Entertainment

Laura Kuenssberg mempertanyakan kebenaran: Earl Spencer atau sang Raja?

×

Laura Kuenssberg mempertanyakan kebenaran: Earl Spencer atau sang Raja?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Laura Kuenssberg: I asked Earl Spencer who we should believe, him or the King?

jurnalistik.co.id – Laura Kuenssberg menyoroti pusaran klaim yang muncul dalam memoar baru terkait tragedi Princess Diana, sambil menempatkan pertanyaan besar: siapa yang seharusnya dipercaya, Earl Spencer atau sang Raja.

Ia mengawali cerita dari suasana Althorp, rumah leluhur keluarga Spencer, tempat Diana dahulu pernah merayakan momen-momen sederhana sebelum akhirnya dimakamkan di kawasan yang sama.

Selasa itu, Kuenssberg tiba di Althorp untuk berbicara dengan Charles—Earl Spencer—sebagian besar pengunjung masih sedikit di tengah bangunan megah yang dipenuhi lukisan keluarga aristokrat Spencer.

Perjalanan wawancara berlangsung hanya beberapa jam setelah Buckingham Palace mengeluarkan pernyataan yang berisi bantahan keras terhadap klaim-klaim dalam buku baru Earl Spencer.

Dari latar pedesaan yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk kota, kata-kata Earl Spencer justru menghadirkan konflik yang tajam: apakah yang disampaikan Spencer mengenai masa-masa setelah kematian Diana sesuai fakta, ataukah justru bertentangan dengan pandangan pihak Istana.

Dalam wawancara tersebut, Kuenssberg menegaskan bahwa pembahasan tidak berhenti pada ingatan pribadi semata, melainkan bergeser menjadi pertanyaan tentang kebenaran: apakah Earl Spencer atau “the King” yang menyampaikan sesuatu yang benar.

Ia bahkan merangkum posisinya lewat pertanyaan yang ia ajukan kepada Earl Spencer: “I asked Earl Spencer who we should believe – him or the King?”

Menurut Kuenssberg, penting untuk menguji kepastian klaim Earl Spencer. Ia mempertanyakan apakah Earl Spencer benar-benar merasa yakin bahwa saat itu, Prince Charles terdengar “giddy” setelah mantan istrinya meninggal pada malam yang menyedihkan di tahun 1997.

Ia juga menyinggung satu klaim lain: Earl Spencer, yang juga dikenal sebagai sejarawan dan mantan jurnalis, menyatakan pernah mendengar bahwa Charles “hissed” kepadanya—dengan pesan dunia akan “forget her soon enough”.

Di mata Kuenssberg, pertanyaan ini relevan bukan karena dua pihak berada dalam kondisi yang sama-sama terkejut, melainkan karena ada klaim spesifik yang dipertaruhkan di ruang publik bertahun-tahun setelah peristiwa itu.

Kuenssberg menggambarkan Earl Spencer sebagai sosok yang tegas dan yakin pada versi ceritanya. Ia menuturkan bahwa Earl Spencer merinci percakapan-percakapan dengan King secara detail, dengan catatan penting: Istana tidak secara eksplisit menolak klaim tersebut, tetapi justru mempertanyakan penilaiannya.

Pernyataan Buckingham Palace, seperti yang dikutip dalam laporan wawancara, menegaskan sikapnya. Istana menyatakan, “While we do not comment on books as a matter of principle, His Majesty is mindful that the pain of fraternal grief can cloud reason, affect judgment and colour memory in ways others do not recognise, even many years after such a loss.”

Kuenssberg menempatkan kalimat itu sebagai indikator betapa tidak nyaman Istana dengan cara Earl Spencer memaparkan masa lalu. Dalam pandangannya, hubungan yang rumit antara keluarga Spencer dan Windsor selama puluhan tahun turut menjadi latar yang memperbesar tensi.

Ia menyebut bahwa sekutu dari masing-masing pihak terlihat mengambil posisi dalam dua puluh empat jam terakhir, dengan sebagian pendukung pihak Raja yang menyatakan bahwa King tidak mungkin mengucapkan hal-hal seperti yang disebut Spencer.

Namun Kuenssberg juga menggarisbawahi keterbatasan pengetahuan publik: tidak ada cara untuk memastikan secara total apa yang terjadi persis pada saat itu.

Ia menekankan bahwa belum ada penolakan eksplisit. Akan tetapi, Istana—dalam versi pernyataannya—keberatan kuat pada cara Earl Spencer menyusun dan menghadirkan kisah masa lalu.

Meski demikian, setelah berbicara selama sekitar setengah jam, Kuenssberg merasa Earl Spencer tampak sangat yakin pada benak dan pikirannya sendiri. Ia menilai bahwa buku tersebut memang disusun secara cermat untuk menempatkan kisah versi Spencer, sekaligus memberi penghormatan pada kehidupan Diana menjelang peringatan 30 tahun kematiannya.

Jejak Diana di Althorp

Setelah percakapan berakhir, Kuenssberg berjalan bersama Earl Spencer menuju area danau di perkebunan tersebut. Di sebuah pulau kecil yang diselimuti pepohonan, Diana dimakamkan di tempat yang ditandai dengan guci batu berukuran besar.

Di lokasi yang sama, Earl Spencer juga menunjukkan perahu kecil berwarna hijau yang biasa ia gunakan untuk berkunjung ke pulau tersebut. Dari sana, mereka melanjutkan langkah ke bangunan yang disebutnya The Temple.

The Temple merupakan bangunan abad ke-18 yang kini memakai nama Diana. Di dalamnya tersimpan kutipan dari Diana sendiri, serta kutipan lain yang berasal dari eulogi Earl Spencer yang terkenal.

Kuenssberg mencatat bahwa Earl Spencer mengatakan garis kutipan itu dimaksudkan sebagai jawaban terhadap “Charles” lain yang menyebut Diana akan cepat dilupakan.

Earl Spencer mengingatkan bahwa Diana “will never be extinguished from our minds”. Kalimat itu, menurutnya, menjadi semacam penegasan bahwa ingatan tentang Diana tidak akan padam.

Dalam penuturan berikutnya, Earl Spencer menegaskan bahwa ia tidak bertindak untuk membalas dendam. Kuenssberg menuliskan bahwa ia tidak sedang “vengeful” dan tidak bertujuan merusak monarki.

Ia bahkan menyebut ada informasi lebih banyak tentang King yang sebenarnya bisa ia sampaikan, tetapi ia memilih untuk tidak membeberkannya.

Namun, dengan berbicara begitu terang-terangan, menerbitkan buku, melakukan serialisasi di surat kabar, dan berbagi cerita langsung melalui wawancara, Earl Spencer tidak hanya menunaikan penghormatan yang menyentuh bagi saudara perempuannya.

Kuenssberg melihat langkah itu sebagai dorongan yang menghidupkan kembali “long-running contest” untuk memperebutkan kendali atas ingatan publik mengenai Diana.

Kehilangan yang tak selesai

Di momen akhir wawancara, Kuenssberg menggambarkan Earl Spencer sebagai seseorang yang tidak tampil semata-mata untuk meluruskan mitos atau menutup lembaran lama lewat pertarungan opini.

Ketika Kuenssberg menanyakan seberapa besar ia merindukan Diana, Earl Spencer terlihat tak mampu menahan emosi. Hampir tiga dekade setelah peristiwa itu, air mata tetap muncul.

Ia menyatakan bahwa ia merindukan Diana setiap hari. Ia juga menyampaikan, “The thing with sibling loss? You never get over it,”

Kuenssberg mengingatkan bahwa Charles Spencer masih berusia muda ketika saudara perempuannya meninggal dunia pada usia 36 dalam keadaan yang sangat mengerikan. Ia kemudian bercanda soal menangis sebagai seorang pria berusia 62 tahun di akhir sebuah wawancara televisi.

Dalam wawancara yang sama, pembahasan juga menyentuh soal monarki sekaligus menyertakan klaim-klaim tentang King yang ia sadar akan memicu kontroversi di berbagai tempat.

Di ruang yang biasanya tidak banyak disorot publik seperti Althorp, Kuenssberg menegaskan bahwa kesedihan seorang saudara masih tampak jelas. Bagi ia, kisah tentang Diana tidak sepenuhnya menjadi urusan masa lalu.

Di tengah perdebatan mengenai kebenaran klaim—siapa yang “giddy”, siapa yang “hissed”, dan bagaimana ingatan seseorang dibentuk oleh duka—yang paling sulit dihapus ternyata bukan hanya perbedaan versi, melainkan kenyataan bahwa kehilangan itu terus tinggal.

Dan itulah mengapa pertanyaan yang Kuenssberg ajukan sejak awal terasa begitu tajam: ketika masa lalu diperebutkan, siapa yang pada akhirnya layak dipercayai—Earl Spencer, atau “the King”?