jurnalistik.co.id – Jackson Bylett dan istrinya tinggal di sebuah flat lantai delapan di Newham, London timur, bersama bayi mereka yang baru berusia lima bulan. Mereka mengatakan hidup di rumah yang terlalu panas membuat ketakutan itu terus hadir—terutama karena kondisi tidur bayi.
Bylett menyebut flat mereka terasa “unbearably hot” pada musim panas yang sedang berjalan. Pada satu hari, suhu di dalam rumahnya telah menembus 31C, dan ia mencatat suhu kamar bayi mencapai 31,2C pada Selasa.
Menurut rujukan medis NHS yang disebut Bylett, bayi seharusnya tidur pada suhu sekitar 16–20C. Dalam kondisi seperti yang mereka alami, Bylett mengatakan ia dan keluarganya merasa tidak punya kendali untuk memastikan lingkungan tidur bayi tetap aman.
Ia menyatakan kekhawatiran itu berdampak langsung pada keputusan keluarga. Bylett mengatakan, “I don’t think we’d make a decision to have another child whilst we’re still living in London in this flat.” Ia menambahkan, “It’s no way to raise a child when you’re in constant fear at the consequences of them sleeping in an unsafe environment.”
Bylett juga menceritakan bahwa percakapan mereka tentang memiliki anak dilakukan dalam konteks yang sebelumnya mereka anggap biasa. Ia mengungkapkan, “naively we didn’t have much of a conversation about how climate change would impact that and how hotter summers are going to impact how we parent”.
Dalam keseharian, pasangan ini menghadapi keterbatasan dari status mereka sebagai leaseholders. Meski flat mereka didesain dengan jendela setinggi lantai, mereka tidak memiliki izin untuk melakukan perubahan eksternal pada bangunan.
Keterbatasan di dalam rumah yang menahan panas
Bylett menilai tantangan terbesar muncul ketika panas terus meningkat tanpa banyak opsi untuk menurunkannya. Ia menggambarkan bagaimana informasi yang ia baca membuat kekhawatirannya semakin kuat, terutama soal kemampuan bayi dalam mengatur suhu tubuh.
Ia mengatakan, “It’s really difficult knowing this year may be the coolest summer our daughter may ever experience,”. Lalu ia menambahkan, “All the information online is telling you how dangerous it is for babies to overheat and how they can’t control their own body temperature… and we’re sat in our flat as the heat rises and there is nothing we can do about it.”
Untuk beradaptasi, Bylett dan istrinya membuat perubahan cara hidup yang tujuannya mengurangi panas dari aktivitas rumah tangga. Mereka memasak semua makanan lebih dulu saat kondisi masih memungkinkan, agar selama masa gelombang panas mereka dapat menghindari penggunaan peralatan yang menghasilkan panas.
Mereka juga mengupayakan agar tidak menyalakan mesin cuci. Menurut cerita mereka, keputusan-keputusan kecil seperti itu diambil karena setiap sumber panas tambahan dapat memperburuk kondisi di dalam flat.
Lebih dari puluhan ribu bayi tinggal di rumah terlalu panas
Menurut National Housing Federation (NHF), kondisi yang dialami keluarga Bylett tidak terjadi sendirian. Organisasi ini memperingatkan bahwa perlu langkah yang lebih serius untuk beradaptasi dengan panas ekstrem, sekaligus melindungi bayi dan anak kecil agar tidak menghadapi risiko yang meningkat.
Analisis NHF bersama Chartered Institute of Housing (CIH) berdasarkan data pemerintah menyebut lebih dari 70.000 bayi di Inggris—sekitar satu dari enam—hidup di rumah yang menjadi terlalu panas hingga mengganggu kenyamanan. Analisis itu juga menyebut 1,59 juta anak secara keseluruhan.
Alistair Smythe, direktur kebijakan dan riset NHF, mengatakan panas ekstrem “is having a serious impact on family life”. Ia menekankan bahwa anak di bawah lima tahun memiliki risiko kesehatan yang lebih besar, terutama bayi, karena mereka lebih sulit mengatur suhu tubuh dan mengelola dehidrasi.
Dalam konteks ini, NHF dan CIH juga mengingatkan bahwa overheating dapat meningkatkan risiko sudden infant death syndrome. Karena itu, orang tua disarankan menjaga agar ruangan berada pada rentang 16 hingga 20C.
Data lain yang juga disebutkan berasal dari jajak pendapat terpisah terhadap 1.592 orang tua yang dipesan oleh NHF. Hasilnya menunjukkan tujuh dari sepuluh responden mengatakan rumah yang kepanasan mengganggu tidur anak mereka. Hampir setengah responden, tepatnya 49%, menyatakan kondisi tersebut memengaruhi kemampuan anak untuk berkonsentrasi.
Smythe juga menjelaskan arah perubahan kebutuhan rumah. Ia menyatakan, “The challenge used to be keeping heat in,” kemudian menegaskan, “Now it’s about keeping heat out.”
Langkah jangka pendek dan pendekatan jangka panjang
Untuk jangka pendek, Smythe merekomendasikan langkah-langkah seperti menutup gorden dan tirai pada siang hari, menjaga asupan cairan, serta menggunakan reflective window film untuk menurunkan kadar panas di dalam rumah. Langkah-langkah ini diposisikan sebagai upaya mengurangi masuknya panas.
Untuk jangka panjang, ia mengatakan Inggris memerlukan pendekatan yang lebih strategis. Di antaranya adalah pengumpulan data yang lebih baik, retrofitting yang ditargetkan untuk rumah yang sudah ada, serta mengambil pelajaran dari negara yang lebih sering mengalami cuaca lebih panas, termasuk penggunaan external shutters dan pengecatan eksterior yang memantulkan panas.
“Ultimately, we’re looking for government funding to help deliver those measures,” kata Smythe.
Gavin Smart, chief executive CIH, menilai rencana Warm Homes Plan sebagai langkah awal yang perlu. Ia mengatakan, “The ambition shown in the government’s Warm Homes Plan is a necessary first step in the right direction,”. Ia kemudian menambahkan bahwa perlu dipikirkan apakah target 1,5 juta rumah yang hendak dibangun pada periode parlemen ini akan mampu menghadapi suhu yang semakin panas di masa depan.
Smart juga menyatakan CIH percaya perlu penguatan peraturan bangunan terkait overheating, serta mempertimbangkan kebijakan yang mendukung masyarakat menghadapi biaya energi untuk menjaga rumah tetap sejuk selama gelombang panas berikutnya. Ia menyebut hal ini dalam, “CIH believes that we need to strengthen building regulations around overheating and start to consider policies that will support people with the energy costs of keeping cool during future heatwaves.”
Pemerintah: panduan keamanan dan desain bangunan baru
Seorang juru bicara pemerintah menyatakan bahwa bayi dan anak muda lebih rentan terhadap efek panas, dan bahwa ada panduan untuk membantu menjaga rumah tetap sejuk. Juru bicara tersebut menegaskan, “Babies and young children are more vulnerable to the effects of heat and guidance is available on how to help keep your home cool.”
Menurut pemerintah, bangunan tempat tinggal baru harus dirancang untuk meminimalkan panas yang tidak diinginkan dari matahari. Pemerintah juga menyebut desain harus memungkinkan jendela dibuka ketika suhu di luar lebih dingin daripada di dalam agar panas berlebih bisa keluar. Juru bicara tersebut mengatakan, “New residential buildings must now be designed to minimise unwanted heat from the sun and to allow windows to be open when it is cooler outside than inside to remove excess heat.”
Selain itu, pemerintah juga menyebut memperpanjang hibah Boiler Upgrade Scheme untuk air-to-air heat pumps yang dapat mendinginkan sekaligus memanaskan rumah. Juru bicara pemerintah menambahkan, “We are also extending the Boiler Upgrade Scheme grants for air-to-air heat pumps, which can cool as well as heat homes, so these low-cost options are more accessible.”
Di tengah berbagai rekomendasi tersebut, keluarga seperti Bylett tetap berhadapan dengan kenyataan bahwa rumah yang terlalu panas bisa mengubah keputusan besar dalam kehidupan, termasuk rencana memiliki anak lagi. Dengan suhu yang terus melampaui ambang yang disarankan untuk tidur bayi, ketakutan mereka bukan sekadar soal hari ini, tetapi juga tentang apa yang akan terjadi pada musim-musim panas berikutnya.












