Daerah

Gusnar Ismail Nilai JIAT: 70 Sumur di Gorontalo Butuh Rehabilitasi

×

Gusnar Ismail Nilai JIAT: 70 Sumur di Gorontalo Butuh Rehabilitasi

Sebarkan artikel ini

jurnalistik.co.id – Gubernur Gusnar Ismail melakukan evaluasi terhadap Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Provinsi Gorontalo untuk memastikan ketersediaan air bagi petani, terutama saat musim kemarau. Penilaian ini diarahkan agar program irigasi mampu menjaga produktivitas pertanian ketika pasokan air permukaan terbatas.

Dalam rapat pemaparan laporan kemajuan pelaksanaan program JIAT dan daerah irigasi, Gusnar Ismail meminta seluruh informasi kinerja JIAT dikaji secara menyeluruh. Rapat tersebut berlangsung di Ruang Dulohupa, Gubernuran, Kamis (1/10/2026).

Menurut hasil evaluasi, dari total 187 unit JIAT di Gorontalo, sebanyak 117 unit masih beroperasi. Sementara itu, 70 unit lainnya memerlukan rehabilitasi agar fungsinya kembali optimal.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Provinsi Gorontalo, Jamal Nganro, menjelaskan bahwa gubernur menekankan pentingnya pengkajian fungsi JIAT. Penekanan tersebut diperlukan untuk memastikan dukungan program irigasi terhadap produktivitas pertanian tetap berjalan, khususnya saat debit air sungai terbatas.

Jamal menyampaikan bahwa arah evaluasi juga menyasar dampak langsung ke aktivitas budidaya masyarakat. Ia menegaskan perlunya kepastian luas lahan yang dapat dialiri dan kondisi penggunaan sumur oleh warga.

“Dengan adanya program JIAT, diharapkan produktivitas petani tidak menurun meskipun musim kemarau. Karena itu, perlu dipastikan berapa luas lahan yang bisa diairi dan apakah masyarakat di sekitar sumur masih aktif bercocok tanam,” ujar Jamal.

Dalam pemaparannya, Jamal menyebutkan bahwa setiap unit JIAT diproyeksikan mampu mengairi sekitar 5 hingga 10 hektare lahan pertanian. Namun, efektivitas pemanfaatannya perlu diverifikasi melalui data kondisi sumur dan hasil layanan irigasi di lapangan.

Evaluasi, lanjut Jamal, juga mempertimbangkan luas lahan yang terlayani serta aktivitas pertanian di wilayah tersebut. Dengan demikian, perencanaan lanjutan tidak berhenti pada angka kapasitas, melainkan ditopang bukti kondisi aktual.

Gubernur juga meminta Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi II Gorontalo melengkapi data operasional JIAT. Data tersebut akan dijadikan dasar untuk tahap evaluasi berikutnya sekaligus mendukung langkah perbaikan yang tepat sasaran.

Setelah data operasional tersedia, Gusnar Ismail direncanakan meninjau kondisi JIAT secara langsung di lapangan. Peninjauan ini diharapkan dapat memperjelas kebutuhan rehabilitasi serta memastikan pengembangan jaringan irigasi berjalan sesuai prioritas.

Rencana pembangunan dan rehabilitasi hingga 2030

Kepala BWS Sulawesi II Gorontalo, Ali Rahmat, memaparkan skema pengembangan jaringan irigasi air tanah yang disiapkan oleh institusinya. Untuk mendukung program tersebut, BWS menyiapkan kegiatan pembangunan dan rehabilitasi dengan dukungan pendanaan Bank Dunia.

Ali menyebutkan bahwa pada 2027 direncanakan pembangunan 18 sumur baru dan rehabilitasi 10 sumur. Program yang dirancang berlangsung hingga 2030 tersebut ditujukan agar pengelolaan air tanah semakin optimal.

Dengan adanya evaluasi ini, pemerintah daerah berharap perbaikan pengelolaan infrastruktur irigasi dapat segera ditindaklanjuti. Pada akhirnya, langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan ketahanan pangan dan menjaga produktivitas pertanian di Provinsi Gorontalo, khususnya pada periode musim kemarau.

Gusnar Ismail menempatkan evaluasi program JIAT sebagai bagian dari upaya memastikan setiap langkah perbaikan tidak berhenti pada dokumen, tetapi langsung menjawab kondisi lapangan yang mempengaruhi keberlanjutan pengairan. Penajaman informasi kinerja dipandang penting agar keputusan berikutnya lebih tepat sasaran.

Dalam penilaian tersebut, perhatian diarahkan pada keterhubungan antara kondisi jaringan dan aktivitas budidaya masyarakat. Kesiapan sumur dan kepastian luas lahan yang dapat terlayani menjadi ukuran praktis yang membantu melihat seberapa jauh layanan irigasi air tanah mampu menopang pekerjaan petani saat ketersediaan air permukaan menurun.

Rangkaian evaluasi juga diarahkan untuk menyiapkan tindak lanjut yang terukur, termasuk pendalaman data operasional oleh BWS Sulawesi II Gorontalo. Setelah data terkumpul, peninjauan langsung ke lapangan diharapkan memperjelas kebutuhan rehabilitasi, sekaligus memperkuat pelaksanaan rencana pembangunan dan rehabilitasi hingga 2030.