jurnalistik.co.id – Kabar duka Dolly Parton kembali menjadi sorotan utama di halaman depan koran-koran Rabu. Legenda musik country sekaligus filantropis itu dilaporkan wafat pada usia 80 tahun, dan sejumlah media menempatkan kabar tersebut sebagai headline mereka.
Salah satu headline yang paling menonjol datang dari Daily Star dengan kalimat âWe will always love you Dollyâ. Surat kabar tersebut menuliskan bahwa Parton sedang menghadapi kondisi kesehatan yang buruk sebelum wafat.
The Sun juga memilih judul yang serupa, âWe will always love you Dollyâ, sebagai bentuk pengakuan atas duka global yang dirasakan para penggemar musik. Di pemberitaan yang sama, media itu mengutip komitmen Presiden AS Donald Trump untuk menurunkan bendera AS di seluruh negeri sebagai penghormatan, seraya menyebut wafat Parton sebagai âa true loss for millionsâ.
Daily Mirror mengangkat Parton dengan cara yang berbeda melalui foto penyanyi tersebut saat mengenakan salah satu busana glittering khasnya. Lewat gambar itu, koran memberi penghormatan pada Parton sebagai âcountry iconâ.
Adapun The Independent menampilkan Parton sebagai âqueen of countryâ. Di halaman yang sama, media ini juga mengutip pernyataan dari tim Parton yang mengenangnya dengan frasa âa rhinestone life that shone bright enough for the world to seeâ.
Sementara itu, The Guardian menonjolkan Parton lewat kata-katanya sendiri. Media tersebut mengutip: âI always wanted to be a star. I just seemed natural to me.â, yang dihubungkan dengan kisah karier Parton sebagai figur yang dikenal mampu tampil menyatu dengan panggung dan sorotan.
Di luar fokus pada Parton, sejumlah koran lain turut membawa isu politik dan kebijakan untuk dibahas. The Guardian menyebut kisah lain sebagai top story mereka, yaitu rencana Perdana Menteri Andy Burnham menghadapi ujian dukungan terkait reformasi pemilihan umum pada pekan pertamanya di parlemen. Media itu menyebut hampir 100 anggota parlemen Partai Buruh (Labour) mendukung upaya pembentukan komisi nasional baru.
Berita Terkait
The Times menyoroti arah kebijakan Burnham terkait permukiman Israel di Tepi Barat. Koran itu menyebut PM akan âpoised to announce ‘robust’ sanctionsâ, meski ada peringatan bahwa langkah tersebut dapat berujung pada âdefacto boycottâ terhadap negara terkait.
Masih menurut The Times, Burnham ingin memperkuat pendekatan Inggris sebagai respons atas rencana Israel untuk membuka tender pembangunan 1,200 rumah permukiman. Sorotan ini kemudian ditempatkan sebagai bagian dari upaya pemerintah merespons perkembangan di lapangan.
Sementara Birmingham menjadi fokus perhatian Daily Telegraph. Koran tersebut melaporkan kota itu diproyeksikan menjadi yang pertama di Inggris menerapkan skema 20 mph dengan menurunkan batas kecepatan di mayoritas jalan. Jika diterapkan, 20 mph disebut menjadi standar di seluruh jalan lokal dan perumahan, dan dewan menginginkan semua rute selain A-roads menjadi zona 20 mph agar âcars no longer dominate street lifeâ.
Isu tata kelola ekonomi dan beban fiskal juga muncul dalam pemberitaan The i Paper. Media itu memimpin pembahasannya pada masa depan pensiun negara Inggris yang dipertanyakan akibat âpublic finance time bombâ, sehingga membuka kemungkinan pajak yang lebih tinggi bagi populasi yang menua.
Di sisi lain, Daily Mail melaporkan adanya peringatan bahwa Inggris bisa menghadapi balasan Rusia karena dukungannya terhadap Ukraina. Koran ini menyatakan para ahli keamanan telah memberi tahu Perdana Menteri untuk bersiap menghadapi âa direct responseâ dari Moskow.
Daily Express menggemakan kekhawatiran tersebut dengan frasa âBritain must prepare for Putin’s threatâ. Dari sudut pandang lain, Financial Times menyoroti peringatan China kepada AS, menyebut bahwa China akan membalas jika sanksi terbaru Donald Trump terhadap Iran diperluas hingga mencakup perusahaan-perusahaan Tiongkok.
Terakhir, Metro menghadirkan topik kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan kebiasaan berhenti merokok. Koran tersebut melaporkan hasil peninjauan yang menyebut vaping sebagai âa viable optionâ bagi orang yang ingin berhenti merokok, dengan catatan para ilmuwan menyatakan bahwa rokok elektrik âunlikely to be risk-freeâ, namun tetap dinilai lebih sedikit berbahaya dibanding rokok tradisional.












