jurnalistik.co.id – Sir Keir Starmer menegaskan bahwa hubungan diplomatiknya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak akan berhenti saat masa jabatannya sebagai perdana menteri berakhir. Pernyataan itu disampaikan saat ia hadir di KTT NATO di Ankara, Turki.
Dalam kesempatan tersebut, Starmer menyatakan bahwa Trump menyampaikan ucapan baik kepadanya menjelang masa kepemimpinan Inggris di Downing Street berakhir. Starmer kemudian menyebut, “Yes he did, and we’re going to stay in touch.”
Ia juga menekankan bahwa kedekatan mereka selama masa awal bekerja sebagai dua individu menjadi fondasi yang penting. “We’ve always got on as two individuals,” ujarnya kepada media, menambahkan bahwa hubungan seperti itu relevan untuk kerja politik yang benar-benar berjalan.
Menurut Starmer, kerja sama strategis Inggris dan Amerika Serikat tetap menjadi bagian yang sangat mendasar bagi urusan pertahanan dan keamanan. Ia mengatakan kedua negara bekerja bersama “together 24/7”, dan menyebut soal relasi yang baik dengan presiden AS sebagai hal yang ia prioritaskan untuk kepentingan negaranya.
Starmer menyatakan, “I’m glad that that’s what I’ve been able to achieve,” lalu menambahkan bahwa target yang ia tetapkan adalah hal yang dianggapnya penting bagi negaranya. “That has been what I set out to do, I think it’s really important for my country, and that’s what always comes first for me.”
Rapor yang diuji dalam perbedaan terkait konflik Iran
Meski hubungan awal mereka digambarkan positif, ketegangan kemudian muncul dalam sejumlah isu yang berkaitan dengan konflik Timur Tengah. Trump pernah mengejek Starmer dengan sindiran bahwa ia “no Winston Churchill” dalam sengketa terkait penolakan Inggris mengizinkan penggunaan pangkalan Inggris untuk serangan awal AS–Israel terhadap Iran.
Pada hari Rabu, Trump mengulang kritiknya terhadap respons Inggris terhadap konflik tersebut. Pada saat yang sama, Starmer menjelaskan ia tetap berada pada keputusan-keputusan yang menurutnya selaras dengan kepentingan nasional.
Perbedaan Starmer–Trump pada isu Iran berawal dari keputusan Starmer menolak memberi izin penggunaan pangkalan Inggris untuk serangan ofensif awal. Namun kemudian Inggris memberi izin agar pangkalan itu dapat dipakai untuk tindakan defensif terkait serangan rudal Iran.
Dalam uraian publiknya, Trump mengkritik Inggris dengan menyatakan bahwa sekutu AS seharusnya memberikan dukungan lebih besar. Starmer merespons dengan menyebut bahwa ia tidak akan terganggu dari langkah yang ia anggap “best national interest”, dengan pernyataan bahwa ia tidak akan “diverted or deflected”.
Hadiah senjata dari tuan rumah KTT dan prosedur dekomisioning
Di sela agenda KTT, Starmer juga menerima hadiah yang bernilai simbolik sekaligus memantik perhatian. Presiden tuan rumah KTT NATO, Recep Tayyip Erdogan, menghadiahkan kepada Starmer sebuah revolver yang dipersonalisasi dengan peluru aktif.
Menurut laporan, revolver tersebut memiliki nama Starmer yang tertulis di senjata. Meski demikian, dipahami bahwa peluru yang diberikan tidak memiliki nama siapa pun.
Hadiah serupa juga diberikan kepada pemimpin negara-negara NATO lain yang hadir. Senjata yang diterima Starmer kemudian ditinggalkan bersama pejabat Inggris di Turki, dan diperkirakan akan didekomisioning agar tidak lagi dapat menembakkan peluru hidup.
Status politik Starmer dan skenario pengganti
Berita Terkait
Starmer juga membawa konteks politik domestik yang sedang bergerak cepat. Ia telah mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pemimpin Partai Buruh bulan lalu, sehingga membuka jalan bagi pemilihan untuk menggantikannya sebagai perdana menteri.
Andy Burnham disebut sebagai satu-satunya kandidat yang sedang bertarung untuk menggantikan Starmer. Jika prosesnya berjalan sesuai jadwal, Burnham berpotensi menjadi perdana menteri pada 20 Juli.
Jejak pertemuan dengan Trump sejak awal periode pertama
Hubungan mereka juga tercatat melalui pertemuan yang terjadi sebelum ketegangan-ketegangan tertentu muncul. Pada September 2024, Starmer dan Trump mengadakan makan malam selama dua jam di Trump Tower, New York, dan itu menjadi pertama kalinya keduanya bertemu.
Pertemuan itu datang tak lama setelah Trump memenangkan pemilu AS 2024 untuk kembali ke Gedung Putih bagi masa jabatan kedua, setelah kalah pada 2020. Lima bulan kemudian, di Oval Office, Starmer menyerahkan surat dari Raja Charles III kepada Trump yang mengundang Trump untuk kunjungan kenegaraan kedua ke Inggris.
Pada Juli 2025, Starmer mengatakan kepada BBC bahwa kedua pemimpin membangun relasi berdasarkan nilai-nilai keluarga yang mereka anggap serupa. Ia juga mengatakan Trump menghubunginya untuk menghibur setelah kematian adik Starmer, Nick Starmer.
Perbedaan dagang, Chagos, dan kekhawatiran di internal Partai Buruh
Namun dinamika hubungan itu turut bergeser ketika isu perdagangan dan kepentingan strategis muncul. Menjelang Januari tahun ini, Starmer memperingatkan bahwa perang dagang bukanlah pilihan yang menguntungkan siapa pun, setelah Trump mengancam menerapkan pajak 10% atas impor dari Inggris dan negara-negara lain yang menentang rencananya untuk mengambil alih Greenland.
Pemerintah Inggris juga membela rencana kesepakatan terkait Kepulauan Chagos. Rencana itu disebut memberikan Kepulauan Chagos kepada Mauritius dan kemudian menyewakan kembali pangkalan militer kunci, sementara Trump menilai langkah tersebut sebagai “act of great stupidity” meski ia dan pejabat senior AS sebelumnya pernah mendukungnya.
Sejumlah anggota parlemen dari Partai Buruh turut menyuarakan kekhawatiran mengenai keinginan Starmer untuk menjaga relasi yang hangat dengan presiden AS. Di tengah situasi itu, keduanya kembali menunjukkan perbedaan saat konflik Iran menjadi sorotan pada Maret.
KTT NATO dan tuntutan pendanaan pertahanan
Menjelang pertemuan para pemimpin NATO pada Rabu, Trump kembali mengeluhkan bahwa sekutu NATO “weren’t there for us” dalam perang AS di Timur Tengah. Ia juga mengkritik Inggris atas penolakan awalnya terhadap permintaan penggunaan pangkalan Inggris.
Setelah KTT, Starmer menyatakan keyakinannya bahwa aliansi menjadi lebih kuat dan lebih bersatu setelah pertemuan tersebut. Ia mengutip bahwa para pemimpin berbicara dalam rapat dan pada akhir pertemuan Trump merangkum dengan mengatakan ia sangat senang menyambut semangat dan persatuan dalam pertemuan itu.
Starmer menilai bahwa hasil utama KTT menjawab pertanyaan apakah NATO lebih kuat dan lebih bersatu setelah KTT, dengan jawaban “yes”. Ia menyebut itu merupakan tujuan utama dari pertemuan.
Sementara itu, Trump menggambarkan KTT sebagai “very successful” dan mengatakan sesama anggota NATO “answering the call” untuk meningkatkan pendanaan pertahanan. Ia menegaskan kembali keinginannya agar anggota NATO berkontribusi lebih besar terhadap belanja pertahanan di Eropa, termasuk ancaman sebelumnya untuk menarik pasukan dari Eropa.
Anggota NATO pada tahun lalu sepakat meningkatkan belanja pertahanan dan keamanan hingga 5% dari produk domestik bruto (GDP) pada 2035. Trump menyatakan, “Some have truly answered the call, and others are making big changes, and will be answering the call. I think I can say, in all cases, they’re going to be answering the call.”












