jurnalistik.co.id – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Wihaji, menegaskan bahwa peran ayah dalam keluarga tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan materi. Dalam pandangannya, tumbuh kembang anak juga sangat dipengaruhi oleh waktu, perhatian, serta kehadiran emosional ayah dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan Wihaji dalam kegiatan Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR) di MAN 1 Yogyakarta pada 25 Juni 2026. Pernyataan itu juga tertuang dalam siaran pers yang diterima Kompas.com pada Jumat (26/6/2026).
Wihaji menyoroti adanya kecenderungan berkurangnya keterlibatan ayah dalam kehidupan anak. Fenomena ini dikenal sebagai fatherless. Menurutnya, kondisi itu dapat membuat hubungan ayah dan anak tidak lagi terhubung secara emosional, padahal kebutuhan anak jauh lebih luas daripada sekadar dukungan finansial.
Rindu yang tidak bisa diganti uang
Wihaji menyampaikan bahwa banyak anak membutuhkan lebih dari sekadar dukungan materi dari orangtua, terutama ayah. Ia menyebut bahwa anak membutuhkan sentuhan psikologis dari ayah, termasuk ruang untuk berbicara, berbagi cerita, dan memperoleh dukungan emosional.
Dalam kesempatan itu, Wihaji menegaskan pandangannya secara langsung melalui pernyataan, “Anak-anak kita sebenarnya rindu, bukan hanya butuh uang, tetapi sentuhan psikologis,” ujar Wihaji.
Menurut Wihaji, hubungan emosional yang terbangun antara ayah dan anak menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung kesehatan mental serta perkembangan karakter anak. Dengan kata lain, kedekatan yang hadir lewat interaksi tidak hanya berpengaruh pada suasana hati anak, tetapi juga membentuk cara pandang dan sikapnya dalam menjalani kehidupan.
Luangkan waktu, meski dengan langkah sederhana
Karena itu, Wihaji mengimbau para ayah untuk meluangkan waktu secara khusus guna mendengarkan dan berinteraksi dengan anak di tengah kesibukan sehari-hari. Ia menilai kehadiran ayah tidak harus diwujudkan melalui aktivitas yang rumit atau memerlukan waktu panjang.
Wihaji mendorong para ayah memanfaatkan momen-momen sederhana agar komunikasi dengan anak tetap terjaga. Pesan ini sekaligus menekankan bahwa kualitas hubungan bisa dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, bukan hanya dari kejadian besar yang jarang terjadi.
Wihaji juga menyampaikan ajakan yang spesifik terkait waktu. “Bapak-bapak, sempatkan waktu minimal satu jam untuk mendengarkan anak,” kata dia.
Ia menjelaskan, kebiasaan mendengarkan cerita anak dapat membantu orangtua memahami persoalan yang sedang mereka hadapi. Saat anak merasa didengar, hubungan dalam keluarga pun cenderung menjadi lebih kuat karena komunikasi berjalan dua arah, bukan sekadar instruksi dari orang dewasa.
Kurangi jarak, pererat kebersamaan
Dalam penilaiannya, perhatian ayah tidak hanya soal kapan berbicara atau apa yang diberikan, tetapi juga mengenai cara keluarga menjaga kebersamaan. Wihaji mengingatkan agar keluarga tidak kehilangan momen kebersamaan karena terlalu sibuk dengan telepon genggam masing-masing.
Ia menyarankan agar aktivitas sederhana seperti makan bersama dapat menjadi ruang untuk ngobrol dan membangun kedekatan. Pernyataan Wihaji menegaskan bahwa kebiasaan tersebut tetap penting meski kondisi keluarga tidak selalu sempurna.
Wihaji menyampaikan, “Sejelek-jeleknya kondisi, usahakan makan bareng, ngobrol, jangan main handphone sendiri-sendiri,” ujarnya.
Menurut Wihaji, ketika keluarga bisa hadir satu sama lain dalam momen keseharian, anak memperoleh sinyal bahwa hubungan emosional mereka dijaga. Interaksi seperti makan bersama dan percakapan langsung memberi kesempatan anak untuk menuturkan pikiran dan perasaannya, sekaligus memungkinkan ayah memahami kebutuhan yang tidak selalu terlihat dari luar.
Pesan utama yang ingin disampaikan Wihaji adalah bahwa ayah tetap punya peran sentral dalam kehidupan anak, bukan hanya sebagai penyedia kebutuhan, melainkan sebagai figur yang hadir secara emosional. Kehadiran ayah melalui waktu, perhatian, dan komunikasi yang benar dapat memperkuat kesehatan mental anak dan membantu perkembangan karakter.
Melalui kegiatan GEMAR di MAN 1 Yogyakarta, Wihaji berharap para ayah semakin menyadari bahwa jarak emosional yang terbentuk akibat fatherless dapat berdampak pada cara anak merasakan dukungan. Ajakan untuk mendengarkan minimal satu jam, membangun komunikasi lewat momen sederhana, serta menjaga kebersamaan tanpa terganggu gawai, menjadi jalan yang dapat ditempuh dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan langkah yang terukur dan realistis, Wihaji menekankan bahwa hubungan ayah dan anak dapat kembali menjadi tempat anak bertumbuh dengan rasa aman. Pada akhirnya, kehadiran emosional ayah menjadi bagian penting dari proses tumbuh kembang yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh uang.












