Hukum & Kriminal

Delapan Orang Didakwa Terkait Dugaan Konspirasi Serangan ke Acara UFC di Gedung Putih

×

Delapan Orang Didakwa Terkait Dugaan Konspirasi Serangan ke Acara UFC di Gedung Putih

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Eight charged over alleged conspiracy to attack White House UFC event

jurnalistik.co.id – Delapan orang telah didakwa terkait dugaan konspirasi untuk melakukan serangan mematikan terhadap pejabat pemerintah dan figur-figur berprofil tinggi, termasuk Presiden Donald Trump, pada acara UFC Freedom 250 di Gedung Putih bulan lalu.

Para terdakwa berusia 19 hingga 32 tahun. Mereka didakwa dengan dakwaan konspirasi untuk memberikan dukungan material kepada teroris, serta konspirasi untuk melakukan pembunuhan di wilayah pemerintah federal dan membunuh seorang pejabat pemerintah federal.

Dalam perkara ini, penyidik menyebut berkas dakwaan muncul setelah seorang rekan konspirator yang diduga ke-8 ditangkap di Virginia Barat pada awal pekan ini. Jika terbukti atas dakwaan pembunuhan, para terdakwa menghadapi hukuman penjara seumur hidup; sedangkan dakwaan terkait tindak teror dapat berujung pada maksimal 15 tahun penjara.

Dugaan plot tersebut terungkap setelah ibu salah satu tersangka, Tycen J Proper, menghubungi otoritas setempat pada 10 Juni. Langkah itu dilakukan beberapa hari sebelum pertandingan UFC Freedom 250 disiarkan pada 14 Juni, yang menjadi bagian dari perayaan 250 tahun usia negara.

Menurut keterangan yang disampaikan penuntut, Proper telah membeli banyak senjata api dalam jumlah besar. Ibunya juga khawatir setelah melihat komunikasi daring Proper dengan sebuah kelompok yang menurutnya berisi mantan anggota militer serta berlandaskan ajaran Kristen.

Komunikasi dalam kelompok tersebut, demikian tuduhan sebelumnya dari pihak penuntut, membahas “grievances about government corruption, the handling of the Epstein files, data centres taking up all the water in communities, and other government actions.” Pihak berwenang juga menyatakan kelompok itu menargetkan acara UFC sebagai sasaran.

Berdasarkan penuturan FBI, Proper mengatakan kelompok tersebut ingin “jumpstart a revolution in the United States” dengan menyerang acara tersebut. Bagian dari rencana, menurut jaksa, melibatkan penggunaan drone bermuatan bahan peledak untuk menyerang bangunan di sekitar lokasi, serta menembak “high value targets”.

Otoritas federal menilai penggunaan drone itu dimaksudkan untuk memicu kepanikan dan menarik kerumunan yang berlari menjauh agar mengarah ke tim penembak jitu. Jaksa juga menuduh adanya “second wave” yang seharusnya menerobos gerbang Gedung Putih.

Perkiraan hadirnya penonton untuk acara undangan terbatas di halaman selatan kompleks kepresidenan mencapai 4.300 orang. Di antara hadirin tersebut disebut ada Presiden Trump, Wakil Presiden JD Vance, pejabat senior kabinet, serta anggota parlemen.

Berkas pengadilan terkait terdakwa lain, Abraham Hermosillo Alvarez, menyebut kelompok yang diduga terlibat juga meninjau calon target yang mencakup Trump dan Vance. Daftar yang disebut mencakup Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Elon Musk, serta beberapa pejabat terpilih, meski tidak semuanya hadir dalam acara UFC.

Proper dilaporkan mengakui perannya dalam perencanaan serangan. Ia menyatakan kepada aparat penegak hukum bahwa komunikasi antarkelompok dimulai pada bulan Maret, dan anggota direkrut terutama melalui TikTok.

Para terdakwa, menurut penjelasan otoritas, menggunakan berbagai platform daring untuk menyusun rencana. Platform yang disebut meliputi Signal, Instagram, TikTok, dan Discord.

Masih belum jelas apakah kelompok yang diduga terlibat mempunyai afiliasi dengan organisasi besar atau struktur yang sudah mapan. Namun, otoritas menyebut para terdakwa tersebar di banyak wilayah di Amerika Serikat, dari California hingga Missouri dan Nebraska.

Selain Proper dan Alvarez, pejabat AS menyebut nama lain yang didakwa, yaitu Daniel K Eskridge, William LS Falkner, Jordan W Rincker, Bryan O Roa, Michael A Thomas, serta Chandler D Scaggs yang ditangkap pekan ini. Sementara itu, seorang tersangka lainnya, Alexander Iniguez Mercado, ditangkap pekan lalu dan didakwa melakukan penghalangan proses peradilan.

Mercado dituduh menghapus aplikasi Signal dari ponselnya setelah dihubungi oleh seorang agen FBI. Tindakan itu, menurut dakwaan, dilakukan untuk menghapus bukti terkait dugaan keterhubungannya dengan kelompok tersebut, dan ia telah menyatakan tidak bersalah atas dakwaan penghalangan.

Acara UFC Freedom 250 bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-80 Presiden Trump. Acara tersebut berlangsung dua bulan setelah adanya penembakan pada White House Correspondents Dinner yang dihadiri Trump, serta satu bulan setelah seorang pria tewas oleh agen Secret Service setelah membuka tembakan di pos pemeriksaan di area Gedung Putih.