Olahraga

UEFA Tarik Keyakinan dari Kepemimpinan Gianni Infantino di FIFA

×

UEFA Tarik Keyakinan dari Kepemimpinan Gianni Infantino di FIFA

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Fifa World Cup plans: Uefa has 'lost confidence' in current leadership

jurnalistik.co.id – UEFA menyatakan telah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan FIFA saat ini yang dipimpin Gianni Infantino. Pernyataan itu muncul ketika dampak dari rencana investasi yang pada akhirnya dibatalkan di FIFA makin melebar.

Dalam perkembangan terbaru, Infantino mengatakan FIFA tidak akan melanjutkan proposal untuk menjual kepemilikan saham pada kompetisi yang berada di bawah otoritas FIFA kepada investor swasta. Keputusan untuk menghentikan rencana tersebut disampaikan setelah sebelumnya muncul penolakan luas dari berbagai pihak.

UEFA, yang menaungi sepak bola Eropa, sebelumnya telah mengambil sikap keras dengan melakukan voting untuk memboikot Piala Dunia apabila rencana itu tetap dijalankan. Langkah itu mempertegas posisi UEFA bahwa perubahan pada cara pengelolaan kompetisi tidak sejalan dengan pandangan organisasi tersebut.

Menurut BBC Sport, penentangan juga datang dari badan-badan pengelola lain di luar UEFA. Situasi ini kemudian menjadi bagian dari “jatuhnya” rencana investasi yang sudah dibatalkan, dan menjadi alasan mengapa UEFA kembali menguatkan kritiknya terhadap FIFA.

Dalam sebuah pernyataan panjang, UEFA menilai Infantino tidak memenuhi janjinya pada saat terpilih. UEFA menyebut Infantino “failed to deliver” atas janji yang ia buat ketika resmi memegang jabatan pada 2016.

Infantino sendiri diketahui telah menjadi presiden FIFA sejak Februari 2016. Dengan latar itu, pernyataan UEFA menempatkan ketidakpuasan bukan pada isu yang baru muncul, melainkan pada evaluasi terhadap komitmen yang pernah disampaikan saat proses pemilihan.

UEFA juga menuliskan penilaian yang lebih luas mengenai dampak kepemimpinan FIFA terhadap ekosistem sepak bola. Organisasi itu menyatakan: “The current Fifa leadership has not only lost Uefa’s confidence but also that of many other members of the football family,”.

Kalimat tersebut menunjukkan bahwa UEFA tidak hanya mengukur hubungan institusionalnya dengan FIFA dari sudut pandang internal. UEFA menempatkan masalah kepercayaan sebagai sesuatu yang turut dirasakan banyak pihak lain di keluarga sepak bola.

Bagi UEFA, rencana penjualan saham kompetisi kepada investor swasta menjadi pemicu utama eskalasi konflik. Setelah rencana itu dibatalkan, Infantino mengumumkan penghentian langkah dari proposal tersebut, sementara UEFA menilai keputusan dan keseluruhan arah kepemimpinan FIFA tetap bermasalah.

Di tengah perubahan sikap FIFA, UEFA tetap menegaskan posisinya melalui penilaian terhadap kinerja kepemimpinan. Dengan mempertimbangkan bahwa UEFA sebelumnya sudah bersiap mengambil langkah ekstrem berupa pemboikotan Piala Dunia, pernyataan kehilangan kepercayaan ini juga dapat dibaca sebagai kelanjutan dari konsistensi penolakan sejak awal kontroversi.

Sementara itu, penyataan BBC Sport juga menegaskan bahwa Infantino berada di posisi teratas FIFA sejak Februari 2016. UEFA kini menempatkan isu “failed to deliver” dan hilangnya kepercayaan sebagai inti responsnya, di saat FIFA memilih untuk menghentikan rencana penjualan saham kompetisi kepada investor swasta.

Dengan sikap yang disampaikan, hubungan UEFA dan FIFA kembali menjadi sorotan karena kehilangan kepercayaan yang meluas. Pernyataan resmi UEFA menegaskan bahwa situasi yang dihadapi kepemimpinan FIFA dipandang telah melampaui satu organisasi, melibatkan persepsi negatif dari banyak anggota lain di “football family”.

Di saat proposal investasi di FIFA akhirnya ditarik, respons UEFA tidak mereda. Organisasi itu menempatkan penghentian rencana penjualan saham sebagai respons sesaat, tetapi tetap menganggap arah kebijakan di bawah kepemimpinan saat ini tidak sejalan dengan komitmen yang pernah disampaikan ketika proses pergantian kepemimpinan berlangsung.

UEFA juga menghubungkan kritiknya dengan penilaian menyeluruh terhadap kepemimpinan FIFA yang dinilai berdampak pada banyak pihak di ekosistem sepak bola. Pernyataan yang menyinggung hilangnya kepercayaan tidak hanya berhenti pada hubungan institusi UEFA dan FIFA, melainkan digambarkan sebagai masalah yang dirasakan pula oleh anggota lain dalam “football family”.

Dengan latar itulah, penolakan yang sebelumnya menguat melalui voting untuk menempatkan langkah ekstrem seperti boikot Piala Dunia dipahami sebagai bagian dari konsistensi sikap. Setelah rencana yang memicu penolakan dihentikan, UEFA memilih tetap memusatkan sorotan pada evaluasi kinerja kepemimpinan, termasuk klaim bahwa janji pada 2016 dinilai tidak terpenuhi.