Entertainment

Ramabai Ranveer, Janda 47 Tahun Berlomba Lari 3 Km Tanpa Alas Kaki demi Buku Putrinya

×

Ramabai Ranveer, Janda 47 Tahun Berlomba Lari 3 Km Tanpa Alas Kaki demi Buku Putrinya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Siapa Rambai Ranveer? Janda yang Berlomba Lari Tanpa Alas Kaki demi Hadiah untuk Beli Buku bagi Putrinya

jurnalistik.co.id – Seorang janda berusia 47 tahun, Ramabai Ranveer, menarik perhatian publik saat mengikuti lomba lari jarak 3 km dengan berlari tanpa alas kaki. Dalam perlombaan komunitas itu, ia berangkat dengan satu harapan: uang hadiah dapat membantu kebutuhan belajar putrinya.

Ramabai menyelesaikan lomba tersebut sebagai peserta yang lebih dulu melintasi garis finis. Ia berlari tanpa sepatu lari, bahkan dalam kondisi yang ia akui tidak sama sekali dipersiapkan seperti pelari pada umumnya.

Balapan ini menjadi awal bagi Ramabai di bulan Agustus. Sejak bulan itu, ia tidak melakukan latihan rutin, tetapi tetap memilih untuk ikut serta demi kesempatan meraih hadiah yang ia butuhkan.

Menurut laporan tersebut, ia menargetkan hadiah sebesar 3.000 rupee. Besaran ini disebut setara dengan sekitar USD31 dan £23, angka yang baginya memiliki arti langsung karena akan dipakai untuk membeli buku serta materi belajar.

Janda dari Maharashtra berlari demi buku dan biaya sekolah

Ramabai Ranveer berasal dari Maharashtra, wilayah di India barat. Dalam lomba komunitas sepanjang 3 km, ia menempatkan pendidikan sebagai alasan utama untuk mengikuti kompetisi.

Ia disebut berusaha memenangkan hadiah agar dapat membiayai pendidikan kedua putrinya. Ketika ia menyelesaikan lomba lebih dahulu, kegembiraan itu muncul karena harapannya untuk membantu putri-putrinya mendapatkan dukungan yang selama ini sulit dipenuhi.

Jarak yang ia tempuh dalam lomba itu juga disebut setara 1,86 mil. Fokusnya bukan pada rekor atau gaya berlari, melainkan pada tujuan praktis yang ia gantungkan pada uang hadiah.

Video yang menampilkan Ramabai berlari tanpa alas kaki kemudian menyebar dengan cepat di media sosial dan diberitakan oleh sejumlah surat kabar. Penyebaran itu membuat kisahnya keluar dari konteks lokal lomba komunitas dan berubah menjadi perhatian publik yang lebih luas.

Uang hadiah tidak besar, namun diharapkan menutup kebutuhan belajar

Dari keterangan dalam laporan, Ramabai mendapatkan sorotan karena ia mengaitkan lomba dengan kebutuhan pendidikan. Disebutkan bahwa uang hadiah tersebut tidak cukup untuk menutupi seluruh biaya pendidikan tinggi di India.

Namun, dana itu diharapkan tetap bisa membantu memenuhi bagian kebutuhan yang tidak bisa ditunda, termasuk pembelian buku dan bahan belajar. Situasi ini terasa semakin berat karena salah satu putrinya sedang mempersiapkan ujian rekrutmen pemerintah.

Laporan yang sama juga menyinggung bahwa dana yang tersedia tidak memadai untuk menutup kursus di pusat pelatihan tempat putrinya bersiap menghadapi ujian. Dengan kata lain, harapan Ramabai bukan sekadar memenangkan lomba, melainkan mencari ruang agar pendidikan putrinya tetap berjalan.

Pada titik ini, kisah Ramabai memperlihatkan bagaimana uang relatif kecil bagi sebagian orang dapat menjadi penentu keputusan penting bagi keluarga lain. Bagi Ramabai, setiap langkah di lintasan tampak terhubung dengan upaya bertahan di tengah keterbatasan.

Kisahnya memunculkan komentar tentang pendidikan dan martabat keluarga

Ketika video dan cerita tentang Ramabai beredar, muncul komentar dari warganet yang mempertanyakan makna dari tindakan tersebut. Salah satu pengguna media sosial menuliskan: “Apakah ini suatu kemuliaan atau justru menjadi sumber rasa malu bagi kita sebagai masyarakat?”

Kalimat itu mencerminkan perdebatan yang muncul dari viralnya kisah ini. Di satu sisi, tindakan Ramabai dipandang sebagai upaya luar biasa yang dilakukan keluarga untuk memperjuangkan pendidikan.

Di sisi lain, komentar serupa juga menunjukkan kegelisahan terhadap keadaan yang membuat orang harus menempuh cara yang tidak biasa demi memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Dengan viralnya video, cerita Ramabai menjadi semacam simbol terhadap tantangan yang lebih besar di seputar akses pendidikan.

Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa Ramabai bahkan sebelumnya tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi seorang pelari. Meski begitu, ia tetap maju karena kesempatan yang muncul lewat lomba komunitas dianggap sebagai jalan yang bisa dicoba.

Keputusan untuk ikut serta digambarkan sebagai sesuatu yang “sederhana” baginya. Ia memilih mengikuti lomba dengan kondisi tanpa persiapan latihan, sekaligus memikul tujuan yang ia anggap mendesak: memenangkan hadiah untuk membeli buku dan membantu kebutuhan belajar putrinya.

Kisah Ramabai Ranveer kemudian berdiri di persimpangan antara olahraga dan pendidikan. Perlombaan 3 km itu tidak hanya soal jarak dan kecepatan, tetapi juga tentang bagaimana keluarga berupaya mempertahankan peluang bagi masa depan anak-anaknya.