jurnalistik.co.id – Perbatasan negara tidak selalu dapat dijangkau dengan perjalanan darat yang cepat. Di Laut Natuna Utara, saya menempuh perjalanan panjang untuk akhirnya tiba di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Serasan, yang berada di seberang Laut Natuna Utara.
Perjalanan saya berangkat dari udara lebih dulu, menuju Serasan melalui rute yang mengombinasikan penerbangan dan pelayaran. Dari perjalanan itu, jarak terasa bukan sekadar angka, melainkan waktu yang dihabiskan untuk benar-benar mendekati titik batas.
Dari Pontianak menuju pelabuhan
Penerbangan dimulai dari Jakarta menuju Bandara Internasional Supadio, Pontianak. Waktu tempuhnya sekitar 1 jam 40 menit, cukup untuk membuat saya menaruh perhatian pada detail pemandangan dari jendela pesawat.
Saat pesawat melintas, saya melihat aliran Sungai Kapuas yang memanjang sekaligus menangkap gambaran perubahan bentang alam. Setelah pesawat mendarat di Pontianak, perjalanan berlanjut ke Pelabuhan Dwikora.
Di tahap ini, aktivitas bergeser dari suasana bandara ke ritme pelabuhan. Proses peralihan perjalanan memberi jeda sebelum saya benar-benar masuk ke laut lepas.
Pelayaran 15 jam menyusuri perairan
Pada Jumat (14/8/2026) pukul 19.00 WIB, saya berangkat menuju Natuna menggunakan kapal Pelni. Perkiraan waktu tempuh dari Pontianak ke Pulau Serasan di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, sekitar 15 jam, dengan rute yang menyusuri perairan hingga ke laut lepas.
Selama berada di kapal, pengalaman perjalanan kelas ekonomi menghadirkan dinamika tersendiri. Kapal yang saya tumpangi memiliki lima lantai, dan tiap lantai menjalankan fungsi yang berbeda-beda.
Lantai empat digunakan untuk musala, sementara dek paling atas menjadi area kafetaria bagi penumpang yang ingin bersantai. Pada bagian lain, tersedia area yang lebih luas khusus untuk tempat tidur penumpang kelas ekonomi, menempati dua lantai.
Berita Terkait
Fasilitas pendukung juga terasa tersedia untuk kebutuhan sehari-hari selama pelayaran. Kamar mandi tersedia di setiap lantai, sehingga pergerakan penumpang tidak bergantung pada satu titik layanan saja.
Di sela waktu perjalanan, saya mengikuti jadwal makan yang diberikan kapal. Penumpang mendapatkan jatah makan malam dan pagi dengan menu nasi, ikan, serta potongan sosis, yang menemani hari-hari di atas kapal.
Yang paling mudah saya tangkap dari kondisi perjalanan adalah karakter laut pada musim kemarau. Laut cenderung tenang; saya tidak berjumpa gelombang tinggi maupun angin yang kelewat kencang.
Rasa tenang di laut itu membuat ritme perjalanan lebih stabil. Pergerakan tidak terasa memaksa, sehingga suasana dalam kapal tetap bisa dirasakan sebagai ruang transisi menuju Serasan.
Tiba di Pelabuhan Serasan
Setelah melewati malam di laut, saya akhirnya merasakan perubahan suasana saat kapal merapat. Kapal tiba di Pelabuhan Serasan pada Sabtu (15/8/2026) pukul 10.31 WIB.
Momentum kedatangan menandai akhir perjalanan yang panjang dari Pontianak menuju PLBN Serasan. Serasan sebagai kawasan perbatasan menjadi tujuan akhir saya, sebuah gerbang yang menghubungkan wilayah Indonesia dengan lanskap laut yang menghadap Natuna Utara.
Dari pengalaman ini, perjalanan laut terasa seperti proses bertahap: mulai dari penerbangan 1 jam 40 menit dari Jakarta ke Pontianak, lalu berpindah dari Pelabuhan Dwikora ke kapal Pelni pada Jumat pukul 19.00 WIB, hingga akhirnya tiba setelah sekitar 15 jam menyusuri perairan.
Dengan segala fasilitas yang ada di kapal—lima lantai dengan musala di lantai empat, kafetaria di dek paling atas, area tidur ekonomi di dua lantai, serta kamar mandi di setiap lantai—perjalanan tetap memiliki tatanan. Di sisi lain, kondisi laut yang tenang pada musim kemarau turut menentukan kenyamanan selama pelayaran.
Pada akhirnya, sampai di PLBN Serasan bukan sekadar soal mencapai lokasi, melainkan soal sampai pada titik batas negara dengan benar-benar mengalami proses menuju sana. Perjalanan yang memakan waktu belasan jam itu justru membuat keberadaan PLBN terasa lebih nyata, karena saya tiba setelah menghabiskan waktu di laut, bukan hanya singgah sesaat di ujung tujuan.












