Bisnis & Ekonomi

Harga Pertamax Turun, Kebijakan Energi Dinilai Lebih Fleksibel

×

Harga Pertamax Turun, Kebijakan Energi Dinilai Lebih Fleksibel

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Harga Pertamax Turun, Kebijakan Energi Dinilai Makin Adaptif

jurnalistik.co.id – Mulai 1 Agustus 2026, harga BBM nonsubsidi Pertamina mengalami penurunan, mengikuti pergerakan harga minyak dunia sekaligus menjaga daya beli masyarakat di tengah dinamika pasar energi.

Penyesuaian tersebut berlaku untuk Pertamax (RON 92), Pertamax Green 95, dan Pertamax Turbo. Sementara itu, Dexlite dan Pertamina Dex tidak mengalami perubahan harga pada periode yang sama.

Untuk Pertamax, harga turun menjadi Rp 15.950 per liter dari sebelumnya Rp 16.250 per liter. Adapun Pertamax Green 95 turun dari Rp 17.000 menjadi Rp 16.600 per liter, sedangkan Pertamax Turbo turun dari Rp 19.300 menjadi Rp 18.300 per liter.

Di sisi lain, harga Dexlite tetap berada di Rp 19.700 per liter, dan Pertamina Dex bertahan di Rp 21.150 per liter.

Penurunan harga dinilai mencerminkan kebijakan yang adaptif

Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Yulisman, menilai penurunan harga BBM nonsubsidi menunjukkan adanya kebijakan energi yang adaptif. Menurutnya, mekanisme penyesuaian harga tersebut dirancang untuk menjaga keseimbangan antara ketahanan energi nasional, kepastian investasi, serta perlindungan terhadap daya beli masyarakat.

“Kami mengapresiasi komitmen Presiden Prabowo dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang terus menjaga keseimbangan antara ketahanan energi, kepastian investasi, dan perlindungan terhadap masyarakat,” ujar Yulisman dalam keterangan tertulis, Selasa (4/8/2026).

Yulisman menambahkan bahwa penurunan harga mencerminkan respons pemerintah ketika harga minyak dunia bergerak turun. “Penurunan harga BBM nonsubsidi menunjukkan bahwa ketika harga minyak dunia menurun, pemerintah memastikan manfaatnya juga dapat dirasakan masyarakat,” lanjut dia.

Ia juga melihat perubahan harga Pertamax, Pertamax Green 95, dan Pertamax Turbo sebagai sinyal bahwa pemerintah menjalankan penyesuaian harga secara transparan dan konsisten sesuai ketentuan yang berlaku.

ESDM: harga BBM nonsubsidi mengikuti ICP

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa harga BBM nonsubsidi memang bergerak mengikuti pergerakan harga minyak dunia. Ia menegaskan bahwa mekanismenya bersumber pada harga pasar global, terutama ICP.

“Ya kan saya dari awal katakan bahwa menyangkut dengan BBM yang non-subsidi itu harganya itu kan memang akan mengikuti harga pasar dunia ICP,” ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (3/8/2026).

“Jadi kalau harga dunianya turun, dengan sendirinya akan terkoreksi. Tapi kalau naik, pasti juga akan naik,” kata dia.

Bahlil menyampaikan bahwa saat ini harga minyak dunia sedang turun sehingga harga BBM nonsubsidi ikut mengalami penyesuaian. “Dan sekarang kan lagi turun. Dan kemudian badan usaha swasta melakukan koreksi terhadap penurunan harga itu. Nah sekarang kan lagi turun kan,” ucapnya.

Ia juga menegaskan bahwa harga BBM nonsubsidi masih dapat berubah mengikuti perkembangan harga energi global.

Bahlil menambahkan bahwa BBM bersubsidi seperti Pertalite dipastikan tidak mengalami kenaikan. “Karena total pemakaian BBM 80 persen itu subsidi, yang non-subsidi itu 20 persen. Itu kan bagi yang mampu, bagi saudara-saudara kita yang mampu gitu. Tapi kalau yang 80 persen itu tetap menjadi bagian yang ditanggung jawab oleh pemerintah yaitu subsidi,” ujar Bahlil.

Dampak untuk dunia usaha dan logistik

Sejalan dengan penjelasan tersebut, Yulisman menilai penurunan BBM nonsubsidi berpotensi meningkatkan efisiensi biaya transportasi, logistik, dan distribusi barang. Dampak tersebut, menurutnya, dapat memperkuat daya saing dunia usaha.

Kondisi ini juga diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Penilaian Yulisman didasarkan pada pertimbangan bahwa perubahan biaya operasional yang lebih efisien dapat menjadi faktor pendukung ketika perekonomian menghadapi tantangan dari ekonomi global.

Evaluasi berkala sesuai mekanisme yang berlaku

Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menyatakan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi merupakan bagian dari evaluasi berkala yang dilakukan sesuai mekanisme yang berlaku.

Dengan demikian, penurunan harga Pertamax, Pertamax Green 95, dan Pertamax Turbo pada awal Agustus 2026 diposisikan sebagai bagian dari respons sistematis terhadap kondisi harga minyak dunia, sekaligus memastikan bahwa manfaat penyesuaian dapat dirasakan oleh pengguna BBM nonsubsidi sesuai rentang harga yang ditetapkan.