Internasional

Xi Jinping Kritik Keras Remiliterisasi Jepang saat Bertemu Trump

1
×

Xi Jinping Kritik Keras Remiliterisasi Jepang saat Bertemu Trump

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Xi Jinping Kritik Keras Remiliterisasi Jepang di Depan Trump - Global

jurnalistik.co.id – Pemimpin China Xi Jinping dikabarkan melontarkan kritik keras terhadap dorongan remiliterisasi Jepang dalam pertemuannya dengan Presiden AS Donald Trump di Beijing. Laporan Financial Times menyebut Xi berbicara dengan nada tinggi dan tampak emosional saat membahas kenaikan anggaran militer Jepang bersama Trump dalam KTT yang berlangsung awal bulan ini.

Menurut laporan itu, sikap Xi mengejutkan sejumlah pejabat AS yang mengikuti jalannya pertemuan. Bahkan, beberapa sumber menilai kritik terhadap Jepang menjadi momen paling tegang sepanjang KTT tersebut.

Jajaran pejabat di pemerintahan Trump disebut sama sekali tidak menduga isu Jepang akan muncul dengan intensitas sebesar itu. Alasannya, pembahasan mengenai Jepang tidak pernah masuk dalam agenda bilateral yang disiapkan menjelang pertemuan puncak tersebut.

Trump, dalam percakapan dengan Xi, menjelaskan bahwa Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi terpaksa mengambil sikap keamanan yang lebih tegas karena meningkatnya ancaman dari Korea Utara, demikian dilaporkan FT. Penjelasan itu muncul di tengah perhatian besar Beijing terhadap arah kebijakan pertahanan Tokyo.

Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah Jepang memang telah menghapus sebagian besar pembatasan terkait penjualan perangkat militer. Langkah itu menandai perubahan penting dalam pendekatan Jepang terhadap isu pertahanan, yang selama ini dibatasi oleh berbagai aturan warisan pascaperang.

Selain itu, Takaichi juga memberi sinyal pelonggaran terhadap prinsip anti-senjata nuklir yang selama ini dianut Jepang. Sinyal tersebut langsung memicu kecaman keras dari pihak China, yang memandang perubahan itu sebagai perkembangan yang sensitif bagi stabilitas kawasan.

Ketegangan di tengah pembicaraan Indo-Pasifik

Laporan FT menggambarkan bahwa pembicaraan Xi dan Trump tidak hanya berhenti pada Jepang, tetapi juga memperlihatkan bagaimana isu-isu keamanan di Asia Timur masih menjadi perhatian utama kedua negara. Meski demikian, bagian yang menyangkut Jepang disebut paling menyedot perhatian karena tampil begitu kontras dengan ekspektasi awal para pejabat AS.

Di sisi lain, Trump juga menekankan kepada Xi bahwa langkah Jepang perlu dipahami dalam konteks ancaman yang berkembang di kawasan. Argumen itu menunjukkan adanya upaya dari Washington untuk menjelaskan posisi Tokyo tanpa memicu eskalasi lebih jauh dalam pertemuan tersebut.

Pasca-KTT di Beijing itu, Takaichi dan Trump dilaporkan sempat berbicara melalui telepon. Keduanya sepakat untuk terus menjalin komunikasi mengenai isu-isu krusial di kawasan Indo-Pasifik.

Namun, pemerintah kedua belah pihak tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai isi percakapan itu. Sikap tertutup tersebut membuat detail pembahasan tetap berada di balik layar, sementara sorotan publik justru tertuju pada kerasnya respons Xi terhadap arah kebijakan keamanan Jepang.

Perkembangan ini kembali menegaskan bahwa isu remiliterisasi Jepang masih menjadi salah satu titik sensitif dalam hubungan China, Jepang, dan AS. Dengan dinamika keamanan kawasan yang terus berubah, setiap sinyal dari Tokyo mengenai pertahanan dan kebijakan nuklir tampaknya akan tetap diawasi ketat oleh Beijing.

Dalam kacamata Beijing, perubahan sikap Jepang itu tampak sebagai sinyal yang tidak bisa dianggap remeh, terlebih ketika dibahas langsung dalam forum yang seharusnya berfokus pada hubungan Washington-Beijing. Karena itu, reaksi Xi yang disebut meninggi dapat dibaca sebagai upaya menegaskan bahwa arah pertahanan Tokyo tetap menjadi perhatian utama China, meski pembicaraan pada awalnya tidak diarahkan ke sana.

Situasi tersebut juga menunjukkan betapa rapuhnya pembahasan soal keamanan di kawasan ketika menyangkut Jepang, China, dan AS dalam satu meja. Apa yang semula diperkirakan hanya menjadi dialog bilateral biasa justru bergeser menjadi momen yang sarat ketegangan, terutama karena isu Jepang muncul di luar agenda dan langsung memantik respons emosional dari Xi.