jurnalistik.co.id – Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), menunjukkan aktivitas vulkanik yang terekam selama periode pengamatan, disertai peristiwa letusan dan gejala visual di sekitar kawah.
Dalam catatan pos pengamatan, gunung api ini tercatat mengalami 107 kali erupsi pada Minggu (2/8/2026), sejak pukul 00.00 hingga 24.00 Wita.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Ile Lewotolok, Yeremias Kristianto Pugel, menjelaskan bahwa setiap erupsi terpantau melalui pengamatan dan pencatatan instrumental di lapangan.
Berdasarkan data seismogram, erupsi memiliki amplitudo 11,1–40 milimeter dengan durasi sekitar 30–88 detik.
Aktivitas itu juga memunculkan kolom abu yang teramati hingga ketinggian sekitar 200 hingga 600 meter dari permukaan kawah, dengan abu berwarna putih hingga kelabu.
Secara visual, kawasan puncak terpantau jelas, meski sempat berkabut, sementara asap kawah teramati bergerak pada intensitas yang bervariasi.
“Letusan disertai gemuruh lemah hingga sedang dan masih teramati lontaran material pijar di area kawah,” ujar Yeremias dalam keteranganya, Senin (3/8/2026) pagi.
Menurut informasi tersebut, gemuruh berlangsung pada tingkat yang lemah hingga sedang dan masih disertai lontaran material pijar di sekitar kawah, menandai bahwa proses magmatik di bawah permukaan masih menghasilkan aktivitas yang nyata.
Asap kawah bertekanan lemah berwarna putih, dengan intensitas tipis hingga sedang, serta teramati berada pada ketinggian sekitar 50–100 meter di atas puncak kawah.
Status Level II: Waspada
Berita Terkait
- Kesaksian Penumpang KMP Mutiara Sentosa 2: Terpisah Saat Evakuasi ke Laut, Satu Orang Belum Ditemukan
- KMP Mutiara Sentosa 2 yang Terbakar Pernah Kecelakaan, Perusahaan Pemilik Dievaluasi Menhub berdasarkan Investigasi KNKT
- Helikopter pemadam bertabrakan di Yunani, pilot Inggris selamat; pilot Denmark dan penghubung damkar Yunani tewas
Yeremias menegaskan bahwa Gunung Ile Lewotolok berada pada Level II atau Waspada, dan masyarakat diminta memahami bahwa kondisi tersebut mengharuskan kehati-hatian di sekitar wilayah gunung.
Gunung Ile Lewotolok memiliki ketinggian 1.423 meter di atas permukaan laut (mdpl), sehingga pengawasan dan penerapan langkah keselamatan di area rawan menjadi penting untuk mengurangi risiko gangguan dari abu vulkanik maupun lontaran.
Imbauan keselamatan bagi warga
Masyarakat diimbau menggunakan masker untuk melindungi mulut dan hidung serta menyiapkan perlengkapan lain guna menghindari paparan abu vulkanik.
Warga juga diminta untuk tetap mengikuti arahan petugas, serta tidak mendekati area kawah agar tidak berada pada jarak yang dapat terkena dampak langsung aktivitas.
Dengan adanya catatan 107 kali erupsi serta variasi ketinggian kolom abu dan kemunculan lontaran material pijar, pihak pengawas berharap imbauan ini dipatuhi secara konsisten hingga kondisi dinyatakan aman.
Monitoring akan terus dilakukan untuk memastikan perkembangan aktivitas Gunung Ile Lewotolok dapat dipahami secara lebih baik, sehingga tindakan pengamanan bisa disesuaikan dengan tingkat bahaya yang berlaku.
Selama rentang pengamatan mulai pukul 00.00 hingga 24.00 Wita, aktivitas Gunung Ile Lewotolok tercatat sebanyak 107 kali erupsi, dengan pemantauan yang menggabungkan pencatatan lapangan dan pembacaan seismogram. Dari data seismik itu, setiap kejadian direkam melalui amplitudo 11,1–40 milimeter dan durasi sekitar 30–88 detik, sehingga petugas dapat menilai pola getaran yang menyertai proses erupsi.
Selain terekam secara instrumental, kondisi di sekitar kawah juga menunjukkan perubahan yang dapat dikenali dari kolom abu dan pengamatan visual puncak. Kolom abu teramati mencapai ketinggian sekitar 200 hingga 600 meter dari permukaan kawah, dengan warna abu putih hingga kelabu. Dalam pengamatan lanjutan, asap kawah bertekanan lemah berwarna putih terlihat tipis hingga sedang, serta teridentifikasi berada pada ketinggian sekitar 50–100 meter di atas puncak kawah, dengan intensitas yang dapat bervariasi termasuk saat area puncak sempat berkabut.
Yeremias menyebutkan bahwa letusan disertai gemuruh lemah hingga sedang dan masih diikuti lontaran material pijar di sekitar area kawah. Karena masih adanya indikasi aktivitas nyata tersebut, status Level II ditetapkan sebagai Waspada. Masyarakat diminta memahami bahwa kehati-hatian diperlukan, terutama dengan mempertimbangkan potensi gangguan abu vulkanik dan lontaran material pijar. Upaya yang dianjurkan antara lain menggunakan masker untuk mengurangi paparan dari abu, serta tetap mengikuti arahan petugas dengan tidak mendekati area kawah agar terhindar dari dampak langsung.
Dengan catatan 107 kali erupsi dan variasi ketinggian kolom abu, petugas akan terus melakukan monitoring guna memastikan perkembangan aktivitas Gunung Ile Lewotolok dapat dipahami secara lebih baik. Langkah pengamanan di sekitar wilayah rawan juga diharapkan dapat berjalan konsisten sampai kondisi dinyatakan aman, sehingga informasi dan tindakan yang diambil tetap selaras dengan tingkat bahaya yang berlaku.












