jurnalistik.co.id – Dolly Parton akan dikenang sebagai legenda musik country yang karyanya lahir dari emosi paling personal. Dalam perjalanan panjangnya, ia menulis lagu, menyanyi, dan membangun karier bisnis dengan keteguhan yang sama.
Dari Smoky Mountains di Tennessee, ia dikenal lewat lagu-lagu yang bercerita dengan jujur, termasuk Coat of Many Colours, Jolene, serta I Will Always Love You. Selama lebih dari tujuh dekade berkarya, Parton meraih 10 penghargaan Grammy, menjual lebih dari 100 juta rekaman di seluruh dunia, dan menulis lebih dari 3.000 lagu.
Dalam cara pandangnya, menulis adalah pusat dari semuanya. “It’s my way of expressing myself,” kata Parton, dan menambahkan, “It’s my therapy.” Ia juga dikenal sebagai pebisnis yang cepat membaca situasi dan tidak gentar mengambil keputusan sulit.
Ketika berbicara tentang industri hiburan, kecerdasan dan pesona khas selatan membantunya mengendalikan arah karier yang berlangsung lebih dari 60 tahun. Ia muncul sebagai figur yang selalu tahu apa yang ia inginkan dari panggung—sekaligus dari hidup.
Awal hidup dan panggung pertama
Dolly Rebecca Parton lahir pada 1946 sebagai anak keempat dari 12 bersaudara dalam keluarga petani yang hidup serba kekurangan. Keluarganya tinggal di kabin satu kamar di Tennessee.
Ayahnya, Robert Lee Parton, menjadi petani tembakau. Untuk kebutuhan misionaris, ia membayar sekarung cornmeal kepada seorang pengantar—detail sederhana yang menggambarkan kondisi masa kecil Parton. Musik sudah hadir sejak awal; ibunya, Avie Lee, kerap menyanyikan lagu-lagu rakyat, sementara seorang bibi memainkan gitar sekaligus menulis lagu.
Pada beberapa pertunjukan awal, pamannya, Bill Owens, ikut mengiringi Parton dengan gitar. Sejak usia enam tahun, ia menyanyi di gereja setempat; kakeknya menjadi pendeta. Di masa remaja, Parton bahkan sudah tampil di stasiun televisi lokal.
Pada 1959, saat berusia 13 tahun, ia tampil bersama Uncle Bill di Grand Ole Opry di Nashville. Acara itu merupakan siaran langsung yang dipandang sebagai panggung terbesar musik country. Ia diperkenalkan oleh Johnny Cash dan menerima tiga kali encore.
Karakter “town tramp” dan keberanian tampil
Di masa remajanya, Parton mulai meniru seorang karakter lokal yang dikenal sebagai “town tramp”. Ia memakai cat kuku merah menyala, atasan dengan potongan rendah, serta sepatu hak tinggi—membuat Dolly muda memandang gaya itu sebagai sesuatu yang indah.
Ketika orang-orang menilai, “She ain’t nothing but trash”, Parton menjawab, “Well, that’s what I’m gonna be when I grow up”. Ia menyanyikan, “ I’m just a backwards Barbie / too much make-up, too much hair ”, namun citranya bekerja seperti tameng sekaligus penyamaran yang cerdas, agar ia lebih diperhatikan di dunia hiburan.
Ia juga cerdas menghadapi ejekan. Ia mengalahkan lelucon dengan membuatnya lebih dulu, dan memberi respons cepat ketika ada yang menyarankan agar meredam gaya. “Go to hell.”
Parton pernah mengatakan ia merasa lebih baik saat mengenakan warna-warna cerah dan pakaian mengilap di panggung: “You’d be surprised how much it costs to look this cheap”.
Dari Nashville hingga duo paling populer
Setelah lulus sekolah menengah pada 1964, Parton pindah ke Nashville untuk meluncurkan karier bernyanyinya. Ia bertemu calon suaminya, Carl Dean, pada hari pertamanya. Mereka menikah dua tahun kemudian dan tetap bersama hingga kematiannya pada 2025.
Di Nashville, penyanyi country Porter Wagoner melihat kemampuan Parton. Wagoner kemudian mempekerjakannya untuk tampil di program televisinya. Dalam tujuh tahun berikutnya, keduanya menjadi salah satu duo paling populer di musik country, merilis begitu banyak duet hingga banyak penggemar mengira mereka pasangan sungguhan.
Meski begitu, hubungan mereka tidak sederhana. Saat karier solo Parton mulai naik, ketegangan di balik layar juga meningkat. Dalam bukunya, Star of the Show: My Life on Stage, Parton menuturkan Wagoner memandang kesuksesannya di luar acara sebagai ancaman: “threat”.
Ketika ikut tur bersama Wagoner di bus pada 1969, Parton menulis Coat of Many Colours. Lagu itu adalah kisah emosional tentang tumbuh miskin tetapi “kaya” oleh cinta. Ia menuliskannya di bagian belakang salah satu kuitansi dry cleaning milik Wagoner.
Rolling Stone kemudian menilai lagu tersebut sebagai lagu keduanya yang pernah ada. Bertahun-tahun kemudian, Parton menamai buku anak-anaknya dengan Coat of Many Colours, dan judul itu pula dipakai untuk film televisi 2015 yang diambil dari kisah hidupnya. “It’s a song that’s just stood by me… it’s created a life of many colours for me,” ujarnya.
Joshua, I Will Always Love You, dan keputusan besar
Parton tidak dapat membaca not balok, tetapi ia memainkan sejumlah instrumen termasuk banjo, harp, piano, dan saxophone. Ia meraih nomor satu pertama dan nominasi Grammy pertamanya lewat lagu Joshua pada 1971.
Berita Terkait
Ia akhirnya meninggalkan The Porter Wagoner Show pada 1974 untuk fokus pada karier solonya. Untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Wagoner, Parton menulis I Will Always Love You, lagu yang banyak orang yakini berkisah tentang dua kekasih yang berpisah.
“That’s the prettiest song I ever heard,” demikian Wagoner menangis saat pertama kali mendengarnya, sebagaimana tertulis di situs resminya. Pada tahun yang sama, Elvis Presley dijadwalkan merekam versi cover, namun Parton menarik kesepakatan ketika manajer Elvis meminta setengah dari hak penulisan lagu. Ia menangis semalaman karena keputusan sulit itu.
Priscilla Presley kemudian mengatakan Elvis menyanyikan lagu tersebut kepadanya saat masa perceraian. Pada 1992, Whitney Houston mengubah I Will Always Love You menjadi power ballad yang kini menjadi ikon. Parton mengatakan ia sedang mengemudi saat pertama kali mendengar versi Houston, lalu harus menepi. “When I heard her go from the a cappella into the music part, I honestly thought I was going to have a heart attack, it was one of the most overwhelming things.”
Parton menyebut cover “sad little country song” itu sebagai salah satu momen paling membanggakan dalam hidupnya. Ia juga merekam ulang lagu tersebut untuk film The best Little Whorehouse in Texas (1982) yang dibintanginya, serta membuatnya masuk nominasi Golden Globe untuk aktris terbaik.
Jolene dan keteguhan citra
Salah satu lagu paling terkenal Parton juga lahir pada 1974, yaitu Jolene. Lagu itu menampilkan kerentanan yang terasa nyata; temanya tentang seorang pegawai bank dengan rambut auburn yang menyala, yang menggoda suaminya. “ Jolene, I’m begging of you, please don’t take my man ,” Parton memohon dalam liriknya.
Parton mengatakan suaminya, yang terkenal tertutup soal kehidupan pribadi, merasa sedikit malu dengan lagu tersebut. Namun menurutnya, itu tidak serius—lebih seperti candaan yang terus berjalan di antara mereka: “I was saying, ‘Hell, you’re spending a lot of time at the bank. I don’t believe we’ve got that kind of money.’”
Jolene kemudian ditutup dengan beragam versi oleh banyak artis, termasuk The White Stripes, Miley Cyrus, dan BeyoncĂ©. Penyanyi terakhir mengubah liriknya menjadi lebih mengancam: “ I’m warning you, don’t come for my man. ”
Kesuksesan Parton terus tumbuh lewat sejumlah hit, nominasi, dan penghargaan. Ia meraih Grammy pertamanya pada 1978 untuk Here You Come Again.
9 to 5, bisnis, dan karya yang meluas
Karier Parton makin melejit lewat lagu tema untuk film 9 to 5 pada 1980. Jane Fonda, yang memproduseri sekaligus membintangi film tentang diskriminasi di tempat kerja, membuat kesepakatan dengan Parton: Fonda akan tampil dalam film itu bila ia juga bisa menulis lagu tema.
Sambil menyadari bunyi jepitan kukunya seperti mesin ketik, Parton menulis 9 to 5 saat menunggu di lokasi syuting. Fonda menyebut bahwa ia langsung paham ini bukan sekadar lagu tema, melainkan sebuah anthems. Filmnya sukses besar di box office, dan lagu itu meraih beberapa penghargaan, termasuk Golden Globe.
Dalam urusan bisnis, Parton dikenal sebagai pebisnis yang cermat. Pada 2022, Forbes menempatkannya sebagai salah satu perempuan terkaya buatan sendiri di Amerika. “I look like a woman but I think like a man. I’ve done business with men who think I’m as silly as I look. By the time they realise I’m not, I’ve got the money and gone,” ujarnya.
Bentuk luar yang sering ia tampilkan—kostum, wig, kuku panjang yang dicat, dan hak tinggi—lebih merupakan tiruan dari stereotip “dumb blonde”. Namun Parton selalu menegaskan ia tidak bodoh, dan bukan pirang. Ia juga memiliki label rekaman bernama Dolly Records serta ikut memiliki The Dollywood Company, yang mengelola tempat hiburan, taman tema, taman air, dan sebuah resor.
Pada 1986, ia membuka Dollywood di kaki bukit Smoky Mountains. Selain wahana seperti rollercoaster, Dollywood juga menjadi tempat suaka terbesar di dunia untuk elang botak yang tidak bisa dilepasliarkan. Upaya rehabilitasi dan pembiakannya mendapat penghargaan, dan pada 2007 elang botak dikeluarkan dari daftar spesies terancam.
Filantropi, dukungan kesehatan, dan penundaan pertunjukan
Meski sukses dan bergelimang kekayaan, Parton tetap rendah hati dan mendukung komunitas tempat ia dibesarkan. Ia terinspirasi oleh ayahnya yang tidak bisa membaca atau menulis, lalu meluncurkan Imagination Library pada 1999 yang memberikan buku gratis kepada anak-anak di Tennessee. Program itu kemudian berkembang ke Australia, Inggris, Irlandia, dan Kanada, dengan jutaan buku gratis yang dikirim setiap tahun.
Organisasi nirlabanya, The Dollywood Foundation, mendanai beasiswa, rumah sakit, serta membantu korban banjir dan kebakaran hutan. Pada 2020, saat pandemi Covid-19 melanda dunia, Parton menyumbangkan $1m (ÂŁ716,000) kepada Vanderbilt University Medical Centre untuk mendukung pendanaan vaksin Moderna.
Di tahun-tahun berikutnya, ia beberapa kali harus menunda atau membatalkan pertunjukan demi perawatan kesehatan. Pada Mei 2026, ia menunda residensi Las Vegas yang dijadwalkan berlangsung karena pengobatan batu ginjal, dengan mengatakan proses penyembuhan akan memakan waktu agar ia siap “stage-performance ready”.
Dalam pesan video, ia berkata, “I can’t be dizzy carrying around banjos, guitars and such on 5-inch heels – and you know that I’m going to be wearing them.” Ia juga bercanda, “Not to mention, all those heavy rhinestone outfits, the big hair, my big… uh, personality”.
Parton tetap terus membuat momen bersejarah bagi penggemarnya. Pada 2023, ia tampil di NFL Thanksgiving half-time show saat berusia 77 tahun.
Sepanjang kariernya, ia berbicara dengan sopan dan tetap penuh humor serta kecerdasan. Ia menghindari politik karena tidak ingin membuat separuh audiensnya tersisih. Bagi musik country, ia menjadi pionir yang berani dan berbakat pada masa ketika perempuan belum dipandang serius di industri, terutama sebagai artis solo.
Parton berharap ia dikenang lewat penulisan lagunya—sebagai sosok yang mengambil pekerjaannya dengan serius, namun tidak mengambil dirinya terlalu penting.












