada hujan,” ujar Turiyah pada Selasa (18/8/2026). Ia menyampaikan penilaian musim yang dirasakan dari tidak adanya hujan dalam periode tersebut.

Selama ini, Turiyah mengandalkan air dari jeding atau penampung air yang berada di kampungnya. Namun ketika kekeringan makin panjang, ketersediaan air dari penampung tersebut ikut berkurang hingga tidak bisa dipakai seperti biasa.

Karena kondisi saat ini, ia terpaksa mencari air hingga jarak sekitar 3 kilometer ketika tidak ada distribusi bantuan air bersih. “Biasanya ya jeding itu, jedingnya tidak ada (air) ya nyari di sana, rebutan ya Allah,” katanya.

Menurut Turiyah, upaya mencari air menjadi aktivitas yang berulang dan menuntut kesabaran, terutama saat warga lain juga mengalami hal serupa. Kebutuhan harian yang semula mudah dipenuhi kemudian bergantung pada peluang distribusi atau temuan air di lokasi lain.

Di sisi lain, Kepala Dusun Kalitekuk, Desa Ngaluran, Badawi menyebut dampak kekeringan sudah menyentuh jumlah warga yang besar. Ia mengatakan lebih dari 3.000 orang mengalami krisis air bersih akibat Pamsimas mati dan sumur mengering.

“Jadi (air) sumur sudah habis, termasuk sumur-sumur warga itu ya sudah kosong,” kata Badawi saat ditemui di Balai Desa Ngaluran, Senin (10/8/2026). Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keterbatasan tidak hanya terjadi pada sungai, tetapi juga pada sumur-sumur warga.

Dalam upaya penanganan, Pemerintah Desa Ngaluran telah menyiapkan tujuh unit Pamsimas. Namun, dari jumlah tersebut, empat Pamsimas tidak beroperasi karena mengambil bahan baku dari sungai yang kini kering.

Badawi menjelaskan, kapasitas Pamsimas yang tersedia tidak mencukupi untuk seluruh kebutuhan warga. “Memang kita butuh banyak, 7 Pamsimas tidak bisa meng-cover semua. Yang 4 tidak, karena sumbernya sungai,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pihak desa sedang berupaya mengajukan bantuan Pamsimas tambahan ke Pemerintah Kabupaten Demak. Harapan mereka adalah upaya tersebut dapat membuahkan hasil agar layanan air bersih kembali bisa berjalan lebih merata.

Dengan sungai yang retak-retak dan tidak mengalir, desa menghadapi tantangan yang tidak hanya bersifat sementara. Kekeringan yang berlangsung sejak pertengahan Mei dan dirasakan hingga Agustus membuat warga harus menyesuaikan cara pemenuhan air sehari-hari dalam waktu yang panjang.

Di tengah keterbatasan itu, kondisi di Desa Ngaluran memperlihatkan bagaimana krisis air bersih dapat berkembang ketika sumber bahan baku utama ikut berhenti berfungsi. Saat irigasi tidak lagi menyediakan air, sistem Pamsimas yang bergantung pada aliran tersebut ikut lumpuh.

Situasi ini menempatkan ribuan warga pada kebutuhan mendesak akan pasokan air yang stabil. Upaya desa untuk mendapatkan dukungan tambahan menjadi tumpuan sementara sambil menunggu perbaikan kondisi sumber air dan berlanjutnya langkah penanganan dari tingkat kabupaten.