jurnalistik.co.id – Founder sekaligus Chief Marketing Officer & Partner Jarvis Asset Management, Kartika Sutandi, menilai penerapan ekspor sumber daya alam satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia menyimpan sejumlah risiko. Menurut dia, salah satu risiko terburuk dari kebijakan itu adalah rupiah bisa anjlok hingga tembus Rp25.000 per dolar AS.
Kartika menilai kebijakan ekspor SDA satu pintu terlalu terburu-buru. Ia melihat pengalihan ekspor ke satu badan milik negara bukan hanya soal teknis tata kelola, tetapi juga bisa membawa dampak yang lebih luas terhadap arus perdagangan dan respons pasar.
Di hadapan peserta Stock Idea Festival di Jakarta, Sabtu (23/5/2026), Kartika menjelaskan bahwa pemindahan jalur ekspor ke satu pintu berpotensi mengalihkan pelanggan luar negeri ke negara lain. Dalam pandangannya, ketika proses jual beli dengan pembeli asing diserahkan ke Danantara Sumberdaya, penyesuaian transaksi juga bisa melambat.
Risiko ke pelanggan dan arus kas
“Karena dipaksa badan ekspor immediately nggak pake pelan-pelan itu takutnya ada revenue dolar AS kita yang jeblok, kalau revenue jeblok S&P bisa downgrade pasti, Moody’s juga,” kata wanita dengan sapaan akrab Tjoe Ay tersebut.
Pernyataan itu menegaskan kekhawatiran Kartika bahwa perubahan yang dilakukan secara cepat dapat memukul penerimaan dolar AS. Jika penerimaan itu melemah, menurut dia, risiko berikutnya bisa merembet ke penilaian lembaga pemeringkat global.
Ia menyebut S&P dan Moody’s sebagai dua pihak yang berpotensi ikut merespons bila pendapatan valas Indonesia terganggu. Dengan kata lain, baginya persoalan ekspor SDA satu pintu tidak berhenti pada urusan administrasi, melainkan juga menyangkut kepercayaan pasar terhadap ketahanan arus dolar AS.
Dalam konteks itu, Kartika menyoroti kemungkinan perlambatan penyesuaian jual beli dengan pelanggan luar negeri. Ketika ekspor dikonsolidasikan ke satu lembaga, proses adaptasi dengan mitra dagang dinilai tidak bisa berlangsung instan, terutama jika sudah ada pola transaksi yang selama ini berjalan langsung.
Nama Danantara Sumberdaya Indonesia sendiri menjadi pusat perhatian setelah pemerintah mendorong ekspor SDA melalui jalur satu pintu. Di saat yang sama, sejumlah pihak di pasar melihat kebijakan tersebut dari berbagai sisi, termasuk risiko prosedur, arus kas, dan respons pembeli di luar negeri.
Dalam laporan Bloomberg Technoz yang memuat pernyataan Kartika, ia tampil sebagai salah satu suara yang mengingatkan bahwa perubahan mekanisme ekspor perlu dihitung dengan hati-hati. Bagi Kartika, risiko paling serius justru muncul ketika transisi dilakukan tanpa jeda yang memadai.
Menurut Kartika, kekhawatiran itu muncul karena pasar cenderung bereaksi cepat terhadap kebijakan yang dianggap mengubah alur bisnis secara mendadak. Jika penyesuaian di sisi ekspor berlangsung terlalu kaku, pelaku usaha bisa menghadapi ketidakpastian baru dalam menjaga hubungan dagang dan memastikan arus penerimaan tetap stabil.
Ia juga memberi sinyal bahwa dampak kebijakan semacam itu tidak hanya terasa pada level perusahaan, tetapi bisa menjalar ke persepsi yang lebih luas terhadap ekonomi nasional. Begitu pendapatan dolar AS tertekan, tekanan lanjutan dapat muncul dalam bentuk penilaian yang lebih hati-hati dari pihak luar, termasuk lembaga pemeringkat yang selama ini menjadi acuan pasar.
Dalam pandangan Kartika, risiko terbesar justru terletak pada efek berantai. Ketika pendapatan valas menurun, ruang gerak pasar menjadi lebih sempit, sementara kepercayaan investor dan mitra dagang ikut teruji. Karena itu, ia menilai kebijakan ekspor SDA satu pintu semestinya tidak dijalankan dengan tergesa-gesa agar tidak memunculkan guncangan yang sebenarnya bisa dihindari.
Ia pada dasarnya mengingatkan bahwa perubahan mekanisme ekspor perlu disiapkan dengan perhitungan yang matang. Tanpa masa transisi yang memadai, kebijakan yang dimaksudkan untuk merapikan tata kelola justru bisa menimbulkan tantangan baru bagi penerimaan, relasi dagang, dan persepsi pasar terhadap stabilitas rupiah.












