jurnalistik.co.id – King Charles dan Queen Camilla tidak akan tinggal di Buckingham Palace setelah renovasi besar selesai tahun depan. Pihak istana menyebut, keduanya akan tetap menjadikan Clarence House sebagai hunian resmi mereka.
Renovasi yang bernilai £369 juta itu merupakan bagian dari program perbaikan selama 10 tahun. Pejabat mengatakan pekerjaan tersebut dijadwalkan rampung pada bulan Maret.
Menurut keterangan akun kerajaan terbaru, Buckingham Palace nantinya tetap berfungsi sebagai pusat administrasi pemerintahan monarki. Sementara itu, keputusan King untuk mempertahankan Clarence House sebagai rumah resminya diambil agar akses publik ke kawasan bersejarah tersebut bisa diperluas.
āKeputusan ini diambil untuk memungkinkan akses publik yang lebih besar ke landmark tersebut,ā demikian penjelasan pihak pejabat. Mereka juga menyoroti pertimbangan keamanan, termasuk dampak bila King berstatus penghuni di Buckingham Palace.
Keamanan disebut bisa membatasi jumlah pengunjung sekaligus mengurangi area yang dapat dilihat masyarakat. Di saat yang sama, pihak istana menyatakan peluang pembukaan bangunan untuk periode yang lebih panjang dapat meningkatkan pendapatan.
Dalam skema yang disebut berjalan, Buckingham Palace saat ini membuka State Rooms kepada pengunjung setiap musim panas. Selain itu, istana juga menyediakan tanggal tertentu di sepanjang periode lainnya dalam setahun.
Renovasi juga diarahkan untuk mengganti sejumlah infrastruktur yang menua, seperti kabel-kabel lama, pipa timbal, instalasi pengkabelan, dan boiler. Banyak komponen tersebut baru akan diperbarui untuk pertama kalinya dalam 60 tahun terakhir, setelah kekhawatiran terkait potensi kerusakan akibat kebakaran dan air.
King dan Queen telah tinggal bersama di Clarence House sejak pernikahan mereka pada tahun 2005. Bangunan itu berdiri berdampingan dengan St Jamesās Palace, dan sebelumnya pernah menjadi rumah Queen Mother.
Ketika keduanya sama-sama kini berada pada usia akhir 70-an, dipahami bahwa mereka tidak ingin mengulang gangguan besar berupa pemindahan diri serta staf mereka ke Buckingham Palace. Pilihan itu sekaligus dipandang sebagai langkah yang lebih stabil untuk kelangsungan kegiatan harian kerajaan.
Meski tidak tinggal menetap, King tetap akan menggunakan Buckingham Palace untuk rangkaian acara resmi. Pihak istana menyebut akan ada berbagai pertemuan, mulai dari state banquets dan garden parties hingga resepsi serta audiensi dengan Perdana Menteri maupun duta besar baru.
Seorang juru bicara istana juga menegaskan bahwa Buckingham Palace tetap memegang posisi penting dalam kehidupan kerajaan. āHis Majesty retains huge affection for Buckingham Palace and a deep respect for its role in royal and public life,ā kata juru bicara tersebut, yang menambahkan bahwa āIt will be a buzzing hive of royal activity in every other wayā.
Dalam konteks kegiatan ketika King berada di London, Royal Standard akan dikibarkan dari Buckingham Palace dan Clarence House. Pernyataan ini menjadi penanda bahwa peran kedua lokasi tetap terhubung dengan rutinitas pemerintahan monarki.
James Chalmers, keeper of the Privy Purse, menjelaskan bahwa di bawah rencana yang disampaikan, King dan Queen akan memiliki akses ke ruang privat di dalam istana. Ruang tersebut disebut bisa dipakai untuk beristirahat selama jam kerja, dan berpotensi digunakan sebagai akomodasi hunian di masa mendatang.
Chalmers menambahkan bahwa ini merupakan perubahan dari praktik sebelumnya sekaligus pengakuan terhadap kebutuhan masa depan. Ia menekankan bahwa dalam hal lain, Buckingham Palace tetap menjadi pusat seremonial sekaligus operasional kehidupan kerajaan.
Langkah terkait tempat tinggal ini juga tercantum dalam dokumen yang merinci akun kerajaan. Di dokumen tersebut, King menjadi raja pertama yang merilis pembayaran pajaknya.
Dinyatakan bahwa King berada di antara 100 pembayar pajak teratas di Inggris pada periode 2024-25. Untuk periode tersebut, ia membayar £12,9 juta, sementara pada 2023-24 jumlahnya tercatat £11,7 juta.
Dokumen yang sama juga menunjukkan adanya peningkatan Sovereign Grant, yakni dana negara untuk mendukung monarki. Uplift sementara pada core amount Sovereign Grant diberlakukan mulai 2017 sebagai pendanaan untuk overhaul Buckingham Palace.
Seiring renovasi mendekati akhir, level total Sovereign Grant disebut akan turun dari £137,9 juta menjadi £99,9 juta pada 2027-28. Kendati demikian, angka baru itu disebut tetap hampir dua kali core grant sebesar £51,8 juta pada 2024-25, serta lebih tinggi dari core grant £72,1 juta pada 2025-26.
Pihak istana menyebut peningkatan tersebut membantu membayar penumpukan kebutuhan pemeliharaan di istana-istana kerajaan yang dihuni. Selain itu, dana juga diarahkan untuk memperkuat keamanan siber pada kediaman kerajaan serta pemasangan sistem pemanas yang lebih efisien secara energi.
Lebih lanjut, sekitar £11 juta juga dialokasikan untuk mengganti boiler di Windsor Castle yang mendekati akhir masa pakainya. Rincian ini menunjukkan bahwa program pemeliharaan tidak hanya terbatas pada Buckingham Palace.
Dalam catatan sejarah, tidak ada raja atau ratu yang memilih tinggal di luar Buckingham Palace sejak masa pemerintahan Queen Victoria. Victoria menjadi monarki pertama yang menggunakan Buckingham Palace sebagai kursi resmi pengadilan pada 1837.
Setelah menikah dengan Prince Albert, Victoria kemudian mengubah bangunan berjumlah 775 kamar tersebut agar dapat menampung keluarga sekaligus melayani kegiatan menjamu tamu dan menjalankan urusan resmi. Meski demikian, setelah wafatnya suami, Victoria disebut tidak berada di Buckingham Palace dalam waktu yang cukup lama.
Buckingham Palace juga memiliki keterkaitan erat dengan Queen Elizabeth II. Ia disebut melahirkan calon Putra Charles dan Putra Andrew di istana tersebut, serta memiliki sebuah apartemen di dalam kediaman.
Dengan keputusan pasca-renovasi ini, Buckingham Palace tetap diharapkan menjalankan fungsi pusat simbolik dan operasional kerajaan. Sementara Clarence House akan menjadi rumah resmi King dan Queen, tepat ketika pekerjaan renovasi senilai £369 juta ditargetkan selesai pada bulan Maret.









