Bisnis & Ekonomi

Ekspor SDA Satu Pintu Dinilai Berisiko Menekan Rupiah ke Rp25.000 per Dolar AS

0
×

Ekspor SDA Satu Pintu Dinilai Berisiko Menekan Rupiah ke Rp25.000 per Dolar AS

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ekspor SDA Satu Pintu Berisiko Tekan Rupiah ke Rp25.000/Dolar AS - Market

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Founder sekaligus Chief Marketing Officer & Partner Jarvis Asset Management, Kartika Sutandi, menilai penerapan ekspor sumber daya alam satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia menyimpan sejumlah risiko. Menurutnya, skema tersebut berpotensi memunculkan dampak yang tidak kecil, mulai dari terganggunya arus bisnis hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Kartika, yang juga dikenal dengan sapaan Tjoe Ay, menyebut salah satu risiko terburuk dari kebijakan itu adalah rupiah bisa anjlok hingga menembus Rp25.000 per dolar AS. Pandangan itu ia sampaikan saat menanggapi arah kebijakan ekspor SDA satu pintu yang disebutnya terlalu terburu-buru.

Ia menilai pengalihan ekspor ke satu badan milik negara bukan hanya soal perubahan jalur administrasi. Di mata dia, langkah itu juga bisa mendorong sebagian pelanggan luar negeri berpindah ke negara lain apabila mereka merasa skema baru itu membuat proses bisnis menjadi kurang nyaman atau kurang efisien.

Risiko lain yang ia soroti adalah perlambatan penyesuaian jual beli dengan pelanggan luar negeri ketika penjualan diserahkan ke Danantara Sumberdaya. Menurut Kartika, penyesuaian yang tidak berjalan mulus dapat membuat arus pendapatan terganggu dan menimbulkan konsekuensi yang lebih luas bagi perekonomian.

“Karena dipaksa badan ekspor immediately nggak pake pelan-pelan itu takutnya ada revenue dolar AS kita yang jeblok, kalau revenue jeblok S&P bisa downgrade pasti, Moody’s juga,” kata Kartika dalam kegiatan Stock Idea Festival di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Pernyataan itu menjadi penekanan utama atas kekhawatirannya bahwa perubahan yang dilakukan secara cepat justru dapat menekan penerimaan valuta asing. Dalam pandangannya, bila revenue dolar AS ikut merosot, dampaknya tidak berhenti pada pelaku usaha, melainkan bisa menjalar ke persepsi lembaga pemeringkat terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

Kartika menyebut risiko penurunan pendapatan dolar AS sebagai hal yang patut diwaspadai karena berhubungan langsung dengan kepercayaan pasar. Ia mengaitkannya dengan kemungkinan penilaian negatif dari S&P maupun Moody’s apabila aliran revenue benar-benar mengalami pelemahan.

Di tengah dorongan terhadap skema ekspor SDA satu pintu, pandangan Kartika menunjukkan adanya kehati-hatian dari pelaku pasar soal kecepatan implementasi. Baginya, kebijakan yang menyangkut ekspor dan pendapatan devisa seharusnya mempertimbangkan dampak transisi pada pelanggan luar negeri, arus kas, serta stabilitas rupiah.

Dengan demikian, kekhawatiran yang ia sampaikan bukan semata soal perubahan jalur ekspor, tetapi juga soal ritme penerapan kebijakan itu sendiri. Menurut Kartika, jika transisi dilakukan terlalu agresif, risiko yang muncul dapat merambat ke beberapa sisi sekaligus, mulai dari revenue dolar AS, respons pelanggan luar negeri, hingga tekanan terhadap rupiah.

Dalam konteks itu, Kartika tampak menekankan bahwa kebijakan yang menyentuh ekspor dan devisa semestinya tidak diperlakukan sebagai perubahan administratif semata. Ia memandang ada ekosistem bisnis yang ikut bergerak, termasuk hubungan dengan pembeli luar negeri yang selama ini membutuhkan kepastian, kelancaran, dan ritme transaksi yang konsisten. Jika aspek tersebut terganggu, menurut pandangannya, efeknya bisa meluas ke performa penjualan dan kepercayaan pasar.

Ia juga memberi sinyal bahwa pasar umumnya lebih mudah merespons negatif ketika suatu kebijakan dianggap datang terlalu cepat tanpa proses penyesuaian yang memadai. Karena itu, langkah yang berkaitan dengan ekspor SDA satu pintu dinilai perlu memperhitungkan kesiapan pelaku usaha agar tidak menimbulkan hambatan baru di tengah aktivitas dagang yang sudah berjalan. Dalam kerangka tersebut, masalah utamanya bukan hanya ada pada arah kebijakan, tetapi pada bagaimana kebijakan itu dijalankan di lapangan.

Dengan menyoroti kemungkinan terganggunya revenue dolar AS, Kartika pada dasarnya mengingatkan bahwa stabilitas ekonomi tidak hanya ditentukan oleh besarnya kebijakan, melainkan juga oleh ketepatan waktu dan cara penerapannya. Ia menilai kepercayaan pelanggan luar negeri, kelancaran transaksi, dan kekuatan rupiah saling berkaitan erat. Jika salah satu sisi terguncang, tekanan lanjutan dapat muncul dan membuat risiko yang semula terlihat teknis berubah menjadi persoalan yang lebih luas.