jurnalistik.co.id – Di halaman TK Dumhil Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie menggelar edukasi kearifan lokal sekaligus membagikan tiliaya kepada anak-anak TK pada Rabu, 30/9/2026.
Kegiatan ini diarahkan untuk menumbuhkan rasa kenal dan cinta terhadap makanan tradisional Gorontalo sejak usia dini, agar warisan kuliner tersebut terus dipahami dan diteruskan.
Idah menjelaskan bahwa tiliaya merupakan sajian khas Gorontalo berbahan dasar telur dan gula aren. Ia menekankan ciri khasnya yang memiliki tekstur lembut seperti puding.
“Tiliaya adalah makanan tradisional khas Gorontalo berbahan dasar telur dan gula aren dengan tekstur yang lembut seperti puding. Ini merupakan salah satu makanan kearifan lokal yang harus kita kenalkan kepada anak-anak sejak dini,” ujar Idah dalam sambutannya.
Menurutnya, pengenalan tiliaya tidak berhenti pada aspek budaya. Makanan tradisional tersebut juga bisa menjadi bagian dari pola konsumsi yang mendukung pemenuhan kebutuhan gizi anak.
Idah kemudian mengajak orang tua untuk turut membiasakan anak mengonsumsi makanan yang lebih sehat, sekaligus mengenalkan ragam pangan tradisional yang tumbuh di lingkungan daerah.
“Anak-anak mari kita biasakan makan sehat. Orang tua juga harus memberikan makanan yang sehat, salah satunya tiliaya. Dengan begitu, anak-anak tidak hanya mengenal makanan modern, tetapi juga mengenal makanan khas daerahnya sendiri,” tuturnya.
Lebih jauh, Wagub menyampaikan bahwa tiliaya memiliki hubungan erat dengan beragam tradisi masyarakat Gorontalo. Makanan ini kerap hadir dalam rangkaian doa arwah atau haul, serta pada acara adat pernikahan dan penyambutan tamu kehormatan.
Tiliaya juga disebut menjadi salah satu menu istimewa saat sahur, khususnya pada awal Ramadan. Dalam konteks tersebut, tiliaya hadir bukan hanya sebagai sajian, tetapi juga sebagai bagian dari suasana dan makna peristiwa yang dihadapi masyarakat.
Berita Terkait
Pada kesempatan yang sama, kegiatan di halaman TK Dumhil UNG dirangkaikan dengan Penandatanganan Kerja Sama (PKS) antara Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PPPA-PMD) Provinsi Gorontalo dengan Dekan Fakultas Ilmu Sosial, UNG terkait Edukasi Kearifan Lokal makanan Tiliaya.
Idah menegaskan bahwa pelestarian kearifan lokal perlu dimulai sedari anak-anak, karena pada fase tersebut pengetahuan terbentuk lebih mudah dan rasa bangga terhadap budaya daerah dapat tumbuh kuat.
Ia memandang pengenalan tiliaya sebagai upaya menjaga agar kuliner tradisional Gorontalo tidak hilang ditelan perubahan zaman.
“Ini kita perkenalkan lagi kepada anak-anak bangsa kita agar kearifan lokal, makanan Gorontalo ini tidak punah. Kalau di Jawa mungkin ada yang mengenalnya sebagai talam, cara memasaknya juga hampir sama,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa keberadaan makanan tradisional bisa terus hidup selama generasi muda mengetahui asal-usulnya dan memahami nilainya dalam kehidupan sosial masyarakat.
Selain materi tentang tiliaya, Idah turut mengapresiasi kebiasaan anak-anak yang membawa botol minum atau tumbler dari rumah. Menurutnya, kebiasaan tersebut memberi manfaat yang bukan hanya berhenti pada aspek kebersihan.
Idah menilai tumbler dapat berkontribusi pada kesehatan anak sekaligus mengajarkan disiplin. Anak-anak, lanjutnya, juga belajar bertanggung jawab terhadap barang yang mereka miliki masing-masing.
“Dengan membawa tumbler, selain bersih dan higienis, juga lebih hemat. Anak-anak juga belajar disiplin minum dan bertanggung jawab terhadap tumbler masing-masing. Terima kasih kepada mama-mama yang sudah mengajarkan anaknya membawa botol minuman dari rumah,” pungkasnya.
Dengan rangkaian edukasi dan kerja sama yang dilakukan di TK Dumhil UNG, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang perkenalan yang bermakna bagi anak-anak. Mereka tidak hanya mencicipi makanan khas Gorontalo, tetapi juga mendapatkan pengetahuan awal mengenai nilai budaya di balik tiliaya.
Pada akhirnya, melalui pengenalan sejak dini, Idah mengajak semua pihak untuk ikut menjaga agar kearifan lokal tetap hadir dalam keseharian generasi penerus. Upaya tersebut dinilai penting agar tradisi kuliner Gorontalo dapat terus dikenali, dipahami, dan diwariskan dari waktu ke waktu.












