jurnalistik.co.id – Presiden FIFA, Gianni Infantino, menghentikan rencana investasi swasta pada kompetisi-kompetisi induknya, termasuk Piala Dunia Pria dan Wanita, setelah penolakan yang meluas dari berbagai pihak. Dalam pernyataan pada Sabtu (1/8) sekitar pukul 00:30 BST, Infantino menegaskan proposal itu “will not proceed”.
Keputusan ini sekaligus mengakhiri langkah yang selama beberapa hari terakhir memicu perdebatan terbuka di tubuh sepak bola global. Infantino menyebut proyek tersebut menciptakan “created divisions” dan “no longer in the interest” dari tujuan awal yang ingin dicapai FIFA.
Dalam pernyataan yang sama, ia menegaskan: “As a result, this proposal will not proceed.” Ia juga menyatakan niatnya untuk mengembalikan semua pihak yang berkepentingan kembali bersatu “in the coming days and weeks in the spirit of shared interest in our game”.
Rencana yang dibatalkan Infantino sebelumnya ditawarkan sebagai jalan untuk mendatangkan modal eksternal guna menjalankan agenda komersial FIFA. Untuk meyakinkan federasi anggota, ia mengusulkan insentif sebesar $40 juta (£30 juta) bagi 211 asosiasi anggota jika mereka menerima skema investasi privat tersebut, termasuk akses ke dana awal $20 juta (£15 juta) yang ditentukan batas akhirnya pada 19 September.
Gagasan inti proposal adalah pembentukan anak usaha komersial yang akan mengelola even-even utama FIFA. FIFA menyebut akan “invite third parties to make minority, non-controlling investments” di entitas baru bernama Fifa Forward Enterprise (FFE).
Dokumen setebal 25 halaman yang disusun dengan dukungan bank investasi JP Morgan menggambarkan rencana ekspansi agar nilai pembayaran yang diterima tiap asosiasi anggota meningkat sekitar 24 juta euro (£20,5 juta) pada siklus 2035–2039. Di dalamnya juga disebut ada “new business initiatives” dan rencana “attracting top talent with incentive-driven compensation”.
Dalam dokumen tersebut, World Cup digambarkan sebagai ajang olahraga yang “most widely viewed”, tetapi FIFA disebut berada pada posisi “under-monetised”. Sementara itu, tidak ada pembahasan mengenai permainan sepak bola putri dalam materi yang menjadi dasar proposal.
Reaksi berlapis: dari konfederasi hingga pemimpin politik
Penolakan terhadap proposal berlangsung cepat dan datang dari sejumlah organisasi sepak bola tingkat konfederasi. UEFA—yang menjadi pengendali sepak bola di Eropa—menyatakan responsnya dengan memilih untuk memboikot Piala Dunia jika rencana itu tetap diteruskan. Organisasi lain juga menyampaikan keberatan mereka, membuat skema dukungan dari federasi anggota menjadi sulit diproyeksikan.
Dalam kerangka pemerintahan suara FIFA, agar proposal dapat lolos diperlukan dukungan mayoritas dari asosiasi anggota. Dengan total 211 anggota, Infantino membutuhkan persetujuan minimal 106 federasi. Perkiraan ini menjadi semakin tidak realistis ketika tiga konfederasi besar ikut menolak, termasuk FIFA versi Asia.
Uefa memiliki 55 suara, Concacaf memiliki 35 suara, dan Asia memiliki 46 suara. Jika seluruh asosiasi anggota mengikuti sikap konfederasi masing-masing untuk menolak proposal, maka tercatat skenario “136 nations voting against Infantino’s plan”.
Concacaf, yang mengelola sepak bola di Amerika Utara, Tengah, dan Karibia serta menjadi tuan rumah Piala Dunia musim panas ini, menyatakan proposal tersebut ditolak oleh anggotanya. Sumber-sumber menyebut mayoritas asosiasi di wilayah itu mulai kehilangan kepercayaan pada Infantino atau sedang mengalami penurunan keyakinan atas kepemimpinannya.
AFC menyatakan sikapnya melalui pernyataan “stands in solidarity” dengan UEFA dan Concacaf. Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Andy Burnham ikut menilai Infantino sebagai “the wrong man” untuk memimpin FIFA.
Berita Terkait
Menjelang keputusan final, beberapa tokoh kunci di lingkar FIFA juga muncul sebagai penentang. Pada Jumat (31/7), CEO/operasi FIFA Kevin Lamour mengatakan administrasi internal FIFA “had been ‘deceived’ about the project”. Ia juga menilai, “the project of one person”.
Lamour menambahkan bahwa “a president must bring people together, unite them, and inspire them” tetapi, menurutnya, hal itu justru berbalik arah: “the opposite”. Ia menyatakan, “If that means I lose my job, then so be it,” lalu menutup dengan, “I will understand and respect that decision. At least I’ll sleep well tonight.”
Resign adviser dan peta masalah tata kelola
Langkah yang berujung pembatalan proposal juga ditandai mundurnya Carlos Cordeiro, penasihat senior Infantino untuk strategi global dan tata kelola. Cordeiro menyatakan pengunduran dirinya terkait proposal itu, dengan menyebut rencana tersebut “a bad deal for football” dan akan “mortgage football’s future”. Ia menegaskan posisinya: “unequivocally” menolak proposal, “did not accept the proposition” bahwa FIFA perlu investor dari luar untuk “unlock greater value”, serta menyatakan ia tidak memiliki keterlibatan dalam rencana tersebut.
Di sisi AFC, penolakan diposisikan bukan sekadar pada satu usulan, melainkan pada proses pengambilan keputusan. AFC menyebut bahwa isu ini “extends far beyond a single proposal” dan “has exposed fundamental weaknesses in Fifa’s consultation and decision-making processes that must now be addressed”.
Infantino sendiri menghadapi situasi yang makin menekan karena ia masih akan mengikuti pemilihan ulang untuk masa jabatan keempat sebagai presiden FIFA. Proses pemilihan tersebut akan diputuskan pada Kongres FIFA pada Maret mendatang, dan kandidat dapat mendaftarkan nama hingga 18 November. Sebelum pekan ini, banyak pihak memperkirakan Infantino dapat terpilih kembali tanpa lawan.
Kendati demikian, tidak ada jaminan dukungan akan bertahan setelah rangkaian penolakan beberapa hari terakhir. Infantino dalam pernyataannya kembali menekankan rancangan ini bertujuan memperkuat federasi anggota, “especially in countries where support is most needed”. Namun, keberatan yang muncul menunjukkan proposal tersebut jelas “created divisions” di tubuh FIFA.
Presiden AFC, Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa, menyambut pencabutan rencana ini. Ia menegaskan bahwa “The future of global football must always be shaped through proper consultation, collective dialogue and respect for the established governance structures of our game”.
FIFA sempat menyatakan bahwa rencana tersebut akan tetap berjalan meskipun ditolak, dengan klaim “nobody is selling football”. Setelah penolakan dari sejumlah organisasi meningkat, Infantino memilih menghentikan proposal pada Sabtu dini hari, sehingga proses yang semula dirancang dengan tenggat penerimaan federasi pada 19 September berakhir sebelum masuk tahap implementasi.
Selain itu, proposal juga menyebut Thrive Eternal sebagai pihak yang diproyeksikan memimpin kelompok investor untuk FFE. Thrive merupakan perusahaan modal ventura asal Amerika yang didirikan Joshua Kushner—saudara dari Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Trump sendiri, ketika pertama kali menanggapi rencana tersebut pada Jumat, menyatakan ia “had not spoken to Infantino about the plans”. Kedekatan keduanya dilaporkan berkembang sejak Trump memulai masa jabatan kedua pada 2025.
Ke depan, pembatalan proposal membuka babak baru yang terutama dipusatkan pada kebutuhan rekonsiliasi dan pemulihan kepercayaan di antara federasi anggota. Dalam pernyataannya, Infantino mengisyaratkan bahwa ia ingin menyatukan kembali pihak-pihak yang bertikai, sementara konfederasi sepak bola menekankan perbaikan pada cara konsultasi dan pengambilan keputusan di FIFA.
Dengan keputusan ini, rencana “commercial subsidiary” dan pembukaan peluang investasi privat di FFE secara resmi dihentikan. Namun, dampak politik dan tata kelola yang muncul sepanjang pekan terakhir kemungkinan akan terus memengaruhi dinamika kepemimpinan FIFA hingga kongres berikutnya.












