jurnalistik.co.id – Koran-koran edisi Jumat menyorot dua tema yang langsung mendominasi pemberitaan Inggris: keputusan Raja Charles III dan Ratu Camilla untuk tidak tinggal di Buckingham Palace, serta gelombang panas yang membuat negara itu “berkeringat” akibat suhu yang memecahkan rekor.
Beberapa surat kabar membuka edisinya dengan kabar bahwa Charles memilih bertahan di Clarence House, alih-alih menetap di Buckingham Palace setelah keputusan itu diambil menyusul proses renovasi. Daily Star merangkum sikap tersebut dengan permainan kata “The buck stops here!” dan menambahkan frasa “no monarch to live at Palace”.
Daily Telegraph menulis dengan nada yang lebih tegas: “King will never live at the Palace.” Dalam penjelasannya, kertas itu menyebut pilihan ini sebagai “the first change to the monarch’s residence in nearly 200 years”. Surat kabar yang sama juga menyinggung angka pajak dalam laporan rekening kerajaan.
Daily Telegraph melaporkan bahwa “Royal accounts show sovereign paid £30m in tax since ascending to throne” pada tahun 2022, serta menyebut bahwa raja bergabung dengan Pangeran Wales yang sebelumnya mengungkap tagihan pajaknya sebesar “£7.76m in the last financial year”. Dengan begitu, sorotan tidak hanya datang dari tempat tinggal, tetapi juga dari rincian kewajiban fiskal di lingkungan kerajaan.
Daily Mirror menyoroti aspek lain dari kekayaan keluarga kerajaan. Koran itu menulis bahwa “billionaire [Prince] William is richer than his dad” karena warisan kepemilikan tanah, sekaligus mengutip mantan anggota parlemen Liberal Democrat dan pengkritik kerajaan Norman Baker yang menilai keluarga kerajaan “hugely expensive”.
Daily Express memakai pendekatan yang bersifat kritik terhadap arah kebijakan properti kerajaan. Koran tersebut mengatakan Charles “shuns” Buckingham Palace meski ada renovasi senilai £369m, lalu merumuskan judulnya sebagai “A palace not fit for a King”. Sementara itu, The Sun menurunkan gaya yang lebih ringan dengan judul “King and Queen to quit palace” dan menambahkan quip: “Buck stops here”.
Times menampilkan sorotan yang berhubungan dengan pembiayaan institusi. Surat kabar ini menyatakan “The monarchy’s core funding will double within three years, rising to £100 million a year,” lalu menjelaskan bahwa berdasarkan penyesuaian yang disepakati sebelum parlemen, istana akan menerima 20.5 per cent dari keuntungan Crown Estate—naik dari 12 per cent.
Di bagian lain, koran-koran juga menggabungkan kabar cuaca ekstrem dan isu global. Misalnya, beberapa headline menyinggung gempa bumi di Venezuela, dengan Guardian memuat laporan khusus berjudul “Degrading” serta menyebut kerusakan akibat gempa. Koran itu menulis “Rescue teams were racing to Venezuela’s shattered northern coast yesterday after almost simultaneous earthquakes reduced dozens of buildings to rubble.” Sementara itu, Times mengangkat sisi lain dari berita gempa dengan kalimat bahwa “hundreds [were] feared dead after double earthquake in Venezuela,” menyebut gempa dengan magnitudo 7.2 dan 7.5 terjadi hampir bersamaan dalam tempo 39 detik.
Gelombang panas menjadi pengikat utama edisi lain. Metro, melalui rencana “Heat Ready London” milik Wali Kota London Sadiq Khan, menyampaikan gagasan agar ibu kota “become hot-weather ready – like the desert-locked US city Phoenix.” Koran itu menggunakan judul “prickly heat” untuk menggugah ingatan soal kaktus Arizona, sembari menulis bahwa ketika suhu naik hingga 36.7C di London, rasanya “it felt even hotter for Londoners baking on buses, sweltering on Tubes or sheltering at home”.
i Paper menyoroti ramalan suhu dan dampak layanan darurat. Koran itu menyatakan “Heatwave UK: 50-year record broken again” dan melaporkan perkiraan Met Office mencapai 37C pada Jumat. Disebutkan pula bahwa layanan ambulans mengalami “busiest day ever” karena peningkatan insiden kritis, sementara “more than 1,2000 schools shut” menyusul gelombang panas. Adapun “Extreme weather warning extended to third day for the first time and hosepipe ban imposed in Kent” turut dimuat sebagai bagian dari rangkaian respons.
Sementara itu, Financial Times menempatkan sorotan pada dinamika politik dan ekonomi. Koran tersebut memimpin dengan gagasan dari salah satu “key economic advisers” Andy Burnham, Andy Haldane, yang menilai Burnham bisa “boost growth” jika menjadi perdana menteri. Dalam pandangan itu, pemerintah yang dipimpin Burnham sebaiknya melihat pemangkasan “thicket of regulation” dan menyederhanakan “stupendously complex” tax code. Financial Times juga menyebut bahwa Burnham diperkirakan menggantikan Sir Keir Starmer, tetapi masih menghadapi kemungkinan tantangan kepemimpinan meski ia menjadi satu-satunya kandidat sejauh ini.
Penutup dari rangkaian sorotan datang dari Daily Mail yang mengangkat program Kementerian Kehakiman. Koran itu menyebut “release programme” yang dirancang untuk “free up prison space,” dengan konsekuensi bahwa program tersebut “could mean hundreds of serious criminals being freed in large batches – potentially even on the same day – heightening police fears of a surge of offenders on the streets”.
Dengan demikian, edisi Jumat memperlihatkan bagaimana keputusan istana, perhitungan anggaran dan pajak, cuaca ekstrem, hingga arah kebijakan politik saling berkelindan menjadi bahan utama layar depan sejumlah surat kabar—semuanya dibungkus dalam pilihan kata yang menonjol, dari sindiran hingga peringatan dampak nyata di lapangan.












