jurnalistik.co.id – Emanuel De Porras menempatkan kariernya di Indonesia sebagai salah satu fase yang paling sulit dilupakan. Eks pemain Persija Jakarta dan PSIS Semarang ini menceritakan pengalaman ketika masih aktif bermain, sekaligus peran suporternya yang ia nilai sangat dekat dan fanatik.
De Porras dikenal cukup luas pada periode 2004 hingga 2006 berkat kemampuannya mengolah bola. Pada musim pertamanya bersama Persija, ia langsung menjadi idola karena mampu mencetak 16 gol, meski pada akhirnya timnya gagal meraih gelar juara.
Ia hanya bertahan semusim di ibu kota sebelum memutuskan melanjutkan langkah sepak bolanya bersama PSIS Semarang. Pilihan itu membawanya ke kota yang menjadi pusat Provinsi Jawa Tengah.
Di PSIS, karier De Porras menunjukkan peningkatan. Pada musim debutnya bersama Laskar Mahesa Jenar, ia berperan membantu tim finis di peringkat ketiga Divisi Utama Liga Indonesia 2005 setelah menundukkan PSMS Medan dengan skor 2-1.
Ketika membahas momen yang paling berkesan, De Porras menunjuk salah satu laga pada musim 2005. Ia menyebut pertemuan PSIS Semarang menghadapi Persija Jakarta pada babak 8 besar yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.
Bagi De Porras, pertandingan tersebut menjadi yang paling spesial selama berkarier di Indonesia. Alasannya sederhana namun kuat, karena pada musim sebelumnya ia bermain untuk Persija, sedangkan di laga itu ia mewakili PSIS.
“Ya, di tahun 2005 waktu saya bermain di babak 8 besar melawan Persija di SUGBK Senayan. Ya, itu, pertandingan yang paling besar karena saya main di dua tim yang pernah saya bela ketika main di Indonesia,” kata pria yang kini berusia 44 tahun itu eksklusif kepada KOMPAS.com.
De Porras juga menekankan suasana yang ia rasakan saat pertandingan berlangsung. Menurutnya, atmosfer saat itu berjalan sangat bagus, terutama karena ia menghadapi tim yang pernah dibelanya.
“Atmosfernya saat itu sangat bagus. Saya menghadapi tim saya sebelumnya. Saya senang memainkan pertandingan itu,” ungkap dia.
Setelah momen besar tersebut, De Porras kembali melangkah pada musim berikutnya. Pada 2006, ia meningkatkan pencapaiannya dengan membantu PSIS menembus babak final Divisi Utama Liga Indonesia.
Namun, perjuangan menuju gelar berakhir pahit. PSIS harus mengakui keunggulan Persik Kediri dengan skor 0-1 di partai puncak.
Meskipun tidak berhasil mempersembahkan juara, De Porras menilai kariernya di Indonesia tetap memiliki kesan mendalam. Ia menyoroti salah satu ciri yang menurutnya menonjol dari sepak bola Tanah Air: hubungan dekat antara suporter dan pemain.
“Semua pemain tahu di Indonesia fanatik dengan sepak bola. Untuk pemain Argentina, saya bicara dari Argentina karena saya dari sana, sangat menyukai itu. Penonton selalu memenuhi lapangan, meneriakkan nama pemain, meminta foto dan tanda tangan,” tutur De Porras.
Ia memandang respons tersebut sebagai daya tarik tersendiri ketika berseragam di Indonesia. Bagi pemain asal Argentina, atmosfer seperti itu dianggap memberi kebanggaan dan motivasi untuk tampil.
“Untuk pemain Argentina itu jadi sebuah kebanggaan dan jadi daya tarik mau main di sini,” ucap dia.
Bagi De Porras, kedekatan itu tidak berhenti pada 90 menit pertandingan, melainkan juga terasa dari cara suporter hadir dan merespons. Ia menggambarkan bahwa penonton selalu memenuhi stadion, terus meneriakkan nama pemain, hingga meminta foto dan tanda tangan sebagai bentuk antusiasme yang nyata.
Ia pun melihat pengalaman berhadapan dengan klub lamanya sebagai bagian dari alasan laga tersebut begitu berkesan. Setelah sempat membela Persija, De Porras kemudian mewakili PSIS saat bertemu di babak 8 besar pada musim 2005, sehingga baginya pertandingan di SUGBK Senayan terasa lebih “besar” karena ia merasakan sudut pandang yang berbeda.












