Daerah

Usai 49 Sapi Warga Tewas di Timor Tengah Selatan, Dinas Peternakan Cek Kondisi yang Masih Hidup

×

Usai 49 Sapi Warga Tewas di Timor Tengah Selatan, Dinas Peternakan Cek Kondisi yang Masih Hidup

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Usai 49 Sapi Mati di TTS, Dinas Peternakan Periksa Kondisi Ternak yang Masih Hidup

jurnalistik.co.id – Dinas Peternakan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadwalkan pemeriksaan kesehatan terhadap sapi milik warga yang masih hidup setelah 49 ekor dilaporkan mati di Desa Tunua, Kecamatan Mollo Utara.

Langkah itu dilakukan untuk mencegah bertambahnya angka kematian ternak sekaligus memastikan kondisi sapi yang masih berada di lokasi kejadian.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Peternakan Kabupaten TTS, John Banunaek, mengatakan, layanan kesehatan hewan akan dilaksanakan pada awal pekan depan.

“Rencananya pada Senin, 3 Agustus 2026, kami akan melaksanakan pelayanan kesehatan hewan di lokasi,” ujarnya, Kamis (30/7/2026),

Menurut John, selain menyiapkan pemeriksaan, pihak dinas juga telah menurunkan petugas ke Desa Tunua. Petugas tersebut melakukan pendataan sekaligus memantau kondisi ternak yang masih hidup.

Dalam kesempatan itu, Pemerintah Kabupaten TTS turut mengimbau para peternak meningkatkan pengawasan terhadap ternak selama musim hujan. Imbauan ini terutama ditujukan bagi kawasan dataran tinggi yang mengalami suhu udara lebih rendah, agar kematian ternak tidak bertambah.

John menyebut, sebanyak 49 sapi milik warga dilaporkan mati pada periode 24 sampai 27 Juli 2026. Penyebabnya diduga berkaitan dengan kondisi cuaca yang dingin.

“Sapi mati karena hujan sekitar dua minggu berturut-turut sehingga ternak mengalami kedinginan,” katanya.

Dia menjelaskan, sapi yang mati tersebut tersebar di dua dusun di Desa Tunua. Dengan demikian, kematian tidak hanya terjadi pada satu titik, melainkan meliputi beberapa area pemeliharaan warga.

Berdasarkan laporan yang dihimpun petugas di lapangan, suhu udara di wilayah itu turun hingga sekitar 13 derajat Celsius. John menyatakan kedinginan menjadi pemicu kematian yang disampaikan para pemilik ternak.

“Penyebab kematian ternak sapi yang dilaporkan oleh para pemilik adalah karena kedinginan mulai tanggal 24 sampai 27 Juli 2026,” tandasnya.

Pemeriksaan dan pemantauan setelah kematian massal

Setelah laporan kematian 49 ekor sapi, Dinas Peternakan menekankan pentingnya tindak lanjut terhadap ternak yang masih bertahan. Pemeriksaan kesehatan yang dijadwalkan Senin, 3 Agustus 2026, diarahkan untuk mengevaluasi kondisi sapi hidup di lokasi.

Petugas yang lebih dulu turun ke desa disebut telah menjalankan pendataan dan pemantauan. Dengan cara tersebut, dinas dapat memetakan kondisi ternak yang berisiko serta kebutuhan penanganan yang diperlukan.

John menegaskan bahwa langkah pencegahan tidak hanya berhenti pada pendataan. Layanan kesehatan hewan di lokasi diharapkan bisa menjadi rujukan awal untuk mengurangi potensi kematian lanjutan di tengah perubahan cuaca.

Langkah pencegahan melalui vaksin

Meski penyebab kematian diduga berasal dari kedinginan, John juga menyampaikan bahwa seluruh ternak yang mati sebelumnya telah menerima vaksin Septicaemia Epizootica (SE). Vaksinasi dilakukan pada November dan Desember 2025 sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa dinas telah memiliki catatan imunisasi pada periode sebelumnya. Namun, untuk memastikan kondisi kesehatan ternak yang masih hidup, pemeriksaan tetap dijadwalkan dilakukan langsung di Desa Tunua.

Imbauan untuk meningkatkan pengawasan juga menjadi bagian dari strategi mengurangi dampak cuaca terhadap ternak. Pemerintah kabupaten menekankan bahwa suhu yang lebih rendah di dataran tinggi dapat memengaruhi kesehatan, terutama ketika musim hujan berlangsung berulang.

Dengan jadwal pelayanan kesehatan hewan pada awal pekan depan, Dinas Peternakan TTS berharap pemantauan yang sudah berjalan dapat berlanjut dengan evaluasi medis yang lebih menyeluruh. Sementara itu, pemilik ternak diimbau tetap menjaga kondisi pemeliharaan agar sapi tidak kembali mengalami penurunan kesehatan akibat kondisi lingkungan.