jurnalistik.co.id – Pada perdagangan saham sepekan lalu, 18–22 Mei 2026, pasar modal domestik bergerak melemah cukup dalam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 8,35% secara point-to-point dan berakhir di posisi 6.162 pada penutupan pekan tersebut.
Salah satu tekanan utama datang dari aksi jual investor asing. Di pasar reguler, asing mencatat jual bersih atau net sell senilai Rp1,86 triliun. Jika dihitung di seluruh pasar, nilai net sell asing tetap besar, yakni Rp808 miliar.
Di antara saham-saham yang paling banyak dilepas, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi yang terbesar. Sepanjang perdagangan 18–22 Mei 2026, net sell asing pada saham bank swasta terbesar tersebut mencapai Rp1 triliun. Tekanan jual itu ikut menekan pergerakan harga BBCA, yang melemah 3,28% dan ditutup di level Rp5.900 per saham.
Bank dan tambang sama-sama menjadi sasaran jual asing
Pelepasan saham oleh investor asing tidak hanya terkonsentrasi di sektor perbankan, tetapi juga menyebar ke saham-saham pertambangan dan emiten terkait komoditas. Dalam daftar 10 saham dengan net sell terbesar oleh investor asing sepanjang pekan 18–22 Mei 2026, BBCA berada di urutan pertama, diikuti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar Rp625,76 miliar, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar Rp589,17 miliar, dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar Rp516,63 miliar.
Berikutnya, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatat net sell asing Rp438,68 miliar. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menyusul dengan net sell Rp407,37 miliar. Masih dalam daftar yang sama, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dibukukan Rp398,86 miliar, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp314,59 miliar, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) Rp262,71 miliar, dan PT Astra International Tbk (ASII) Rp225,21 miliar.
Dengan komposisi itu, terlihat bahwa tekanan jual asing tidak semata-mata menekan saham perbankan, tetapi juga menghantam saham tambang dan beberapa emiten berkapitalisasi besar lain. Aksi jual pada saham-saham berpengaruh ini ikut memperlebar pelemahan IHSG selama sepekan.
Meski begitu, tidak semua saham menjadi target jual. Pada periode yang sama, investor asing justru mencatat net buy terbesar pada PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dengan nilai mencapai Rp688,44 miliar. Namun, pembelian bersih itu tidak otomatis mengangkat kinerja sahamnya karena MDKA tetap melemah tipis 0,37% dan ditutup di posisi Rp2.720 per saham.
Daftar saham dengan net buy terbesar
Selain MDKA, saham yang paling banyak diborong investor asing sepanjang perdagangan 18–22 Mei 2026 adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar Rp455,04 miliar, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) sebesar Rp314,56 miliar, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sebesar Rp238,17 miliar, dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) sebesar Rp229,82 miliar.
Masih di daftar 10 besar net buy, ada PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dengan Rp220,16 miliar, PT Timah Tbk (TINS) sebesar Rp197,93 miliar, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar Rp188,14 miliar, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) sebesar Rp128,5 miliar, serta PT Indika Energy Tbk (INDY) sebesar Rp125,5 miliar.
Dengan demikian, aliran dana asing pada pekan tersebut terlihat sangat selektif. Di satu sisi, sejumlah saham bank dan emiten besar dibuang dalam jumlah besar. Di sisi lain, beberapa saham tambang dan energi justru diburu, meski pembelian itu belum cukup untuk membalikkan arah pasar secara keseluruhan.
Secara umum, data perdagangan pekan lalu menunjukkan bahwa tekanan jual asing masih menjadi faktor penting di balik pelemahan IHSG. Ketika jual bersih terakumulasi di saham-saham utama seperti BBCA, BBRI, AMMN, ANTM, dan beberapa emiten lain, indeks ikut kehilangan tenaga dan menutup pekan di zona koreksi yang dalam.












