Daerah

SPPG Dapur MBG Terpasang di Pulau Paling Ujung Indonesia

×

SPPG Dapur MBG Terpasang di Pulau Paling Ujung Indonesia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ada Dapur MBG di Pulau Paling Ujung Indonesia Ini

jurnalistik.co.id – Di Pulau Serasan, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, pemerintah menempatkan sebuah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang juga dikenal sebagai dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Fasilitas ini berada di kawasan perbatasan dan menjadi bagian dari upaya pemenuhan gizi bagi masyarakat sekitar.

Serasan merupakan pulau yang memiliki Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Serasan, dengan posisi strategis menghadap Laut Natuna Utara dan Laut China Selatan, serta berbatasan dengan perairan Malaysia dan Vietnam. Di lokasi itulah bangunan SPPG terlihat menonjol, dengan tampilan yang identik: dominan warna putih dan biru muda.

Pada bagian depan bangunan, terlihat dua unit sepeda motor roda tiga yang dilengkapi boks kontainer. Pada boks tersebut tertera logo Badan Gizi Nasional (BGN), menandai keterkaitan fasilitas ini dengan rantai distribusi bahan makanan untuk kebutuhan dapur.

Di awal gedung, tersedia ruang istirahat petugas serta area yang digunakan untuk prosedur penerimaan bahan makanan. Susunan ruang ini memberi gambaran bahwa alur kerja dimulai dari tahapan penerimaan, sebelum bahan bergerak ke area pengolahan.

Ruang penyimpanan dan alur penerimaan

SPPG di Pulau Serasan dilengkapi gudang khusus untuk bahan makanan. Gudang makanan basah dan gudang makanan kering dipisahkan, sehingga pengelolaan bahan dapat dilakukan dengan pengaturan yang berbeda sesuai karakter kebutuhan.

Selain itu, terdapat ruang penerimaan khusus yang dilengkapi timbangan. Ruang tersebut berfungsi untuk memastikan proses pengecekan dan pengukuran bahan dilakukan sebelum bahan masuk ke tahapan berikutnya.

Setelah tahapan penerimaan, bahan kemudian diarahkan ke area dapur utama. Penataan fasilitas ini menunjukkan fokus pada pengendalian proses dari sisi penyimpanan, pemeriksaan, hingga kegiatan pengolahan.

Pengolahan limbah melalui IPAL

Di sisi operasional kebersihan, SPPG Serasan juga memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Kepala SPPG Serasan, Muhammad Yudi Alfaro, menjelaskan keberadaan sistem tersebut dalam wawancara di lokasi pada Sabtu (15/8/2026).

“Di sini kita juga ada IPAL, di mana air sisa masak dan sisa cuci piring ditampung ke grease trap . Grease trap itu tempat menahan lemak,” ujar Yudhi kepada Kompas.com di lokasi, Sabtu (15/8/2026).

Menurut penjelasan tersebut, air yang berasal dari sisa proses memasak dan sisa pencucian piring tidak langsung dibuang, melainkan ditampung ke grease trap untuk menahan lemak terlebih dahulu. Yudhi juga menyampaikan bahwa proses penyaringan dilakukan secara bertahap.

“Kita di sini ada dua tahap ya. Grease trap pertama ada di bagian belakang, lalu yang kedua menahan sisa lemaknya lagi di situ. Setelah itu, baru airnya masuk ke IPAL untuk diolah menjadi air biasa,” lanjutnya.

Dengan mekanisme dua tahap pada grease trap, sisa lemak diupayakan tertahan sebelum air akhirnya dialirkan ke IPAL untuk diproses lebih lanjut. Tahap akhir yang disebutkan adalah pengolahan hingga air menjadi “air biasa”, sesuai penjelasan dari kepala SPPG Serasan.

Keberadaan SPPG di Pulau Serasan memperlihatkan bahwa kegiatan dapur MBG tidak hanya mencakup pengolahan makanan, tetapi juga menempatkan perhatian pada pengelolaan fasilitas pendukung, mulai dari penyimpanan bahan, ruang penerimaan, hingga sistem pengolahan limbah.

Di sekitar area penerimaan, petugas juga disediakan ruang istirahat yang berdekatan dengan prosedur pemeriksaan. Penataan yang rapat antara ruang tunggu, tahapan penerimaan, hingga alur bahan menuju dapur utama membantu proses berjalan lebih terstruktur sejak bahan diterima hingga siap diolah.

Untuk aspek kebersihan, alur pengelolaan limbah berjalan terintegrasi dengan sistem IPAL. Air sisa masak dan sisa cuci piring ditampung lebih dulu di grease trap untuk menahan lemak, lalu melewati dua tahapan penahanan sebelum akhirnya dialirkan ke IPAL. Tahap akhir menghasilkan air yang telah diolah menjadi “air biasa”, sesuai penjelasan kepala SPPG Serasan.