Olahraga

Gianni Infantino Disorot: Lamour Sebut Staf FIFA ‘Tertipu’ oleh Rencana Piala Dunia Presiden

×

Gianni Infantino Disorot: Lamour Sebut Staf FIFA ‘Tertipu’ oleh Rencana Piala Dunia Presiden

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Gianni Infantino: Fifa executive say staff 'deceived' by president's World Cup plans

jurnalistik.co.id – Posisi Presiden FIFA, Gianni Infantino, kembali mendapat sorotan tajam pada Jumat setelah chief operating officer (COO) FIFA mengkritik rencana Infantino untuk melibatkan investor swasta melalui penjualan saham pada kompetisi.

Kritik itu disampaikan Kevin Lamour dalam sebuah pernyataan yang dirilis ke Associated Press. Lamour menilai rencana tersebut “the project of one person” dan menyatakan “the time has now come for football political leaders to ask themselves the right questions and make the right decisions”. Ia menambahkan bahwa administrasi FIFA sendiri “deceived” mengenai proyek tersebut.

Dalam pernyataannya, Lamour juga menegaskan perubahan yang ia lihat tidak sesuai dengan mandat organisasi. Ia menulis, “Our mission – the mission of the hundreds of passionate, dedicated, and exemplary Fifa employees – is to serve football.”

Lamour memaparkan bahwa seorang presiden seharusnya merangkul, menyatukan, dan menginspirasi, namun menurutnya justru arah yang berlawanan sedang terjadi. “A president must bring people together, unite them, and inspire them. Today, we are experiencing the opposite.”

Ia mengakui memiliki kewajiban loyalitas kepada pemberi kerja, tetapi juga kepada “certain values” serta rekan-rekannya. “If that means I lose my job, then so be it,” ia menambahkan, sebelum menyatakan “I will understand and respect that decision. At least I’ll sleep well tonight.”

Rencana FIFA: subsidiari komersial dan investor non-pengendali

Rencana yang menjadi pemicu penolakan adalah pembentukan entitas subsidiari komersial untuk mengelola agenda utama FIFA, termasuk Piala Dunia. FIFA menyebut akan membentuk Fifa Forward Enterprise (FFE), dan pihak eksternal diberi ruang untuk membeli porsi kepemilikan.

Dalam penjelasan rencana tersebut, FIFA menyatakan mereka “will invite third parties to make minority, non-controlling investments” di subsidiari baru tersebut. Selain itu, dokumen yang disebutkan berasal dari bank investasi JP Morgan memuat analisis hingga 25 halaman.

Dokumen itu, menurut pemberitaan, menguraikan bahwa turnamen FIFA akan diperluas untuk mengejar proyeksi peningkatan pembayaran sekitar 24 juta euro per asosiasi anggota pada siklus 2035-2039. Di dalamnya juga disebut adanya “new business initiatives” serta “attracting top talent with incentive-driven compensation”.

Piala Dunia dalam dokumen disebut sebagai ajang olahraga yang “most widely viewed”, sementara FIFA digambarkan “under-monetised”. Tidak ada pembahasan mengenai sepak bola putri dalam dokumen tersebut.

FIFA juga menyebut bahwa bila persetujuan diberikan, Thrive Eternal diperkirakan akan memimpin kelompok investor untuk FFE. Thrive digambarkan sebagai perusahaan modal ventura asal Amerika yang didirikan Joshua Kushner, yang merupakan saudara dari Jared Kushner, anak-in-law Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Pengunduran diri penasihat senior dan kritik politik

Gelombang penolakan juga semakin meluas setelah Carlos Cordeiro, penasihat senior Infantino untuk strategi global dan tata kelola, memilih mengundurkan diri. Ia menyatakan proposal tersebut “a bad deal for football” dan menggambarkannya akan “mortgage football’s future”.

Keputusan Cordeiro muncul pada hari yang sama ketika seorang penasihat Infantino mundur, serta ketika Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, menyebut Infantino sebagai “the wrong man” untuk memimpin FIFA.

Burnham menambahkan bahwa gagasan tersebut bahkan layak diajukan menunjukkan Infantino “is the wrong man to lead the organisation”. Sementara itu, Donald Trump menyatakan belum pernah membahas rencana tersebut dengan Infantino.

Menurut pemberitaan, hubungan keduanya justru terjalin dekat sejak Trump memulai masa kepresidenan untuk periode kedua pada 2025.

Lamour sendiri menyebut ia tidak punya otoritas untuk berbicara mewakili koleganya, meskipun ia menilai perasaan yang sama dirasakan banyak orang di internal. Ia menulis, “I have no authority to speak on behalf of my colleagues, and perhaps I am mistaken. But my feeling is that we all want to be proud to work for Fifa, and today, unfortunately, it seems that is no longer the case for many of us.”

Dari sisi latar belakang, Lamour bergabung dengan FIFA pada November 2024 setelah sebelumnya menjabat deputy general secretary di UEFA. Cordeiro, yang menjadi penasihat senior FIFA selama empat tahun dan 11 bulan, pernah menjadi figur yang mewakili FIFA dalam White House taskforce untuk Piala Dunia 2026 serta sebelumnya berkarier sebagai mantan investment banker di Goldman Sachs.

Cordeiro juga disebut sebagai orang senior pertama di FIFA yang mengundurkan diri terkait rencana tersebut. Dalam pernyataannya, ia menekankan penolakannya secara tegas dan menyatakan ia “unequivocally” menentang rencana tersebut serta “did not accept the proposition” bahwa FIFA perlu investor luar untuk “unlock greater value”.

Ia menulis, “The proposal has become a defining question for Fifa’s future,” dan menegaskan bahwa tanggung jawab FIFA bukan memaksimalkan imbal hasil komersial “at any cost”, melainkan melindungi dan memperkuat sepak bola untuk generasi mendatang. “When those principles come into conflict, football must come first.”

Cordeiro menyatakan ia tidak terlibat dalam proposal tersebut. Namun, ia menilai yang paling mengganggu adalah belum adanya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar: “Why this deal? Why now? What oversight exists? Who benefits?”

Ia menambahkan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut “remain largely unanswered”, sementara asosiasi anggota diminta mengambil keputusan berdampak besar dalam waktu “barely 50 days” atau berisiko tertinggal. “That is not a responsible way to determine the future of the world’s game.”

Suara AFC, UEFA, dan Concacaf: konsultasi dipersoalkan

Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) sebelumnya juga menyatakan sikap yang menentang rencana tersebut dengan menyebut mereka “stands in solidarity” bersama konfederasi lain di Eropa serta Amerika Utara, Tengah, dan Karibia.

AFC menyatakan rencana Infantino tidak dapat “realistically achieve the necessary broad consensus and unity required to move forward”. Mereka menegaskan, “The Fifa World Cup is the pinnacle of global football and derives its strength from the participation of all Confederations and the world’s leading football nations.”

Dalam bagian lain pernyataannya, AFC menyatakan bahwa proposal yang berisiko melemahkan persatuan serta karakter universal kompetisi “must be reconsidered”. AFC juga mengkritik FIFA karena menetapkan arah sebelum berkonsultasi dan meninggalkan kesan proses pengambilan keputusan yang cacat.

AFC menyebut FIFA telah menentukan “direction of travel” untuk “a significant initiative” sebelum berkonsultasi dengan para pemangku kepentingan. Mereka menilai kegagalan untuk berkonsultasi dengan asosiasi anggota telah “exposed fundamental weaknesses in Fifa’s consultation and decision-making processes that must now be addressed”.

AFC juga mengkritik langkah FIFA yang membuat “confederations, member associations and even Fifa’s own governing bodies, including the Fifa Council, feeling sidelined.” Menurut AFC, masa depan Piala Dunia dan sepak bola harus dibentuk bersama oleh institusi yang mencerminkan suara seluruh konfederasi dan asosiasi anggota.

Dalam penutup, AFC meminta FIFA melakukan peninjauan mendesak atas kerangka tata kelola dan pengambilan keputusan untuk memastikan proposal berlevel global dikembangkan lewat konsultasi yang tepat, keterlibatan bermakna, serta pengawasan yang sesuai oleh organ resmi FIFA.

Di tingkat Eropa, UEFA pada Kamis memilih untuk memboikot Piala Dunia apabila rencana FIFA tetap berjalan. Beberapa jam setelahnya, Concacaf—yang menjadi tuan rumah Piala Dunia edisi tahun ini—juga mengeluarkan pernyataan penolakan atas proposal yang diajukan Infantino.

Sementara itu, FIFA menyatakan akan terus melanjutkan rencana pada awal Jumat, namun menyertakan klaim bahwa “nobody is selling football”. FIFA mengklaim proses konsultasi “had been disrupted by incorrect media reports”, dan menegaskan hal tersebut tidak akan “come at the cost of either the spirit or the governance of Fifa or football itself”.

UEFA menuduh FIFA menggunakan sepak bola untuk memperkaya diri dan rekan-rekannya, sedangkan AFC dan Concacaf sama-sama menyampaikan kekhawatiran terkait konsultasi dalam rencana tersebut.

Dari sisi peluang persetujuan internal, pemberitaan menyebut rencana Infantino membutuhkan persetujuan melalui suara mayoritas langsung. Artinya, dari 211 anggota, setidaknya 106 harus memilih mendukung proposal.

UEFA memiliki 55 suara, Concacaf 35, dan Asia 46. Jika seluruh asosiasi anggota mengikuti sikap governing body masing-masing, maka 136 negara berada dalam barisan penolakan terhadap rencana Infantino.

Pemangku kepentingan lain juga disebut akan meninjau rencana tersebut dalam bulan-bulan berikutnya, termasuk CAF dan OFC yang berencana membahas proposal FIFA pada bulan Agustus.

Dalam iklim penolakan yang menguat, polemik seputar FFE, konsultasi, dan arah tata kelola FIFA diprediksi akan terus menjadi topik utama menjelang keputusan yang dianggap berdampak besar bagi masa depan kompetisi global tersebut.