Peristiwa

BMKG: Gempa Tektonik M4,7 Menggetarkan Nagekeo, NTT Akibat Sesar Aktif

×

BMKG: Gempa Tektonik M4,7 Menggetarkan Nagekeo, NTT Akibat Sesar Aktif

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Gempa M4,7 Guncang Nagekeo NTT, BMKG: Dipicu Aktivitas Sesar Aktif

jurnalistik.co.id – Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 4,7 mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, pada Minggu malam. Getaran dilaporkan terasa hingga beberapa kabupaten di sekitar lokasi kejadian.

BMKG menyebut gempa terjadi pada Minggu, 2/8/2026, pukul 22.17 Wita. Hingga berita ini ditulis, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan maupun korban akibat getaran tersebut.

Detail lokasi dan kedalaman

Berdasarkan analisis BMKG, episenter gempa berada pada koordinat 8,34 derajat Lintang Selatan dan 121,36 derajat Bujur Timur. Episenter itu berada sekitar 35 kilometer di utara Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 11 kilometer.

Arief Tyastama, Kepala Stasiun Geofisika Kupang, menjelaskan bahwa gempa tersebut merupakan gempa dangkal. Ia menyampaikan, “Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif,” kata Arief dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Minggu malam.

Getaran terasa di beberapa wilayah

Menurut Arief, getaran dirasakan di Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Ngada, dan Kabupaten Ende. Intensitas yang terukur berada pada skala III MMI.

Arief merinci pengalaman warga saat gempa berlangsung. Ia mengatakan, “Pada skala III MMI, getaran dirasakan nyata di dalam rumah. Getarannya terasa seperti ada truk besar yang sedang melintas,” ujarnya.

Meski getaran terdeteksi di sejumlah wilayah, hingga waktu pemantauan yang disebutkan BMKG belum muncul laporan kerusakan maupun korban jiwa. Informasi yang beredar di masyarakat diimbau tetap menunggu pembaruan dari otoritas terkait.

Pemantauan aftershock

BMKG terus memantau aktivitas kegempaan setelah gempa utama terjadi. Hingga pukul 22.33 Wita, hasil pemantauan menunjukkan belum terjadi gempa susulan (aftershock).

Dalam keterangan yang sama, Arief menekankan pentingnya kehati-hatian informasi. Ia mengimbau, “Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu atau informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Ikuti informasi resmi yang dikeluarkan BMKG,” katanya.

Dengan status pemantauan yang masih berjalan, BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk mengikuti perkembangan resmi dari BMKG apabila ada pembaruan terkait aktivitas seismik di wilayah tersebut. Langkah ini diharapkan membantu mencegah kepanikan sekaligus memastikan respons yang tepat bila kondisi berubah.

Sejak gempa terjadi pada Minggu malam, perhatian publik tertuju pada dampak yang mungkin muncul di sekitar Nagekeo. Meski getaran dilaporkan dapat dirasakan di wilayah-wilayah terdekat, hingga informasi terakhir yang disebut BMKG, belum ada pembaruan resmi yang menyatakan kerusakan bangunan ataupun korban akibat guncangan tersebut.

Jika ditinjau dari hasil analisis BMKG, peristiwa ini dipahami sebagai gempa dangkal yang berkaitan dengan aktivitas sesar aktif. Dengan karakter tersebut, wajar bila getaran lebih mudah dirasakan oleh masyarakat di daerah sekitar lokasi episenter, termasuk beberapa kabupaten yang disebut dalam rilis, meski tingkat respons di setiap tempat bisa berbeda.

Arief juga menggambarkan bagaimana getaran itu hadir dalam keseharian warga. Pada intensitas III MMI, guncangan tidak sekadar terasa secara samar, tetapi muncul sebagai getaran nyata di dalam rumah, dengan sensasi yang mirip hantaman dari kendaraan berukuran besar yang sedang melintas.

Berdasarkan pemantauan yang dilakukan, BMKG menyampaikan bahwa hingga pukul 22.33 Wita belum tercatat adanya gempa susulan (aftershock). Kondisi ini menjadi salah satu pertimbangan dalam laporan awal, sekaligus menegaskan bahwa proses pengamatan masih berlangsung untuk memastikan apakah aktivitas seismik akan mengalami perubahan.

Dalam kesempatan yang sama, BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Warga diimbau mengikuti kanal informasi resmi yang dikeluarkan BMKG dan menunggu pembaruan bila nantinya terdapat perkembangan terkait aktivitas kegempaan di wilayah tersebut.