Olahraga

Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi terus memecahkan rekor

×

Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi terus memecahkan rekor

Sebarkan artikel ini
As Messi turns 39, how he and Ronaldo keep breaking records
Ilustrasi: Cristiano Ronaldo and Lionel Messi keep breaking records

jurnalistik.co.id – Di panggung Piala Dunia, Lionel Messi kini merayakan ulang tahun ke-39, sementara Cristiano Ronaldo menginjak usia 41 tahun. Keduanya kembali menunjukkan bahwa usia bukan penghalang untuk menumpuk capaian.

Dari dua penampilan terakhir, Messi dan Ronaldo sama-sama mencatat momen bersejarah yang memperkuat posisi mereka sebagai dua nama paling konsisten dalam sejarah turnamen. Meski sudah sangat lama bersaing di level tertinggi sepak bola, keduanya masih mampu memproduksi rekor baru.

Messi menambah catatan di puncak daftar pencetak gol

Senin lalu, Messi mencetak dua gol saat melawan Austria. Tambahan tersebut membawa dia menembus angka 18 gol di tangga teratas pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia.

Usia Messi yang memasuki 39 tahun tidak mengubah pola ketajamannya di ajang ini. Ia juga sebelumnya mencetak hat-trick saat Argentina memulai kompetisi dengan mengalahkan Algeria.

Setelah rangkaian awal itu, Messi kembali mengulangi dampak lewat gol-golnya pada laga berikutnya. Hasilnya, tekanan terhadap pertandingan-pertandingan selanjutnya ikut meningkat, terutama karena standar yang ditetapkan Messi tidak mudah disamai.

Ronaldo menulis rekor sebagai pemain di enam Piala Dunia

Sementara itu, Selasa menjadi hari bersejarah bagi Ronaldo saat Portugal menghadapi Uzbekistan. Ia mencetak dua gol dan sekaligus menjadi pemain pertama yang mencatat gol di enam Piala Dunia berbeda.

Rangkaian itu menegaskan pola keterlibatan Ronaldo yang panjang di turnamen, sejak 2006, 2010, 2014, 2018, 2022, hingga 2026. Ia juga melanjutkan kebiasaan mencetak gol pada fase yang menentukan, termasuk saat Portugal sedang berada di bawah sorotan.

Enam menit laga Portugal vs Uzbekistan, Ronaldo sudah membuka peluang lewat golnya. Pada momen tersebut, ia tidak hanya menambah angka, tetapi juga memastikan sejarah baru tercatat atas namanya.

Dengan gol yang ia cetak, Ronaldo juga mengakhiri periode panjang tanpa gol. Ia sebelumnya melewati 11 pertandingan Piala Dunia tanpa mencetak gol sejak pertandingan pembuka Piala Dunia 2022 melawan Ghana.

Dari kritik menuju “I’m back”

Sebelum tampil dengan rekor itu, Ronaldo sempat menghadapi sorotan setelah penampilan yang dinilai kurang meyakinkan pada laga pembuka Portugal. Dalam hasil imbang 1-1 melawan DR Congo, performanya tidak sesuai ekspektasi, yang kemudian memunculkan kritik pascalaga.

Kritik tersebut disertai pula rumor adanya masalah hubungan dengan sejumlah rekan setim di tim nasional. Namun, Ronaldo menjawab semua itu dengan momen yang mematahkan narasi, melalui gol-golnya yang membawa dampak besar.

Setelah laga, tindakan dan pernyataannya mencerminkan tekad untuk kembali berdampak langsung pada pertandingan. “I’m back” menjadi kalimat yang ia sampaikan tepat menghadap kamera setelah peluit akhir.

Manajer Roberto Martinez menanggapi reaksinya dengan berkata, “He is a human being,” dan menambahkan, “He is allowed to have feelings.” Menurut Martinez, wajar bila seorang pemain merespons situasi dengan emosi.

Wayne Rooney, mantan rekan setim Ronaldo, turut menjelaskan pola yang sama. Rooney menilai, “This is what he does,” dan bahwa, “He takes some criticism and this is how he responds.”

Usia 41 tahun, catatan historis yang semakin rapat

Dengan dua golnya pada pekan itu, Ronaldo kini tercatat sebagai pencetak gol tertua kedua dalam sejarah Piala Dunia. Ia berada pada usia 41 tahun dan 138 hari, hanya tertinggal dari legenda Kamerun Roger Milla yang berusia 42 tahun dan 39 hari.

Gol-gol Ronaldo juga menempatkannya dalam kelompok pemain yang meraih kehormatan sebagai pencetak gol termuda sekaligus tertua bagi negaranya di Piala Dunia. Dalam catatan tersebut, “The other? Messi” disebut sebagai satu nama lainnya bersama Ronaldo.

Ronaldo dan Messi bahkan memiliki jarak sejarah yang sangat mirip dalam pencapaian Piala Dunia mereka. Keduanya mencatat gol pertama dan gol terakhir untuk negara masing-masing dengan selisih 20 tahun dan 11 hari, sesuai uraian pada saat artikel ditulis.

“I couldn’t care less about others” dan respons terhadap sorotan

Saat ditanya soal Messi yang mencetak lima gol dalam dua pertandingan pembuka, Ronaldo memilih jawaban tegas. Ia berkata, “I couldn’t care less about others,” sambil menambahkan, “…Mbappe also scored.”

Di tengah rivalitas yang panjang, respons Ronaldo menegaskan fokusnya pada proses dan standar permainan. Ia tidak membiarkan pencapaian pemain lain menjadi pengganggu ritme dirinya sendiri.

Roberto Martinez juga menilai rivalitas mereka tetap memberi dampak positif. Ia menyebut, “I believe both players have improved football over the years, and their rivalry is important for themselves to grow.”

Rooney kemudian menambahkan gambaran sikap Ronaldo. Ia berkata, “He wants to be the best at what he does,” dan menilai bahwa ketika pemain top lain terus mencetak gol, Ronaldo akan berusaha berada di daftar teratas.

Rooney menegaskan karakter respon itu dengan kalimat, “His response here is exactly what you’d expect.” Ia melanjutkan bahwa “He’s selfish in the sense that he wants to be the best, but he’s a team player also.”

Bagi Rooney, tontonan saat ini terasa langka. Rooney menutup penilaian dengan, “It’s incredible to watch Messi last night and Ronaldo tonight. At their age, it’s incredible what they are doing.”

Perubahan pola permainan setelah usia 35 tahun

Keduanya memang harus menyesuaikan cara bermain agar tetap berada di puncak. Messi, setelah menginjak 35 tahun, menemukan level baru di panggung internasional dan mencetak 12 gol dalam sembilan laga Piala Dunia terakhirnya.

Jumlah tersebut disebut dua gol lebih banyak dibanding total yang dimiliki Ronaldo dalam periode yang sama. Dalam laporan itu, Ronaldo disebut memiliki total 10 gol, dan catatan posisi Messi menempatkannya ke urutan ketujuh daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia, dengan skor yang setara dengan legenda Brasil Pele.

Di sisi lain, Messi sebelumnya hanya mencetak enam gol dalam 19 pertandingan awalnya di turnamen. Rentang tersebut terjadi saat ia berusia 18 hingga 34 tahun, sebelum kemudian mengalami perubahan bentuk permainan ketika memasuki fase baru.

Perubahan itu turut dikaitkan dengan keputusan Messi setelah meninggalkan Barcelona. Ada pandangan bahwa sejak meninggalkan klub Catalan, fokusnya mungkin lebih mengarah pada kiprah bersama Argentina.

Kenyataan tersebut tidak selalu disepakati oleh semua pihak di negaranya, terutama ketika Messi berada pada puncak Eropa dalam beberapa tahun terbaiknya. Namun, statistik di Piala Dunia menunjukkan bahwa pasca-usia 35, dampaknya justru semakin terasa.

Bagi Ronaldo, disebutkan ia mencetak delapan gol dalam 16 pertandingan Piala Dunia dan Kejuaraan Eropa sejak menginjak 35 tahun. Ini memperlihatkan bahwa walau gaya bermain dapat berubah, kontribusinya tetap berada pada jalur yang relevan dengan momen penting.

Arah berikutnya: target 1.000 gol karier

Catatan rekor yang ditorehkan Ronaldo tidak dipandang sebagai akhir dari cerita. Setelah kampanye Piala Dunia ini, ia disebut akan mengincar target 1.000 gol karier.

Gol saat melawan Uzbekistan membawa Ronaldo ke angka 975, tepat 25 gol di bawah target tersebut. Dari sudut pandang itu, setiap laga berikutnya menjadi peluang tambahan untuk memendekkan jarak menuju tonggak besar.

Rivalitas yang mungkin punya penutup di Piala Dunia berikutnya

Namun, meski kini bukan sensasi peraih Ballon d’Or seperti pada masa awal karier mereka, upaya untuk saling mengejar langkah tetap menarik perhatian. Dinamika ini juga membuat turnamen terasa hidup karena sejarah selalu bisa terus dipertajam.

Kalau Portugal dan Argentina berhasil menjuarai grup masing-masing dan melaju ke fase gugur, keduanya berpotensi bertemu di perempat final. Pertemuan tersebut disebut bakal berlangsung di Kansas City pada 11 Juli.

Meski begitu, skenario lain juga mungkin terjadi. Rivalitas bisa saja terus berlanjut hingga 2030, saat keduanya kembali berada di jalur untuk memperebutkan rekor-rekor berikutnya.

Untuk dua ikon sepak bola yang dianggap sama-sama tak terbendung di puncak karier, tidak ada yang benar-benar terasa mustahil lagi. Ketika mereka masih mampu mencetak momen penentu, Piala Dunia menjadi panggung yang tetap menambah legenda.