jurnalistik.co.id – Musisi country ikonik Dolly Parton, berdasarkan pengumuman keluarga di media sosial, telah meninggal dunia di usia 80 tahun. Kepergiannya membuat banyak orang kembali menoleh pada sejumlah momen yang pernah menunjukkan perjalanan kariernya sejak awal.
Salah satu rekaman yang sering dirujuk adalah wawancara BBC pada 1979. Saat itu, Parton tampil dalam acara bincang-bincang BBC yang dipandu Michael Parkinson.
Dalam kesempatan tersebut, Parton berbicara secara terbuka mengenai masa kecilnya. Ia menggambarkan kehidupan di pedesaan Tennessee sebagai bagian dari latar yang membentuk dirinya.
Perbincangan itu juga menyinggung kondisi ekonomi keluarganya. Parton mencermati kemiskinan yang ia dan keluarganya hadapi pada masa tersebut, tanpa menutupinya dengan kalimat-kalimat manis.
Salah satu penggalan yang menonjol adalah kalimat, “We used flour for powder.” Parton menyebutkan penggunaan tepung sebagai pengganti “powder,” sebuah detail yang memperlihatkan bagaimana kebutuhan sehari-hari harus dipenuhi dengan cara yang tersedia.
Ungkapan sederhana itu kemudian menjadi semacam simbol dari realitas yang ia jalani kala itu. Ia menunjukkan bahwa keterbatasan tidak hanya soal kekurangan materi, tetapi juga soal kebiasaan bertahan yang harus dipelajari sejak kecil.
Lebih jauh, Parton dalam wawancara tersebut menempatkan cerita masa kecilnya sebagai fondasi dari tekad yang ia bangun. Ia menyinggung adanya dorongan kuat dari dalam diri yang membawanya untuk terus bergerak meski situasi tidak mudah.
Di acara yang sama, Parton tidak hanya menceritakan kesulitan, melainkan juga menjelaskan bahwa ketekunan menjadi kunci penting dalam perjalanannya. Baginya, keteguhan itu menjadi jalan untuk melampaui batas-batas yang dulu terasa dekat.
Berita Terkait
Rural Tennessee yang ia ceritakan menjadi semacam titik awal dari perjalanan tersebut. Dari tempat dan masa yang ia gambarkan apa adanya, Parton kemudian berkembang hingga dikenal secara luas di panggung internasional.
Dalam wawancara 1979 itu, Parton juga berbicara dengan nada reflektif, seolah menempatkan masa lalu sebagai pelajaran yang masih relevan. Ia memperlihatkan bahwa pengalaman pahit dapat berubah menjadi bahan bakar ketika seseorang tetap memilih untuk bertahan dan berusaha.
Penggalan “We used flour for powder” terdengar seperti kalimat remeh, tetapi justru karena itu ia terasa jujur. Detail semacam ini menegaskan bahwa keluarganya hidup dalam keterbatasan, dan Parton tumbuh dengan memahami cara menghadapi kenyataan.
Ketika cerita itu dibaca ulang hari ini, ia juga mengingatkan bahwa Parton mencapai ketenaran internasional bukan dalam ruang yang kosong. Ia berangkat dari masa kecil yang dipenuhi kemiskinan, lalu mengubah tekad menjadi arah yang jelas.
Wawancara BBC bersama Michael Parkinson pada 1979, dengan segala candor yang dibawa Parton, akhirnya menjadi potret awal dari sosok yang kelak dikenal dunia. Melalui kisah rural Tennessee dan kemiskinan keluarganya, Parton menegaskan bahwa tekad adalah bagian inti dari perjalanan menuju stardom.
Kini, di tengah kabar kepergiannya, kisah-kisah yang ia sampaikan dalam rekaman tersebut tetap hidup. Ia tidak hanya berbagi ingatan tentang masa lalu, tetapi juga meninggalkan pesan bahwa ketekunan dapat membawa seseorang melintasi batas yang dulu tampak tak mungkin dilewati.
Di dalam wawancara itu, Parton tidak berusaha menutup cerita dengan gaya yang terlalu menyanjung masa lalu. Ia justru menempatkan detail-detail kecil sebagai cara untuk menyampaikan gambaran yang utuh: seperti bagaimana kebutuhan sehari-hari dihadapi apa adanya, lalu diolah menjadi kebiasaan bertahan. Nada yang terdengar terus terang membuat penonton lebih mudah menangkap hubungan antara pengalaman yang dialami sejak awal dan cara ia membangun arah hidup.
Ketika publik menoleh kembali pada rekaman tersebut, kisah yang disampaikan Parton juga terasa seperti cermin dari proses yang panjang, bukan lompatan instan. Kemiskinan yang ia ceritakan, dorongan dari dalam diri, serta ketekunan yang ia tekankan menjadi satu benang merah: bahwa ketahanan bisa dibentuk melalui pilihan-pilihan kecil yang diulang, sampai akhirnya melahirkan kepercayaan diri untuk melangkah lebih jauh. Pesan reflektif ini tetap relevan, terutama saat kabar kepergiannya membuat banyak orang ingin memahami akar perjalanan kariernya.












