Olahraga

Gianni Infantino: lima hari yang mengguncang sepak bola dan bayang-bayang European Super League

×

Gianni Infantino: lima hari yang mengguncang sepak bola dan bayang-bayang European Super League

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Gianni Infantino and five days that shook football - and the echoes of European Super League

jurnalistik.co.id – Gianni Infantino tidak lagi bisa menyangkal bahwa rencananya untuk menyusun pendanaan pribadi di sekitar Piala Dunia sudah runtuh, meski respons publik datang terlalu cepat untuk menunda dampak reputasinya.

Uefa langsung menargetkan kepemimpinan Infantino, dengan menyatakan mereka “lost confidence” pada arahan yang ia jalankan. Pernyataan itu tergolong keras, lengkap dengan pilihan kata seperti “shabby” dan tuduhan “secret schemes”.

Keputusan itu muncul setelah rangkaian lima hari yang mengguncang sepak bola, yang memunculkan kembali bayangan skandal European Super League (ESL) pada 2021. Saat itu, liga pecahan dibentuk oleh 12 klub terbesar Eropa, termasuk enam dari Premier League.

ESL cepat terurai, dan mantan bek Inggris Gary Neville merangkum sentimen luas dengan menyebutnya “pure greed”. Meski rencana Infantino terhadap pendanaan swasta tidak memiliki judul yang mudah diingat dan bertahan dua hari lebih lama, jejak perbincangannya diyakini akan lebih panjang daripada sekadar hitungan waktu.

Di level tertinggi, sepak bola memang menjadi industri besar yang menggerakkan arus uang jauh melampaui kapasitas “penggemar biasa” untuk memahami detailnya. Namun, pertanyaan mendasar justru muncul: apakah ada batas yang tidak boleh dilampaui ketika tata kelola dan transparansi dipertaruhkan.

FIFA, yang bersifat not-for-profit, memiliki cadangan keuangan besar—lebih dari $2bn (£1.48bn)—serta diperkirakan mengumumkan pendapatan rekor sekitar $15bn (£11.13bn) terkait Piala Dunia musim panas ini. Dalam konteks tersebut, tawaran tambahan $40m (£29.67m) untuk inisiatif pengembangan sepak bola bagi negara yang menyetujui rencana Infantino pada 19 September membuat banyak orang bertanya mengapa investasi pribadi masih diperlukan.

Jawaban atas pertanyaan itu tidak pernah mengemuka di ruang publik. Seiring waktu, tampak bahwa di lorong-lorong kekuasaan FIFA, banyak personel senior—mulai dari wakil presiden hingga penasihat khusus dan eksekutif—tidak sempat mengajukan pertanyaan karena mereka bahkan tidak tahu rancangan rencana itu sedang disusun.

Uefa menentang rencana tersebut sejak mulai dipublikasikan, dan saat rencana itu ditarik, respons mereka menjadi sangat tegas. Dalam pernyataan, Uefa menulis: “The current Fifa leadership has not only lost Uefa’s confidence but also that of many other members of the football family,” serta mengingat janji Infantino saat meminta kepercayaan dan suara asosiasi anggota untuk pemilihan presiden pada 2016.

Uefa mengutip Infantino menyatakan: “Of course we have to be transparent.” Ia juga mengatakan kepada para pemangku kepentingan: “The money of Fifa is your money. It’s not the money of the Fifa president. You are the national associations and the money of Fifa has to serve for the development of football and not for anything else.” Lalu Uefa menegaskan, “On both these promises, he has failed to deliver.”

Kritik mengenai transparansi rupanya bukan kali pertama dibawa ke permukaan. Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa—presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan salah satu dari delapan wakil presiden FIFA—menyatakan bahwa rencana apa pun di masa depan yang berpotensi memengaruhi sepak bola global harus disampaikan kepada anggota “in a timely, transparent and meaningful manner”.

Ia menambahkan: “The future of global football must always be shaped through proper consultation, collective dialogue and respect for the established governance structures of our game.” Sementara itu, Anter Isaac, ketua Football Australia, menegaskan bahwa kepercayaan tidak lahir semata dari keputusan yang baik, melainkan dari “integrity of the processes” yang melahirkan keputusan tersebut.

Isaac juga menekankan: “Football has never stood still, nor should it,” lalu menggarisbawahi prinsip-prinsip yang tidak boleh berubah: “Integrity. Independence. Good governance. Transparency. Meaningful consultation. Due process.” Menurutnya, prinsip-prinsip itu bukan “constraints on progress”.

Dalam kasus ESL, garis batas ditarik oleh penggemar, didukung oleh Premier League, Football Association, hingga Pangeran William. Skema pada 2021 mengandaikan klub peserta tetap bermain di liga nasional masing-masing, tetapi juga saling berhadapan dalam kompetisi Eropa baru di tengah pekan, yang berpotensi menjadi saingan langsung bagi Liga Champions.

Para pengkritik menilai model itu akan memperkaya klub dalam liga tertutup, sekaligus menaikkan pendapatan komersial dan siaran. Mereka juga berpendapat asas piramida sepak bola domestik semestinya dilindungi, bukan digeser menjadi struktur yang lebih eksklusif.

Setelah 72 jam kritik, rencana ESL nyaris runtuh. Setelahnya, muncul klaim bahwa klub tidak diberi kesempatan menyusun argumen secara utuh karena rancangan garis besar bocor ke media, sehingga reaksi publik begitu keras hingga ruang bantahan hilang.

Guncangan kali ini sangat serupa, hanya saja pihak yang menarik rem berada langsung di dalam ekosistem sepak bola itu sendiri. Satu perbedaan yang paling nyata adalah bahwa FIFA sempat mengajukan kontraargumen pada dini hari Jumat, termasuk klaim bahwa “planned consultation process was disrupted by incorrect media reports”.

Namun, seperti pada ESL, arah pembicaraan sudah terlanjur terbentuk sehingga sulit untuk mengubah jalannya. Di tengah sentimen yang demikian kuat menentang rencana, pernyataan FIFA dari Kevin Lamour—sebagai chief operating officer yang dipandang kredibel—berpotensi menjadi pukulan telak.

Lamour menyebut rencana tersebut sebagai “the project of one person” dan menuduh administrasi FIFA telah “deceived”. BBC Sport menghubungi FIFA untuk mendapatkan komentar, dan Lamour mengakui adanya kewajiban loyalitas kepada perusahaan, sekaligus loyalitas pada “certain values” serta dukungan pada rekan-rekannya.

Dalam tulisannya, Lamour menyatakan: “Our mission – the mission of the hundreds of passionate, dedicated, and exemplary Fifa employees – is to serve football,” sebelum menegaskan, “If that means I lose my job, then so be it. I will understand and respect that decision. At least I’ll sleep well tonight.”

Infantino sendiri selama ini membangun hubungan yang dekat dengan Presiden AS Donald Trump, dan keduanya membantu menghadirkan Piala Dunia ke Spanyol kurang dari dua pekan lalu. Setelah rencana itu ditarik, ia kini menghadapi pekerjaan berat untuk merapikan kekacauan dan membangun jembatan, di tengah klaim bahwa dukungan untuk pencalonan ulang sebagai presiden FIFA pada Maret berangsur surut.

Menjelang pernyataan Uefa pada Sabtu, wakil presiden mereka Laura McAllister berbicara kepada BBC Radio Four melalui program Today. Ia menyebut, “All of the confederations will be considering options now,” serta menambahkan bahwa akan ada langkah untuk mendorong orang-orang agar maju, meski masih terlalu dini untuk menilai arah akhirnya.

Menurut McAllister, inti dari pekan ini adalah “to defeat this proposal with unity and consensus,” dan hal itu dinilai berhasil diwujudkan. Sepak bola kembali menunjukkan bahwa meskipun siap menerima banyak hal—tidak semuanya populer—ada garis tertentu yang tidak boleh dilewati.